Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Diadili


__ADS_3

Rasa bahagia tengah menyelimuti Melati dan juga Marvel, saat ini. Saking bahagianya, tadi Marvel sampai tidak bisa meninggalkan Melati, walaupun sudah waktunya untuk berpisah.


Walaupun sempat berdrama, akhirnya Marvel pun pergi dari kediaman Melati, dan kembali ke kediamannya.


Sebelum sampai di kediamannya, Marvel dengan segera meletakkan motor butut itu, di pos satpam. Ia memang biasa mengembalikan motor tersebut, karena motor tersebut bukan miliknya, melainkan milik bapak satpam itu.


“Pak, saya simpan di sini, ya! Terima kasih, Pak!” ucap Marvel kepada Bapak satpam itu.


Mereka tersenyum ke arah Marvel, “Oh ya Tuan Marvel! Terima kasih kembali, Tuan,” ucap mereka secara bersamaan.


Marvel mendekati mereka, sembari memberikan bungkusan pecel lele yang sudah ia beli tadi.


“Ini, buat nemenin kalian ngeronda,” ucap Marvel sembari memberikannya pada mereka.


Salah seorang dari mereka menerimanya dengan senang hati, “Terima kasih, Tuan Marvel!” ujarnya.


Marvel pun pulang dengan berjalan kaki, karena rumahnya yang tak jauh dari pos satpam itu. Ia menolak diantarkan oleh satpam di sana, karena khawatir mereka curiga dengan apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama 5 menit, akhirnya Marvel sampai di kediamannya. Ia masuk ke dalamnya, dengan perasaan yang sangat bahagia.


Bagaimana tidak? Lamarannya sudah diterima Melati, membuatnya merasa menjadi orang yang sangat bahagia di muka bumi.


Lebay? Memang. Begitulah, namanya juga sedang jatuh cinta. Tokay kucing pun terasa seperti cokelat.


Marvel masuk ke dalam kediamannya, dengan perasaan yang senang. Ia melangkah, dan mendapati semua anggota keluarganya yang berkumpul di ruangan keluarga, dengan ekspresi yang sangat kaku.


Meliat ekspresi mereka itu, Marvel mendadak bingung, karena setelah kedatangan dirinya pun, mereka sama sekali tidak mengganti ekspresi tersebut.


Di sana, sudah ada Ayah, Ibu, Marcel dan juga Marsha. Mereka memandang sinis ke arah Marvel, sehingga membuat Marvel merasa agak bingung melihat mereka memandang seperti itu.


“Ada apa, sih?” tanya Marvel lagi, Ayahnya angkat bicara.


“Kamu mau bicara sambil berdiri?” tanyanya, membuat Marvel tersadar mengenai sikapnya yang kurang baik di hadapan orang tuanya.


“Maaf.” Marvel pun lalu duduk di sofa yang berada di hadapan mereka.

__ADS_1


Tatapan mereka membuat Marvel merasa diadili. Itu juga membuat Marvel risih, karena ia merasa seperti ada kesalahan yang ia perbuat.


Tidak ingin bertanya untuk ketiga kalinya, Marvel hanya bisa memandangi mereka saja, tanpa berkata sepatah kata pun.


Situasi sudah kondusif, Ayahnya memandang ke arah Marvel dengan tegas.


“Kamu tahu, apa kesalahan kamu?” tanya Ayah, membuat Marvel mendelik tegang mendengar pertanyaannya itu.


“Kesalahan? Kesalahan apa maksunya, Pah?” tanya balik Marvel, yang benar-benar tidak mengetahui di mana letak kesalahannya.


Mereka semakin menatap Marvel dengan tajam. Hal itu membuat Marvel merasa tidak nyaman.


Sebagai anak tertua di keluarga ini, ia tidak biasa membicarakan kesalahannya di hadapan mereka. Ia merasa sangat keberatan, ketika melihat Marcel dan Marsha yang ada di hadapannya, sedang memandang sinis ke arahnya.


“Maaf, kalian bisa pergi ke kamar sebentar?” tanya Marvel, sembari memandang ke arah kedua adiknya.


“Biarlah mereka di sini. Mereka juga harus tau, apa kesalahan yang kamu buat!” ujar Ayah, sontak membuat Marvel mendelik tak percaya, karena ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun.

__ADS_1


__ADS_2