Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Pembulian 2


__ADS_3

Setengah jam berlalu, tetapi Melati masih juga belum keluar dari toilet itu. Karena handphone-nya yang ia tinggalkan di tasnya, yang ia letakkan di atas mejanya, Melati jadi tidak bisa menghubungi siapa pun.


Baju yang basah kini kembali kering, Melati merasa gatal-gatal pada tubuhnya. Belum lagi bau yang dikeluarkan terasa sangat busuk.


Bagaimana tidak? Air yang dipakai Rachel untuk menyiram Melati, adalah air sisa mengepel lantai yang sangat kotor dan bau. Air itulah yang membuat baju Melati menjadi bau semerbak seperti saat ini.


‘Udah setengah jam aku di sini. Baju yang basah jadi kering lagi. Sekarang udah bau juga. Gimana caranya aku keluar? Gak akan bisa aku keluar dengan baju yang begini!’ batin Melati, masih jugat tidak bisa berbuat apa pun.


Tidak ada siapa pun yang masuk ke dalam toilet ini, sehingga Melati tidak bisa meminta bantuan pada mereka.


‘Kalau ada orang, dari tadi pasti aku udah minta tolong sama mereka,’ batin Melati yang benar-benar sangat takut tidak bisa keluar dari toilet ini.

__ADS_1


Sementara itu, Rachel sedang memperhatikan pintu toilet itu dari jauh. Ia memandang kertas yang tertempel di pintu tersebut, bertuliskan, ‘toilet rusak’ yang sengaja ia tempelkan di sana. Ia membuat semua orang yang melihatnya menjadi tidak ada yang mau masuk ke dalamnya.


Rachel dan temannya menyeringai sinis, karena melihat Melati yang belum juga keluar dari ruangan itu. Mereka merasa sangat puas, karena sudah berhasil mem-bully Melati.


“Belum keluar juga dia dari tadi? Betah dia di toilet?” tanya teman Rachel setengah meledek.


“Gimana mau keluar? Dia pasti gak akan bisa keluar dengan baju yang bau begitu! Apalagi dari tadi memang gak ada orang, jadi gak akan bisa dia minta tolong sama siapa pun,” jawab Rachel dengan tawa yang sangat puas, membuat temannya juga ikut tertawa dengan puasnya bersamanya.


Rachel memandang temannya, “Udah yuk! Udah jam masuk kantor. Lagian ngapain kita di sini lama-lama, ya kan?” ajaknya, temannya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mereka pun pergi dari sana, meninggalkan Melati sendirian di sana. Mereka dengan teganya melakukan hal itu pada Melati, padahal Melati sama sekali tidak membuat kesalahan dengan mereka. Semua kemarahan Marvel saat di ruangan aula waktu itu, murni karena Rachel yang sangat ingin merasa dipuji oleh Marvel. Kalau Rachel tidak berbicara seperti itu untuk mengusir Melati dari sana, mungkin ia tidak akan mendapatkan omelan dari Marvel, yang bisa membuatnya malu di hadapan semua orang yang ada di aula tersebut.

__ADS_1


Mereka sampai di ruangan area Melati bekerja. Di sana, sudah banyak orang yang sedang mencari Melati, untuk membantu mereka mengerjakan apa yang menjadi tugas Melati.


“Melati mana, sih?” tanya mereka.


“Gak tau. Ini juga gue lagi nungguin dia, buat bikinin bahan buat presentasi.”


Mereka benar-benar sedang menunggu kedatangan Melati. Jam istirahat sudah selesai, tetapi Melati belum juga sampai di mejanya, membuat mereka bertanya-tanya tentang keberadaannya.


“Dari kemarin dia on time, gak telat setelah jam istirahat. Sekarang dia ke mana, ya?” tanya mereka pada yang lainnya.


“Iya bener, mana dia?”

__ADS_1


Rachel menyunggingkan senyumannya, karena merasa harus membuat nama Melati tercoreng di hadapan mereka.


‘Gue punya ide!’ batinnya, yang langsung menghampiri ke arah kerumunan orang yang ada di sekitar meja Melati.


__ADS_2