
Karena sudah mendengar penjelasan Melati, Marvel menjadi benar-benar sangat kesal dengan Rachel. Bukan hanya sekali ia melakukan hal seperti ini dengan Melati, tetapi ia mendengar dari banyak karyawan, kalau Rachel sering melakukan tindakan yang mengatasnamakan senioritas, di kantor ini.
‘Sepertinya harus sekalian membuat rencana. Saya mau menangkapnya sendiri dengan mata kepala saya,’ batin Marvel, yang merasa sangat penasaran dengan sikap seperti apa yang selama ini Rachel lakukan, pada karyawan baru.
Tak sengaja, Marvel melihat kepala Marcel yang mengintip dari celah jendela ruangannya. Ia merasa sangat bingung dengan yang Marcel lakukan, sehingga hanya bisa memandangnya dengan bingung saja.
‘Marcel kenapa ngintip begitu?’ batin Marvel, yang belum sadar dengan keadaan.
Ketika mencoba berpikir dengan keadaan ini, Marvel baru menyadari bahwa mungkin saja Marcel curiga dengan apa yang ia lakukan bersama dengan Melati di dalam ruangan tertutup seperti ini.
‘Oh ... mau ngintip Melati, ya?’ batin Marvel, yang akhirnya sangat bersemangat untuk memainkan permainan bersama dengan Marcel.
Permainan yang sudah lebih dulu dimulai oleh Marcel, saat ini Marvel memiliki kesempatan untuk memainkan gilirannya. Ia merasa senang meledek orang yang sudah lebih dulu meledeknya. Ia berniat untuk membuat Marcel merasa kalah dengannya.
‘Siapa suruh masih bandel deketin Melati? Udah saya peringati jangan, tetapi masih bandel juga,’ batin Marvel, yang merasa sangat menantikan reaksi Marcel saat ini.
“Aduh ....”
Muncul ide untuk membuat Melati simpatik padanya. Marvel melakukan adegan akting perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit, agar Melati mendadak simpatik padanya. Karena harus melakukan akting tersebut dengan totalitas, Marvel pun harus memegangi terus perutnya yang sakit.
Melati kaget dengan reaksi Marvel yang seperti itu, membuatnya hendak memegang lengan Marvel, tetapi berpikir kembali karena ia merasa tidak enak.
‘Ah ... masa megang-megang bos, sih? Gak sopan,’ batin Melati, yang akhirnya tidak jadi memegang lengan tangan Marvel.
“Pak Marvel kenapa?” tanya Melati, yang sangat khawatir dengan keadaan Marvel.
Marvel merasa akting perutnya sangat sakit itu berhasil membuat Melati merasa simpatik padanya. Marvel sedikit menyunggingkan senyumannya, karena Marcel yang ternyata sudah menyadari bahwa Marvel sudah mengetahui keberadaannya di sana.
‘Sial, si Marvel pasti cuma pura-pura, karena dia ngeliat gue di sini!’ batin Marcel, sembari tetap memandang ke arah mereka dengan ekspresi yang tidak senang.
Marvel kembali menjalankan aktingnya.
__ADS_1
“Duh ... Mel ... bisa tolong minta Sasha untuk membuatkan teh manis hangat?” pinta Marvel sembari menahan sakit pada perutnya.
Melihat yang sangat polos, ketika melihatnya menjadi sangat tidak tega dengan hal itu.
“Aduh ... biar saya aja yang buatin buat Pak Marvel, ya! Tunggu sebentar!” ucap Melati dengan segala inisiatif yang ia miliki.
‘Yes, kena!’ batin Marvel, yang memang sengaja agar Melati yang melakukannya atas kesadarannya sendiri. Ia ingin, agar keadaannya seakan bukan ia yang memaksa Melati untuk melakukannya.
“Makasih, Mel,” gumam Marvel sembari tetap melakukan aktingnya menahan sakit perutnya itu.
Melihat Melati yang hendak keluar dari ruangan Marvel, Marcel pun segera bersembunyi, khawatir Melati melihatnya. Ketika Melati sudah keluar dan menuju ke arah pantry, Marcel pun kembali mengintip ke arah ruangan Marvel.
