Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Cafe Dan Kantin Sekolah


__ADS_3

Di Cafe


Ibu Ranti akhirnya mengajak Anugrah-menantunya itu duduk ngobrol di cafe, karena saat Ibu menawarkan makanan Anugrah tidak mau, dan hanya bilang ingin minuman dingin. Padahal waktu masih bisa di bilang pagi, tapi Anugrah sudah ingin minuman dingin.


Bu Ranti memesan minuman hangat untuknya dan minuman dingin untuk menantunya, tak lupa beberapa makanan yang tidak mengenyangkan.


Anugrah membuka ponselnya dan memberikannya pada ibu Ranti, ia menunjukan beberapa warna-warna yang cantik juga model gamis terbaru yang di tawarkan oleh Zahra.


"Ini, Bu. Menurut ibu bagusan yang mana? Aku sama Mamak nurut, yang mana mau ibu, kita ngikut. Soalnya kalau nanya mamak jawabnya jelas, terserah." Ujar Anugrah.


Ibu Ranti memandangi gambar-gambar di ponsel sebentar, setelahnya ia memberikan ponsel Anugrah tanpa memilih. Bu Ranti malah menarik tangan Anugrah dan menggenggam nya.


"Kamu, ada masalah yang nggak kamu bagi, sama Ibu?" Tanya Bu Ranti tiba-tiba.


Anugrah yang tidak merasa ada masalah hanya menggelengkan kepalanya, "enggak ada bu, masalah apa?"


Kini Anugrah jadi merasa takut, takut kalau-kalau ia salah bicara tentang ibu mertuanya itu pada orang, dan orang mengadukan nya pada mertuanya.


"Kamu, sama suamimu, apa baik-baik saja?"


Pertanyaan ibu Ranti semakin membuat bingung Anugrah, ia akhirnya hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Kamu, jangan bohong, Nu. Cerita saja sama ibu, ibu nggak mau kalau kamu sedih gara-gara anak ibu." Bu Ranti mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh semakin membuat Anugrah bingung.


"Ibu, kenapa? Nu sama Mas Kean baik-baik saja, walaupun memang, Mas Kean ... agak sedikit sibuk akhir-akhir ini, tapi kita baik-baik saja kok bu." Anugrah akhirnya mengatakan demikian.


Mulut Bu Ranti sudah akan kembali bicara tapi terjeda karena makanan dan minuman yang ia pesan datang.


Ibu Ranti menghapus air di sudut matanya, melepaskan tangan Anugrah dan membiarkan pelayan menghidangkan apa pesanannya.

__ADS_1


"Ibu, nggak tahu, kalian kenapa. Ibu juga nggak mau ikut campur sebenarnya. Tapi ibu juga nggak rela Nu, kalau sampai anak ibu nyakitin kamu." Ujar Ibu Ranti setelah pelayan cafe pergi.


"Nugrah nggak ngerti bu," ucap Anugrah. Karena memang ia benar-benar tidak tahu menahu dengan apa yang di maksud Ibu mertuanya itu.


Ibu Ranti menghela nafas sebelum kembali bicara, "semalam. Ibu keluar sama bapak, berdua. Biasa, jalan-jalan layaknya anak muda. Pas ngelewatin depan cafe, cafe barunya Kean dan temen-temen nya itu, ibu lihat motornya. Jadi ibu ajak Bapak buat mampir, ibu pikir dia sama kamu. Tapi ternyata, dia malah sama perempuan lain, yang kata bapak adalah guru baru di sekolah, guru bahasa Inggris yang baru beberapa bulan ini di sana. Tadinya ibu mau marahin di tempat itu juga, tapi bapak melarang ibu. Akhirnya ibu sama bapak hanya melihat mereka dari dekat pintu, ibu sama bapak tungguin sampai mereka selesai bicara." Air mata Bu Ranti tak kuasa untuk di tahan saat menceritakan kejadian semalam.


Dan Anugrah hanya mendengar dengan seksama apa yang di bicarakan ibu mertuanya.


"Dan, setelah selesai. Mereka berdua keluar, ibu pikir sudah selesai beneran. Karena ibu pikir mereka hanya kebetulan bertemu, tapi ternyata perempuan itu naik di bonceng Kean, lalu di antarnya perempuan itu di rumahnya, di desa sebelah Nu, mereka terlihat begitu dekat. Sampai ibu merasakan sakit saat melihatnya."


Anugrah hanya tersenyum getir mendengar apa yang di bicarakan mertuanya, Anugrah mengusap lengan ibu Ranti tanpa bicara apapun. Seketika juga ia ingat akan pesan yang ada di ponsel suaminya tadi pagi.


