Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Nafsu Makan Melonjak


__ADS_3

Mereka sudah sampai di tempat biasa mereka makan makanan tersebut. Marvel keluar dari mobilnya, yang sudah lama tidak ia gunakan itu.


Saat mendekati Melati, Marvel lebih sering menggunakan motor milik satpam komplek perumahannya. Ia jadi tidak terbiasa lagi mengendarai mobil, saking sudah terbiasanya berboncengan dengan Melati.


‘Rasanya sangat aneh,’ batin Marvel, sembari melangkah keluar dari dalam mobilnya.


Marsha memesan dua porsi nasi, dan beberapa makanan pendukung lainnya seperti tempe, tahu, sate-satean dan terakhir ia memesan dua gelas es teh manis.


Setelahnya, Marsha duduk manis di hadapan Marvel dengan memandang sambil berpangku tangan. Ia memandang Marvel dengan senyuman yang memesona, membuat Marvel menjadi bingung melihatnya.


“Kenapa kamu?” tanya Marvel bingung melihatnya.


“Gak apa-apa. Ini ... Abang yang bayar, kan?” tanyanya memastikan, sontak membuat Marvel mendelik kaget mendengarnya.


“Heh, kau kan sudah Abang temani, kenapa Abang pula yang harus bayarin makanan kau itu!” ujar Marvel dengan setengah ketus, menggunakan logat Medan, seperti saat ia biasa berbicara dengan Andre.


Marsha tertawa kecil, “Ah, Bang Marvel ngomongnya kenapa mirip kayak Bang Andre, sih?” tanyanya, sontak membuat Marvel mendelik kaget mendengarnya.

__ADS_1


“Heh, kamu kenapa tau banget soal Andre?!” pekik Marvel, Marsha mendadak takut mendengar pekikan Marvel yang seperti itu.


Marsha memang menjalani hubungan backstreet dengan Andre, tanpa sepengetahuan dari Marvel. Bahkan sebelum Marsha mengajak Marvel ke tempat ini, Andre sudah lebih dulu mengajaknya ke sini, dan sering makan bersama di tempat ini.


Tempat pecel lele ini, sudah sangat mengena di hati mereka.


Makanan mereka sudah diantarkan, membuat Marsha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Ah ... makanan udah dianterin, nih! Ayo makan!” ajak Marsha, membuat Marvel memandangnya dengan pandangan yang menyelidik.


Beberapa saat memandang ke arah Marsha, ia pun mengalihkan pandangan dari adik bungsunya itu.


Marsha menyeringai, sembari mengambil makanan yang ia sukai. Ia menunjukkan lele jumbo yang super besar di hadapan Marvel, membuat Marvel melirik-lirik sedikit ke arah tangannya.


“Beneran gak mau? Ini gede banget, lho, lelenya!” ujar Marsha, sembari menunjukkannya ke arah Marvel.


Marvel melirik sedikit, lalu segera mengalihkan pandangannya dari arah Marsha.

__ADS_1


“Gak mau! Abang lagi mogok makan!” tolaknya, membuat Marsha tak mau ambil pusing membujuknya lagi.


“Ya sudah, kalau Abang gak mau, biar aku yang makan semuanya,” ujar Marsha dengan perkataannya yang seadanya.


Gadis cantik itu segera melahap makanan yang sudah ia pesan tadi, sehingga membuat Marvel yang melihatnya menjadi sangat ingin makan juga.


KRUK!


Cacing di dalam perutnya sudah terdengar berdemo, tetapi Marvel masih enggan untuk memberi makan mereka.


Melihat Marsha yang makan dengan lahap, Marvel tidak tahan lagi untuk melahap bagiannya juga.


Tempe dan tahu goreng yang ada di hadapannya itu, terlihat sangat menggiurkan. Belum lagi lele dengan ukuran yang jumbo, membuat nafsu makannya meningkat drastis, tanpa peduli apa yang sedang ia pikirkan.


‘Saya gak mau makan!’ batin Marvel, yang masih bersikeras untuk menahan rasa laparnya.


Salivanya tak sadar tertelan, ketika ia melihat gerakan mulut Marsha yang sangat bar-bar saat melahap santapannya. Sambal tomat yang tidak terlalu pedas, membuat seleranya tergugah.

__ADS_1


Marvel sudah tidak bisa menahan nafsu makannya kali ini.


__ADS_2