Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Trauma


__ADS_3

Mendengar ucapan Marcel, sontak membuat Melati kembali mendelik karena tidak tahu harus mengatakan apa. Ia merasa Marcel selalu memanfaatkan keadaannya, dan juga kesalahan yang ia perbuat.


Marcel kembali menyempurnakan sikap duduknya. Ia memandang ke arah Melati dengan tatapan yang tajam, dan juga senyuman yang menyungging. Melati sudah paham, kalau Marcel sudah mengeluarkan tatapan dan senyuman seperti itu, berarti itu adalah sebuah tanda agar dirinya menuruti apa yang Marcel katakan.


‘Harus ngelakuin apa lagi aku setelah ini?’ batin Melati, yang tak sengaja kembali menelan salivanya.


“Jadi saya harus ngelakuin apa, Pak?” tanya Melati, yang merasa khawatir jika Marcel menyuruhnya melakukan apa pun yang tidak ia sukai.


Marcel menyunggingkan senyumannya, “Nanti siang, temani gue makan siang!” ujarnya, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.


Baru semalam ia menemani Marcel makan malam, dengan keadaan yang sangat rumit. Siang ini, Marcel berniat memintanya kembali untuk menemaninya makan. Rasa trauma mendadak muncul di hati Melati, saking ia tidak terbiasanya makan di resto mewah seperti itu. Apalagi seleranya tidak setinggi selera Marcel.


Melati memandangnya dengan tegas, “Saya gak mau nemenin Pak Marcel makan siang atau makan malam lagi! Saya udah kapok, Pak!” tolaknya tegas, membuat Marcel mendelik kesal mendengar penolakan yang Melati lakukan padanya.


Suasana mendadak canggung, karena Melati yang sudah mulai membantah ucapan Marcel. Ia tidak ingin kejadian semalam terulang kembali, karena seleranya yang sangat berbeda jauh dengan selera yang Marcel miliki.


“Lo berani nolak gue, hah?!” pekik Marcel, membuat Melati menelan salivanya dengan kasar.


Sebuah kekuatan, mendadak muncul dari dalam diri Melati. Ia benar-benar sudah tidak bisa dimanfaatkan oleh Marcel lagi, karena ia tidak ingin kejadian semalam terulang kembali siang ini. Ia tidak mau dipermalukan oleh mereka yang melihatnya, dengan keadaan yang sangat memalukan.


Matanya mendelik tegas ke arah Marcel, “Ya, saya menolak keinginan Pak Marcel kali ini! Untuk soal sepatu dan biaya perawatan kaki Pak Marcel yang sakit, bisa saya cicil ketika saya mendapatkan gaji dari perusahaan ini. Jangan pernah maksa saya buat makan di resto mewah lagi, karena itu bukan selera saya!” ujar Melati dengan tegas, sontak membuat Marcel mendelik bingung mendengarnya.


Melati bangkit dari hadapan Marcel, kemudian memandangnya dengan dalam, “Karena sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, saya pamit dulu,” ucapnya sembari membawa kembali berkas yang sebelumnya ia bawa, yang sudah ditandatangani oleh Marcel.

__ADS_1


Melihat Melati yang pergi dari ruangannya, Marcel merasa gagal untuk memanfaatkan sosok Melati sekali lagi. Tangannya mengepal erat, karena merasa sangat kesal sudah ditolak oleh seorang wanita kampungan seperti Melati.


“Melati!!” gumam Marcel, yang sangat kesal memikirkan tentang Melati.


Saat ini, Melati sudah berada di luar ruangan Marcel. Keberaniannya seakan hilang, dan kini ia kembali ke mode seperti biasanya dirinya. Ia menghela napasnya dengan panjang, kemudian segera melangkah menuju ke arah ruangan Marvel.


Karena kesalahan ini, ia harus dua kali meminta tanda tangan kepada Marcel dan juga Marvel. Padahal, ia sudah memeriksa sebanyak tiga kali tentang berkas yang ia buat. Ia tidak biasa melakukan kesalahan, dengan apa yang ia biasa lakukan.


“Gara-gara berkas ini!” gumam Melati, yang kemudian segera pergi dari sana untuk menuju ke arah ruangan Marvel.


