
Disambarnya kerah kemeja yang Marcel pakai, membuat Marcel merasa sangat kaget karena sikap Marvel itu.
“Apa lo bilang? Kenapa bawa-bawa umur?! Semuanya gak bisa disamaratakan! Gue begini, bukan karena umur gue, tapi karena sikap dia udah berlebihan! Gue masih mau ngalah, dengan nganterin dia pulang waktu itu. Padahal, gue udah capek banget! Sekarang apa? Lama-lama makin kurang ajar! Makin maksain perasaannya sama gue!” bentak Marvel, sontak membuat Laura mendelik tak percaya, sembari menahan air matanya yang hampir jatuh.
“Lo harusnya bersyukur! Gak semua orang bisa dapetin Laura, termasuk gue!” bentak Marcel, membuat mata Marvel mendelik ke arahnya.
“Kalau lo mau sama dia, ambil! Gue gak butuh dia! Satu hal yang perlu lo tau, jangan pernah rebut Melati dari gue!” bentak Marvel, sontak membuat Laura merasa denyutan yang sangat sakit, di jantungnya.
Air mata Laura jatuh, menandakan rasa sakitnya yang sudah terlalu dalam. Sia-sia pengorbanan dan waktu yang sudah ia berikan untuk Marvel.
Namun, Laura tidak menyangka, kalau ternyata Marcel menyukainya. Selama ini, ia tidak menyadari, apa yang sudah dibuat Marcel padanya.
__ADS_1
Kebaikan Marcel padanya, hanya dianggap angin lalu saja. Laura hanya berfokus pada Marvel, karena hanya Marvel yang ia sayangi.
Marcel meraih kerah kemeja Marvel, karena ia juga merasa sangat kesal dengan ucapan Marvel.
“Lo gak bersyukur! Orang yang udah nunggu lo dari kecil, orang yang selalu kasih perhatiannya buat lo, orang yang selalu mencintai lo, masa kalah sama orang baru dalam hidup lo? Apa lo gak menghargai itu, hah?!” pekik Marcel, Marvel membuang pandangannya darinya.
“Gue gak suka sama dia. Kalau lo mau, ambil!” ujar Marvel lagi menegaskan, membuat Laura semakin menangis mendengarnya.
Melihat Laura yang menangis, Marcel pun menjadi sangat tidak tega.
Ucapan Marcel terpotong, karena Marvel yang tidak tahan mendengar ucapan Marcel itu. Marvel meninju Marcel, dengan tangan kanannya –tanpa aba-aba– sehingga membuat Marcel jatuh tersungkur ke atas lantai.
__ADS_1
Marcel terbatuk, karena pukulan Marvel yang terlalu keras, membuatnya merasa sangat kaget dan meringis kesakitan.
Tangannya menunjuk kasar ke arah Marcel, “Jaga mulut lo, ya! Melati gak mandul! Melati bisa punya anak! Melati sama sekali gak mandul!” bentaknya, membuat semua orang yang ada di sana, mendelik kaget mendengarnya.
“Informasi dari siapa lo? Gue udah tau, kenapa dia sampai diceraikan sama Martin, itu karena dia mandul! Gak bisa punya anak!” bentak Marcel, Marvel tak bisa menerimanya lagi.
Marvel menunjuk kasar kembali ke arahnya, “Eh lo! Sekali lagi lo ngomong gitu, gue hancurin rahang lo!” ancam Marvel, membuat Marcel terdiam sedikit takut mendengarnya.
Melihat mereka bertengkar, Marsha pun bergegas untuk memisahkan keduanya. Namun, belum sempat Marsha melangkah, Marvel sudah menunjuk ke arah Marsha dengan kasar.
“Abang--”
__ADS_1
“Diam, Marsha! Ini urusan Abang sama dia!” bentaknya sinis, membuat Marsha terdiam mendengarnya, dan tidak bisa berbuat apa pun lagi soal ini.
Marvel memandang ke arah kedua orang tuanya, “Mah, Pah, Melati gak mandul! Melati bisa punya anak! Ini semua karena dia sangat sayang sama mantan suaminya, makanya dia ngaku kalau dia yang gak bisa punya anak. Padahal, Martin yang gak bisa menghasilkan benih yang bagus!” bentak Marvel, membuat mereka semua kaget mendengarnya.