Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Saingan Berat


__ADS_3

Melati sangat kaget, karena ia mendengar Bapak yang berteriak ada tamu yang datang ke rumah mereka. Melati berpikir, kalau itu adalah Marcel.


‘Wah, itu Pak Marcel kali! Kenapa dia ke sini? Kenapa gak tunggu di depan gang aja?’ batin Melati, yang merasa sangat kaget mendengar ada tamu yang datang ke rumahnya.


“Mel ... ada tamu, nih!” teriak Bapak lagi, semakin membuat jantung Melati berdebar mendengarnya.


Melati sangat takut jika orang tuanya berpikiran yang macam-macam tentang Marcel dan dirinya. Apalagi mengingat Marcel yang sikapnya seenaknya saja dengan siapa pun. Melati tidak ingin Marcel bersikap tidak baik kepada kedua orang tuanya.


‘Duh ... kalo Pak Marcel sikapnya gak baik di hadapan Ibu Bapak, gimana? Aku takut nanti Ibu Bapak berpikiran buruk sama dia,’ batin Melati, yang belum apa-apa sudah takut duluan dengan keadaan.


Ibu memandangnya dengan bingung, “Lah, kok bingung amat sih, Mel? Ayo, ada tamu tuh!” ujar Ibu, membuat Melati tak enak hati dengan Ibu.


“Ah? I-iya, Bu!” ucap Melati mengiyakan.


Melati keluar dari dalam kamarnya, bersama dengan Ibu, dengan jantungnya yang terus terpacu. Ia merasa sangat berdebar, khawatir Marcel bersikap tidak baik dengan mereka.


Sebelum mereka keluar dari dalam kamar Melati, Melati sudah menarik-narik tangan Ibu, karena ia tidak ingin keluar dari kamarnya untuk menemui Marcel.


“Bu ... Melati di kamar aja, deh!” rengeknya, membuat Ibu bingung mendengar ucapannya.


“Lho, itu ‘kan tamu kamu? Kenapa malah kamu yang di kamar?”


Melati hanya bisa menyeringai mendengarnya. Dengan sangat terpaksa, Melati bersiap untuk menemui orang yang katanya adalah tamunya.


Sesampainya di sana, Melati bingung dengan orang yang ada di hadapannya, yang ternyata bukanlah Marcel.

__ADS_1


“Melati!” sapa lelaki itu dengan sangat sopan, sembari membawa setangkai bunga mawar merah, dan juga kantung plastik berisi martabak cokelat kesukaan Melati, di tangannya.


Melati merasa sangat kaget, karena yang ia lihat di hadapannya kali ini adalah Bang Tigor, tukang kredit pakaian yang biasa mengitari lokasi perkampungan Melati.


“Lho, ada apa ke sini, Gor? Bukannya kalian mau ketemu di luar?” tanya Ibu, yang merasa bingung dengan keadaan.


Melati mengaduh dalam hati, merasa bingung dengan apa yang harus ia jelaskan pada kedua orang tuanya. Bapak pun bingung, dengan perkataan Ibu yang sama sekali tidak ia ketahui.


“Maksudnya, Melati mau ketemuan sama Tigor di luar, Bu?” tanya Bapak, membuat Tigor pun merasa kebingungan mendengarnya.


“Iya, Pak. Kata Melati tadi, dia mau ketemu sama Tigor, buat bayar cicilan yang masih ada. Melati juga sampai gak mau makan malam, karena mau ketemu sama Tigor,” jawab Ibu, membuat Melati merasa terpojok mendengarnya.


Melati hanya bisa menyeringai, sembari merasa kebingungan dengan jawaban yang akan ia lontarkan setelahnya.


‘Duh ... kenapa si Tigor beneran dateng ke sini, sih? Pas banget lagi momennya!’ batin Melati, yang mengaduh dalam hatinya.


“Emm ... anu ....”


‘Masa sih aku bilang mau bayar cicilan kutang? Malu banget gak sih?’ batin Melati, yang kebingungan sendiri jadinya.


Bapak memandang dan memperhatikan Tigor, yang memegang setangkai bunga di tangannya. Ia merasa bingung, dengan maksud dan tujuan Tigor datang ke rumahnya itu.


