
Sementara itu di sana, Marvel dan Melati sudah bersiap untuk menyantap makanan yang sudah mereka pesan.
Marvel mendadak bingung, karena Melati sama sekali tidak bosan, ketika ia mengajaknya untuk makan pecel lele di pinggir jalan ini.
“Mel, kok kamu gak bosen sih makan pecel lele setiap hari?” tanya Marvel penasaran dengan jawaban Melati.
Melati menyedot sedikit air minumnya dengan sedotan, “Gak kok, Rus,” jawabnya seadanya, sembari meletakkan kembali gelas yang sedang ia pegang, ke atas meja.
“Kalau sama aku ... bosen, gak?” tanya Marvel, sontak membuat Melati terdiam sembari menatapnya.
Per sekian detik pandangan mereka pun bertemu. Melati memandang mata indah Marvel, dengan perasaan yang aneh saat ini. Ia tidak menyangka, sosok Rusdi itu menanyakan perihal keadaan mereka saat ini.
“Enggak, gak bosen,” jawab Melati, ekspresinya seperti sedang tersihir dan menjadi agak blak-blakan di hadapan Marvel.
__ADS_1
Marvel tersenyum hangat, karena ia khawatir jika pendekatannya kali ini membuat Melati bosan, atau bahkan menjadi risih.
“Kalau selama beberapa waktu ini gak bosen, seterusnya bakal tetap gak bosen, gak?” tanya marvel lagi, wajah Melati memerah karena malu.
“Maksudnya apa, Rus?” tanya Melati, yang tidak mau ke-GR-an sendiri dengan pemikirannya itu.
Marvel menghela napasnya dengan panjang, sembari merogoh sebuah benda kotak berwarna merah yang berada di saku celananya.
Marvel memperlihatkan benda yang ada di dalam benda merah tersebut ke arah Melati, sontak membuat Melati mendelik tak percaya melihatnya.
Melati menutup mulutnya dengan kedua tangannya, saking tidak percayanya ia dengan yang Marvel lakukan.
Situasi di dalam tenda pecel lele ini, sangatlah kurang kondusif. Banyak sekali suara bising kendaraan, yang mengganggu kualitas percakapan mereka.
__ADS_1
Walaupun sanggup dan sangat mampu reservasi tempat makan malam seperti Marcel waktu itu, ia sama sekali tidak ingin menunjukkan kemewahan tersebut pada Melati.
Marvel memandang dalam ke arah Melati, “Mel, aku gak mau banyak berkata-kata. Aku ... mau kamu jadi istri aku,” ucapnya, “apa kamu bersedia?” tanyanya untuk mendapatkan penjelasan.
Melihat Marvel yang menunjukkan sebuah cincin di hadapan Melati, Marcel pun merasa kaget, dan tidak percaya kalau ternyata hubungan mereka sampai ke tahap ini. Langkahnya membiarkan urusan Marvel itu, malah membuat Marvel semakin dekat untuk mendapati apa yang ia inginkan.
“Sial Marvel! Dari kemaren gue diemin, ternyata dia malah ngelamar Melati! Gak bisa dibiarin!” gumamnya yang merasa kesal dengan keadaan ini.
Matanya semakin menajam ke arah mereka, “Gue gak akan biarin Marvel mendapatkan apa yang dia pengen. Lagipula Melati itu janda mandul, mereka pasti gak akan punya anak setelah menikah nanti. Percuma nanti mereka menikah, kalau gak bisa menghasilkan keturunan!” ujarnya yang berpikiran seperti itu terhadap Melati.
Marcel pun pergi dari sana, berniat untuk menyampaikan berita ini kepada keluarganya.
Sementara itu, Melati sedang dilanda rasa bahagia, sekaligus dilema. Ia merasa bingung, karena sosok Rusdi ini sama sekali belum mengenalnya dengan dekat.
__ADS_1
“Gimana, kamu mau ‘kan, Mel?” tanya Marvel sekali lagi, membuat Melati terdiam sendu mendengarnya.
Melati hanya bisa memandangnya dengan tatapan sendu, karena ia bingung harus mengatakan tentang status dirinya yang sudah janda, atau tidak.