
Marvel mengantarkan Melati ke gedung kantor sebelah, menggunakan motor butut yang ia pakai untuk menunjang penyamarannya itu. Melati sama sekali tidak risih ataupun malu, karena ia merasa sudah nyaman dengan sosok Rusdi yang diperankan oleh Marvel itu.
Mereka mengambil jalan memutar pada gang kecil, karena ia tidak ingin terlalu jauh mengikuti jalan yang biasa mobil lewati.
Tepat di depan jalan menuju ke arah jalan besar, motor tersebut mogok, sehingga membuat Marvel merasa bingung harus berbuat apa.
“Yah kok gini ....” Marvel mendadak bingung.
Tak hanya Marvel, Melati juga sangat kebingungan karena motor ini yang tiba-tiba saja berhenti dan tidak mau berjalan lagi.
“Kenapa, Rus? Kok motornya mati?” tanya Melati, Marvel menurunkan standar motor tersebut.
“Bisa tolong turun sebentar?” pinta Marvel, Melati pun mengangguk kecil lalu segera turun dari motor tersebut.
Marvel mencoba untuk membenarkan mesin motor tua itu, dan agar bisa segera sampai ke tempat tujuan mereka.
__ADS_1
“Bisa gak, Rus?” tanya Melati yang merasa kebingungan dengan keadaan ini.
“Masih dicoba, Mel,” jawab Marvel, yang masih tetap mencoba untuk membenarkan mesin tersebut.
Dari arah sana, terlihat sebuah mobil hitam yang berhenti di hadapan mereka. Di dalamnya, terlihat Martin dan juga Ria yang sedang memandang mereka dengan tatapan meledek.
“Wah ... siapa ini? Melati bukan, yah?” tanya Martin dengan nada yang terdengar sangat meledek.
Mendengar ucapan Martin dengan nada yang seperti itu, Melati pun menjadi ketakutan dan agak malu, kalau saja Martin mengatakan hal yang sebenarnya di hadapan Rusdi, sama seperti saat ia mengatakannya pada Marcel.
‘Ada Mas Martin! Gimana ini?’ batin Melati yang merasa sangat bingung harus bagaimana lagi.
Ingin sekali Marvel mengunyah isi otak dari Ria, karena ia sudah merasa sangat jengkel mendengar celaan Ria kepada Melati itu.
“Yah ... gak malu apa? Kemarin katanya sih ... pacaran sama manajer perusahaan sebelah, eh ... gak taunya sekarang turun derajat, pacaran sama OB,” tambah Martin, membuat Melati merasa sangat kesal mendengarnya.
__ADS_1
Walaupun Melati sangat kesal mendengar ucapan Martin, ia sama sekali tidak memedulikan ucapannya.
Berbeda dengan Melati, Marvel justru sangat kesal dan tidak bisa menerima ucapan sarkas mereka.
‘Awas aja mereka!’ batin Marvel, yang benar-benar akan membuat perhitungan pada Ria dan juga Martin.
Marvel kembali mencoba motor bututnya itu, dan ajaibnya motor tersebut langsung menyala seketika.
“Udah nyala nih motornya, Mel! Ayo, kita pergi dari sini!” ajak Marvel, yang sudah kepalang kesal dengan ucapan mereka.
Melati yang sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya bisa menurut dengan yang Marvel pinta. Ia naik dan kembali duduk pada motor butut itu, lalu mereka pergi meninggalkan Ria dan juga Martin di sana.
“Huuhh ... dasar mandul!” teriak Martin, yang untung saja tidak terdengar Melati dan Marvel.
Ria memandang ke arah Martin, “Udah yuk, kita pergi aja!” ujarnya, membuat Martin tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Okay, Baby!”
Karena sudah tidak ada apa pun lagi yang bisa mereka kerjakan, Martin pun kembali menutup kaca mobilnya, dan segera meninggalkan tempat tersebut.