“Mau apa kau datang ke sini bawa bunga segala?” tanya Bapak, Tigor menyeringai sembari memainkan bunga yang ia pegang pada tangannya.


“Anu, Pak. Saya ... mau melamar--”

__ADS_1


“Permisi!” sapa seseorang, yang datang dari arah luar.


Semua mata tertuju padanya, membuat bingung semua orang yang ada di sana. Melati mendelik kaget, karena ternyata yang ia lihat adalah Marcel yang sesungguhnya, yang benar-benar datang ke rumahnya.


Melati mendelik kaget, karena kekacauan yang ia pikirkan sebelumnya, mungkin saja akan terjadi sebentar lagi. Ia tidak bisa menjamin keadaan akan tercipta dengan tenang, karena ia sangat mengetahui sikap dan sifat Marcel yang sangat otoriter.


‘Duh ... Pak Marcel jangan bikin ulah di rumah saya!’ batin Melati yang berteriak, sampai ia bingung harus berbuat apa.


Ibu Bapak memandang bingung ke arah Marcel, yang sedang berpenampilan rapi ditambah membawakan buket bunga dan juga beberapa kantung berisi makanan yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


“Maaf, mau cari siapa, ya?” tanya Bapak, Ibu mendekat ke arah Bapak, karena penasaran dengan sosok yang ada di hadapan mereka ini.


“Saya mau cari Melati, Bapak dan Ibu,” jawab Marcel dengan lembut, sontak membuat semua orang di sana terkejut mendengarnya.


Ibu Bapak yang terkejut mendengar Marcel mencari Melati, Melati yang terkejut karena ucapan Marcel yang sangat lembut, serta Tigor yang terkejut karena ia ternyata juga memiliki saingan yang jauh lebih baik dibandingkan dirinya.


Matanya tertuju pada penampilan Marcel yang sangat rapid an wangi, bunga yang ada di tangannya, serta kantung berisi makanan yang sudah ia persiapkan untuk keluarga Melati. Melihat penampilan Marcel, Tigor menjadi sangat tidak yakin dengan dirinya, yang akan diterima dengan baik di keluarga ini.


‘Duh ... kenapa saingan gue berat banget, sih? Kenapa rapi banget? Pake kemeja, celana, sepatu kulit, tuxedo, bawa bunga yang isinya banyak banget lagi! Bawa makanan juga tuh kayaknya di dalem kantongnya! Lah gue apa? Penampilan ala kadarnya, bawa bunga cuma setangkai, bawa martabak cuma yang harganya tiga puluh ribu. Aduh ... saingan gue berat banget. Mundur alon-alon!’ batinTigor, yang memang sudah lama berniat untuk mendekati Melati, apalagi mendengar keadaan Melati yang sudah janda itu, semakin menambah semangatnya untuk mendekati Melati.


Tigor benar-benar tidak tahu malu. Sudah memiliki banyak istri, tetapi masih mencoba untuk mendekati Melati.


Mendengar jawaban Marcel, Ibu dan Bapak menjadi sangat kebingungan. Mereka merasa sangat terkejut, karena ada seorang lelaki yang terlihat sangat kaya, dan juga tampan, yang mencari anak perempuan mereka satu-satunya yang sudah berstatus menjanda. Mereka benar-benar tak habis pikir. Baru hari pertama kerja, Melati sudah membawa temannya yang sangat keren bagi mereka itu.


Ibu mendekat ke arah Bapak, “Pak, gimana nih? Kenapa ada makhluk Tuhan sesempurna dia, nyariin Melati ya?” tanya Ibu, yang merasa sangat kaget dan bingung menghadapi Marcel yang menurutnya sangat sempurna itu.

__ADS_1


Berbeda jauh dari Martin, Marcel dan Martin seakan langit dan dasar bumi yang sangat jauh berbeda satu sama lain.


Bapak bergidik, “Bapak juga gak tahu, Bu! Masa sih, orang sesempurna ini temennya Melati?” bisik Bapak lagi kepada Ibu, yang tidak percaya dengan sosok Marcel yang ada di hadapan mereka.


__ADS_2