
Andre menghentikan mobil Marvel yang sedang ia kemudikan, sembari memandang ke arah hamparan rumput liar tersebut.
“Kamu yakin, ini beneran rumah Melati?” tanya Andre, berusaha untuk memastikan hal tersebut pada Marvel, yang masih memeriksa navigasinya.
“Di CV sih ... alamatnya begitu. Saya cari di maps, ternyata kita disasarin ke sini, ya?” jawab Marvel, yang agak tidak yakin dengan kebenaran informasi ini.
“Kalau di CV alamatnya begitu, harusnya bener, dong?” Andre memandang tegas ke arah Marvel.
“Ya ... harusnya sih bener. Di maps juga ini udah bener, kita dibawa ke alamat yang ada di CV Melati,” ujar Marvel, yang berusaha untuk mempertahankan harga dirinya di hadapan Andre.
Walaupun Marvel sudah berusaha untuk membuat dirinya terlihat benar di mata Andre, tetapi tetap saja Andre sama sekali tidak percaya, tempat ini adalah alamat tempat tinggal Melati.
“Saya tetap gak percaya! Ini bukan perumahan, ini mah kayak lahan kosong!” ujar Andre, yang benar-benar sangat yakin dengan hal yang ia pikirkan.
__ADS_1
Marvel juga merasa tidak yakin akan hal itu, tetapi ia melihat data yang ia pegang, yang memang benar bahwa alamat ini adalah alamat tempat tinggal Melati.
“Saya juga gak percaya sebenernya, tapi ya gimana? Di CV tulisannya begini!” ujar Marvel, kembali mencari pembenaran atas dirinya.
Andre menghela napasnya dengan kasar, “Susah ya ngomong sama CEO! Saya juga tau, kalau di CV Melati memang tinggal di sini. ‘Kan bisa jadi ini alamat lamanya, dan belum diubah lagi di KTP-nya? Masuk logika, dong?”
Marvel mendelik kaget, “Betul juga,” gumamnya, yang tidak memikirkan sampai ke arah sana.
Andre menggelengkan kepalanya kecil, “Ya udah coba chat Melati aja. Minta kirimin lokasi sama dia! Ini udah malem, Vel!” ujarnya, Marvel terlihat sangat tidak ingin bertanya pada Melati.
“Ah ... saya malu nanya ke Melati,” sanggah Marvel, Andre menggelengkan kecil kepalanya sembari mendecap.
“Kalau begini, ya kita gak akan sampe rumahnya Melati, Vel!” cetus Andre.
__ADS_1
Marvel merasa apa yang Andre katakan adalah hal yang benar, tetapi ia juga tidak bisa semudah itu menghubungi Melati, dengan alasan pribadi selain alasan pekerjaan.
“Kalau saya nge-chat dia langsung dengan alasan pribadi, gak etis dong, Ndre!”
Andre memandangnya sinis, “Kenapa memangnya? Gak etis kenapa pula? Kau ‘kan mau jenguk dia, kenapa gak etis segala? Kalau begini sampai tahun jebot pun gak akan sampai ke rumahnya Melati!” celetuknya, Marvel merasa keresahan sudah mulai terasa di hatinya.
Entah mengapa, Marvel sama sekali tidak ingin mengubungi Melati langsung. Ia merasa sangat malu, dan khawatir dengan pemikiran Melati yang mungkin akan memikirkan hal yang buruk tentangnya.
“Saya gak berani nge-chat Melati, Ndre!” ucap Marvel, yang kukuh dengan apa yang ia katakan.
Perkataan Marvel itu membuat Andre merasa kesal, karena jika seperti ini terus-menerus, Marvel tidak akan pernah mengizinkannya untuk kembali pulang ke rumahnya.
“Terus, kalau sampai rumah Melati gak ketemu, saya gak boleh pulang ke rumah gitu?” celetuk Andre, membuat Marvel menjadi bimbang mendengarnya.
__ADS_1
“Ya gak gitu, Ndre ....”
“Ya sudah, chat dia sekarang!” suruh Andre, Marvel hanya memandangnya dengan tatapan bingung. “Oh, atau biar saya aja yang nge-chat Melati!”