"Bu, jangan sedih seperti ini. Bisa saja 'kan, Mas Kean hanya sekedar bertemu di sini dan mengantarnya. 'Kan biasanya sesama rekan akan nyambung saat ngobrol, dan mungkin mereka hanya lupa waktu ngobrolnya." Anugrah mencoba menenangkan Ibu Ranti yang begitu sedih. Walaupun jujur saja ia juga begitu terluka saat tahu hal ini.


Hatinya terasa remuk, hancur berkeping-keping. Saat ini, ia hanya mencoba biasa-biasa saja, karena ia takut salah paham kembali.


"Tidak, Nu. Bapak juga sering bilang kalau di sekolah Si Kean dekat sekali sama si Desi Desi itu, Ibu malu sekali Nu, Ibu sakit saat anak ibu seperti itu." Tangan bu Ranti menutup wajahnya, Ibu Ranti benar-benar tak percaya dengan apa yang di lakukan putranya.


Bu Ranti benar-benar merasa sedih, ia begitu menyayangi Anugrah. Dan anaknya malah menyakitinya, padahal Anugrah adalah pilihan putranya tapi malah menyia-nyiakan nya.


...----------------...


Kantin Sekolah.


Keanu duduk dengan air mineral di depannya, ia baru selesai dari mengajar olahraga anak-anak kelas lima. Dan sekarang adalah waktunya untuk anak-anak istirahat. Di kantin terdapat ruangan khusus guru, dan di sana lah Keanu duduk sembari membuka ponsel dan membalas pesan dari seseorang.


[Tolong, jangan kirim pesan lagi jika tidak penting!]


Ia menaruh kembali ponselnya di meja dan meminum air mineral yang baru ia beli.

__ADS_1


"Yan!" Panggil Bapa Runo. Keanu menoleh ke arah pintu yang baru di dorong dari luar.


Keanu hanya melihat bapaknya sebentar, tanpa menjawab panggilannya. Bapak kini sudah duduk di samping putranya.


"Bapak nggak ikut rapat renovasi perpustakaan?" Tanya Keanu. Karena istirahat ini para guru di suruh untuk kumpul di kantor guru untuk diskusi renovasi Perpustakaan.


"Enggak, bapak lebih mementingkan kamu dari pada perpustakaan. Perpustakaan sudah banyak yang memikirkan."


Keanu mengernyitkan dahi, dan menoleh ke samping. "Maksudnya?"


"Kamu, gimana sama Bu Desi?"


Deg! Pertanyaan Bapak langsung membuat Keanu menajamkan matanya melihat ekspresi sang bapak. Bapak terlihat tenang dan biasa saja, bahkan tersenyum mengarah ke melirik ke arah anaknya.


"Bapak, hanya memperingatkan kalau kamu mau bermain api, siap-siap saja api itu akan membakar mu dan menghanguskan mu." Ujar Bapak. Tanpa melihat ke arah sang putra, bapak tetap melihat ke arah depan.


"Pak. Aku tahu, aku salah. Aku sudah melakukan kesalahan, tapi serius Pak, semua sudah ku bereskan dam tidak lagi berdekatan dengan dia."


"Jangan bicarakan sama Bapak, bicarakan sama istri dan ibu mu. Mereka berdua kelas terluka bahkan kecewa, karena mungkin sekarang Ibu sudah memberitahu istrimu kalau semalam kita melihat mu berduaan di Cafe dengan guru itu, dan mengantarnya pulang."


Keanu terdiam di tempatnya.


"Pak," Bapak menoleh sebentar lalu kembali melihat ke arah depan.


"Aku sama Bu Desi hanya sekedar dekat, pak. Kita nggak pernah aneh-aneh, ya aku tahu kalau seperti itu juga salah. Tapi aku sudah mengakhiri semuanya pak. Semalam itu, aku menyelesaikan semuanya, makanya aku mengajaknya ketemu agar jelas dan tidak lagi dekat seperti kemarin-kemarin."


"Sepulang dari sini, bicara pada istrimu. Minta maaf, jangan buat dia semakin kecewa, karena wanita kalau sudah kecewa untuk mengembalikan agar hatinya seperti sebelumnya itu akan sangat sulit. Takutnya kamu akan kehilangan sebelum mendapat kesempatan."


"Bapak tahu, kamu hanya tersesat. Maka dari itu, sekarang saat kamu sudah tahu jalan pulang. Ingat betul-betul perjuangan kamu untuk sampai di jalan ini."

__ADS_1


Keanu mengangguk. Bapak menepuk pelan pundak sang anak lantas berdiri, meninggalkan Keanu sendirian dengan segala bentuk penyesalan.


__ADS_2