Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Tak Rela


__ADS_3

Matanya menajam ke arah Marvel, ‘Kak Marvel, kenapa Kakak gak mau melihat keberadaan aku? Aku sangat mencintai Kak Marvel, kenapa Kakak gak mau lihat aku? Kenapa malah ngelihat janda itu?’ batinnya, yang merasa kalah saing dengan seorang janda.


Sementara itu, Marcel memandang ke arah Laura, yang sedang memandangi ke arah Marvel. Ia merasa sangat kesal, karena Laura yang masih saja mengejar Marvel.


‘Ih, kenapa dia masih aja sih ngejar Bang Marvel? Udah berapa tahun gue nunggu dia balik ke negara ini, kenapa yang dia cari tetep Marvel?’ batin Marcel dengan sinis, yang memang sejak dulu sudah mengejar-ngejar sosok Laura.


Hubungan mereka merupakan cinta segitiga, yang tidak mereka sadari. Namun, Marvel sama sekali tidak memedulikannya, walaupun sejak dulu Marcel sudah sering mengatakan perasaan yang dimilikinya untuk Laura.


Marvel benar-benar tidak memedulikannya.


Ayahnya mendelik kesal ke arahnya, “Papa gak suka kamu masih dekat dengan si janda mandul itu, Marvel! Jangan sampai Papa bertindak kasar sama kamu, ya!” bentaknya, membuat Marvel tidak memedulikan apa pun yang Ayahnya katakan.


“Marvel gak peduli, dengan apa yang Papa dan Mama katakan! Marvel tetap mau memperjuangkan cinta Melati, sampai cinta kami benar-benar tidak bisa diperjuangkan lagi!” ujarnya bersikeras, sontak membuat mereka mendelik mendengarnya.

__ADS_1


“Marvel! Kenapa kamu jadi keras seperti ini, Nak?” bentak Ibunya, Marvel memandang ke arah Ibu tercintanya itu.


“Maafin Marvel, Mah. Selama ini Marvel sudah menurut dengan apa yang Mama dan Papa katakan. Sekarang, Marvel mau ngejar kebahagiaan Marvel sendiri, dan gak mau diatur soal cinta sama kalian,” ujarnya, terpaksa mengatkan hal seperti ini di hadapan mereka.


Laura menjadi bertambah melotot. Ia kesal, karena Marvel yang ternyata benar-benar tidak memedulikan hati dan perasaannya.


“Kak Marvel, kenapa sih? Kenapa gak pernah lihat aku? Ada aku di sini, lho!” bentak Laura tiba-tiba, yang merasa sudah tidak tahan lagi untuk menahan perasaannya.


“Sudah, kau jangan ikut campur!” bentaknya, dengan mata yang memelotot, berwarna merah padam.


Melihat ekspresi Marvel, Laura pun mendelik kaget dengan tangan dan tubuhnya yang seketika bergetar.


Laura berusaha untuk menahan dirinya, “Aku gak nyangka, Kak Marvel ternyata orang yang kasar!” bentaknya, Marvel sama sekali tidak memedulikan hal itu.

__ADS_1


“Saya memang kasar. Lantas, apa masalahnya dengan kamu?” tanya Marvel ketus, membuat Laura tidak bisa menerimanya.


Melihat sikap Marvel kepada Laura, sontak saja membuat Marcel mendelik tak terima dengan apa yang Marvel katakan.


Marcel segera bangkit dari tempat ia duduk, “Jaga bicara lo sama Laura, ya!” bentak Marcel, sembari menunjuk kasar ke arah Marvel.


Marvel yang memang perasaannya sedang tidak enak, kebetulan sekali ingin mencari pelampiasan untuk masalah yang sedang terjadi padanya.


Marvel bangkit dan memandang sinis ke arah Marvel, “Buat apa gue jaga ucapan gue, sama orang yang maksain perasaannya? Gue gak suka, tapi kenapa dia selalu maksa?” ujarnya tak kalah sinis dengan yang dikatakan Marcel.


Marcel benar-benar tidak terima, kalau Marvel sampai berbuat kasar dengan orang yang sangat ia sukai.


“Kalau lo gak suka, paling enggak lo gak harus bentak dia! Umur doang lo tua, kelakuan lo kayak anak kecil!” bentak Marcel, ‘lah membuat emosi Marvel terpacu mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2