Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Fitnah Lucknut


__ADS_3

Rachel sampai di hadapan kerumunan, berusaha untuk menyita perhatian dari mereka yang sedang mempertanyakan di mana Melati berada.


Rachel berdeham, “Lagi pada ngapain nih di sini? Bukannya kerja malah ngerumpi!” tegurnya, yang berpura-pura bersikap professional di hadapan para juniornya.


Mereka membuka barisan, berusaha memberikan ruang kepada Rachel yang baru saja datang.


“Ini Bu Rachel, kita nungguin Melati dari tadi belum dateng-dateng. Padahal waktu istirahat udah lewat setengah jam lalu,” ujarnya menjelaskan.


Rachel agak menyunggingkan senyumannya, “Oh ya? Pantesan saya lihat tadi dia lagi asik teleponan di toilet lantai dasar,” ucapnya mulai membuat drama yang buruk tentang Melati.


Tiba-tiba saja Marvel datang dari kejauhan, mendengar ucapan Rachel yang terdengar asal.


‘Melati teleponan di toilet? Sama siapa? Jadi, dia izin ke toilet tadi untuk teleponan?’ batin Marvel, yang pikirannya sudah traveling ke mana-mana.

__ADS_1


Marvel bukan marah dengan Melati karena Melati terlambat masuk ke ruangannya, tetapi ia marah dan curiga karena ia mengira Melati hendak menghubungi kekasihnya melalui telepon.


‘Setengah jam? Gak mungkin ngobrol sama keluarganya sampai setengah jam. Pasti ngobrol sama lelaki lain!’ batin Marvel, yang mulai timbul kecurigaan dan rasa cemburu di hatinya.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Rachel yang terdengar sangat asal. Mereka sampai bertanya-tanya, karena Melati yang kelihatannya polos dan selalu bekerja keras, ternyata mencuri-curi waktu untuk menelepon seseorang pada jam kantor.


“Masa sih Melati teleponan sama orang di jam kantor?”


“Iya? Teleponan sama siapa sih?”


Mereka sangat tidak mempercayai ucapan Rachel, karena mereka sangat mengenal Melati walaupun Melati baru bekerja selama tiga hari di kantor ini. Namun, setiap ada pekerjaan apa pun yang mereka berikan kepada Melati, pasti selalu diselesaikan dengan baik oleh Melati.


Rachel menghela napasnya, “Kalau gak percaya, ya sudah. Saya ‘kan cuma kasih informasi aja. Terserah kalian aja yang mikirnya gimana,” ujarnya dengan nada yang pasrah.

__ADS_1


Mereka terlihat berbisik, membuat Rachel tersenyum sinis melihat mereka yang sepertinya memiliki spekulasi sendiri terhadap Melati, saat ini.


Sementara itu, Marvel sedikit terbakar api cemburu. Ia merasa sedikit marah, tetapi ia berusaha mengendalikan emosinya karena ia menyadari dirinya yang memang bukan siapa-siapa bagi Melati saat ini.


‘Tahan, lo bukan siapa-siapa Melati. Masih belum,’ batin Marvel, yang berusaha untuk menahan rasa cemburunya terhadap Melati.


Marvel pun pergi dari sana, meninggalkan Rachel dan kawan-kawan di sana. Ia hendak menuju ke ruangannya, untuk mengerjakan pekerjaannya kembali.


Karena dirinya yang memerlukan bantuan Melati, ia akhirnya menuju ke ruangan Melati. Namun, tak disangka, ia malah mendapati Melati yang tidak ada pada tempatnya.


Akhirnya, Marvel kembali ke ruangannya. Ia hanya bisa mondar-mandir tidak jelas, karena Melati yang ternyata tidak ada di mejanya.


“Melati teleponan sama siapa? Kenapa teleponan lama banget sampe setengah jam? Kalau teleponan sama keluarganya gak akan mungkin,” gumam Marvel yang merasa sangat over thinking.

__ADS_1


Marvel seperti setrikaan, yang terus mondar-mandir di ruangannya untuk memikirkan soal Melati. Ia sama sekali tidak marah, jika Melati terlambat pergi ke ruangannya, tetapi ia cukup marah karena mengetahui Melati yang menghubungi seseorang yang sama sekali tidak ia ketahui.


“Masa sih, Melati punya pacar?” gumamnya bertanya-tanya.


__ADS_2