Beberapa saat berlalu, Melati sudah sampai di ruangan Marvel. Ia menghela napasnya dengan panjang, kemudian segera mengetuk pintu ruangan Marvel.


“Masuk!” ucap Marvel, kemudian membuat Melati masuk ke dalam ruangan tersebut karena sudah diizinkan oleh Marvel.


“Permisi, Pak Marvel!” sapa Melati.


“Silakan duduk, Mel.” Marvel seketika tersenyum dan mengesampingkan pekerjaan yang sedang ia kerjakan saat ini.


“Terima kasih, Pak.” Melati pun duduk di hadapan Marvel, dan memandang ke arahnya dengan pandangan yang sangat sopan.


“Ada apa, Melati?” tanya Marvel yang bingung dengan kedatangan Melati ke ruangannya ini.


“Saya ingin meminta tanda tangan Pak Marvel, Pak. Berkas yang tadi pagi saya kerjakan, ternyata salah dan saya sudah membenarkan berkas yang baru,” ujarnya, menjelaskan maksud kedatangannya ke ruangan Marvel ini.

__ADS_1


Mendengar penjelasannya itu, Marvel pun memandangnya dengan heran dan bingung. Ia tidak mengerti berkas yang mana yang harus ia tanda tangani lagi.


“Berkas mana lagi yang harus saya tanda tangani lagi? Memang ada kesalahan di bagian mana?” tanya Marvel kebingungan mendengarnya.


“Saya membuat laporan barang pada tahun 2009, Pak. Saya salah karena tidak teliti, dan akhirnya saya buat kembali tadi. Sudah ditandatangani lagi oleh Pak Marcel, tinggal Pak Marvel aja yang belum tanda tangan,” jawab Melati, membuat Marvel bertambah bingung mendengarnya.


Marvel sampai langsung mengacak-acak berkas yang bertumpuk-tumpuk di hadapannya, dan mencari berkas yang pagi tadi selesai ia tanda tangani.


Setelah beberapa saat mencari, Marvel akhirnya mendapatkan berkas yang ia cari. Ia melihat berkas tersebut dengan teliti, dan melihat tahun yang adalah benar pada tahun ini. Ia sampai membacanya secara teliti dan mengulang, untuk memastikan kebenaran dari apa yang ia lihat itu.


“Ah, bener kok ini tahunnya! Kalau saya sudah approve, itu tandanya sudah benar semua tanpa ada kesalahan. Saya sangat teliti dalam memeriksa berkas,” ucap Marvel, sontak membuat Melati terkejut mendengarnya.


Melati tak menyangka, kalau ternyata berkas yang ia kerjakan adalah benar. Namun, ia juga benar melihat berkas yang diberikan Rachel tadi, dan melihatnya memang ada sebuah kesalahan dalam penulisan tahun dan data yang ada.


Matanya mendelik terkejut, ‘Tadi jelas-jelas aku lihat tahun 2009 di berkas yang Rachel kasih! Kenapa di sini malah berkasnya bener?’ batin Melati bertanya-tanya, merasa sangat rancu dengan apa yang sedang terjadi di sini.


Merasa tidak percaya, Melati pun memandang ke arah Marvel, “Boleh tidak saya lihat, Pak?” tanyanya, Marvel pun memberikannya kepada Melati.


Melati memeriksa dengan sangat teliti, dan memang benar tidak ada kesalahan apa pun di sana. Ini adalah berkas yang asli, yang memang seharusnya Marvel yang memegangnya. Namun, Melati tidak menyangka kalau Rachel memiliki salinan berkas yang palsu, yang memuat data yang salah.


“Lho, tadi saya lihat tahun 2009 kok di berkas yang Rachel kasih!” ujar Melati yang keceplosan berbicara seperti itu, saking polosnya ia dengan keadaan.


“Ups!” gumam Melati, sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Mendengar Melati yang mengatakan hal itu, Marvel mendadak sinis mendengarnya.


“Rachel?!” gumam Marvel yang merasa sangat kesal, karena Rachel yang ternyata masih saja mengganggu Melati.


__ADS_2