Melihat Marcel yang kembali mengintip dari celah jendela, Marvel merasa sangat senang bisa memperlihatkan adegan seperti ini pada Marcel. Marvel pun menjulurkan lidahnya, membuat Marcel terlihat kesal melihat ledekan Marvel padanya.
‘Sialan Marvel! Ternyata dia cuma pura-pura sakit aja di depan Melati!’ batin Marcel.
Marvel berdiri dengan gagahnya di hadapan Marcel, dengan senyuman yang menyungging ke arahnya. Mereka tersadar dengan kedatangan Melati dari pantry, kemudian Marcel segera bersembunyi kembali dari sana, sedangkan Marvel kembali melakukan aktingnya dengan memegangi perutnya.
“Hah? Nunggu airnya panas dulu? Emangnya airnya kenapa?” tanya Marvel kebingungan.
“Soalnya airnya kedinginan, Pak!” jawab Melati yang asal, sembari menahan rasa lelahnya karena berjalan cepat ke arah ruangan Marvel.
Marvel benar-benar tak mengerti dengan apa yang Melati katakan, ‘Airnya kedinginan?’ batinnya, yang merasa sangat aneh dengan perkataan Melati.
Marcel yang mendengarnya saja sampai menepuk keningnya dengan cukup kencang.
‘Melati itu polosnya kebangetan!’ batin Marcel yang merasa sangat aneh mendengar ucapan Melati.
“Diminum dulu tehnya, Pak! Nanti keburu airnya kedinginan lagi!” suruh Melati, membuat Marvel menurut dengan ucapannya.
‘Daripada pusing mikirin air yang kedinginan,’ batin Marvel, yang merasa sangat aneh dengan keadaan.
__ADS_1
Marvel pun menyesap secangkir teh manis hangat, yang baru saja melati buatkan untuknya. Matanya seketika mendelik, karena merasakan air teh yang sangat panas. Marvel memuntahkan kembali teh yang ia minum, lalu dengan cepat meletakkan cangkir tersebut ke atas mejanya.
“Ahh ... panas!!” jerit Marvel, sembari mengipas lidahnya yang sudah melepuh karena air panas tersebut.
“Pak Marvel! Kenapa?!” pekik Melati, yang mendelik kaget ketika melihat ekspresi Marvel tersebut.
“Hah ... panas!!”
Melati memegangi lengan tangan Marvel, merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
“Panas ya, Pak?!” pekik Melati keheranan, masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Marvel segera mengambil air mineral yang ada di dalam botol, yang terdapat di atas meja Marvel. Dengan cepat ia menenggak minuman tersebut untuk mengilangkan panas dan melepuh pada lidahnya. Beruntung air minum tersebut selalu tersedia di meja Marvel, sehingga ia bisa meminumnya pada saat-saat genting seperti ini.
“Ahh!” Marvel merasa lidahnya segar, setelah meminum air mineral tersebut.
Melati memandangnya dengan pandangan bingung, karena Marvel yang sudah berhenti berteriak kepanasan pada lidahnya.
“Udah, Pak?” tanya Melati, Marvel menghela napasnya dengan panjang, kemudian tak sengaja melirik ke arah jendela ruangannya.
Terdapat Marcel yang terlihat sangat puas melihat lidah Marvel yang kepanasan, akibat minuman yang Melati berikan terlalu panas. Marvel merasa sedikit geram melihat tawa Marcel yang sangat puas itu, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain diam dan memandanginya dengan sinis.
‘Marcel sialan, beraninya ngetawain begitu!’ batin Marvel yang kesal melihat Marcel yang tertawa ketika ia menderita.
Marvel kembali memandang ke arah Melati, “Kamu bikin tehnya kok panas banget? Kenapa gak campur air dingin? Kayaknya kalau air dispenser gak sepanas ini deh,” ujarnya, membuat Melati memandangnya dengan pandangan yang sangat bersalah.
“Maaf, Pak ....” Melati tak bisa melanjutkan ucapannya, membuat Marvel memandangnya dengan pandangan yang dalam, karena mengetahui arti ekspresi Melati.
“Kenapa?” tanya Marvel dengan nada cepat.
“Tadi saya masaknya langsung di panci, bukan ngambil air dari dispenser,” ujar Melati dengan ragu, sontak membuat Marvel mendelik kaget dan Marcel tertawa karenanya.
__ADS_1