Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Hadiah


__ADS_3

"Masa iya sih, Yun. Kok aku nggak percaya, ya," ucap Anugrah yang baru saja mendengarkan rekaman itu.


Kini keduanya tengah duduk di lapak Anugrah. Anugrah jelas tak percaya, bagaimana Bisa Cintia se-nekad itu. "Berasa kayak di film-film nggak sih Yun?"


"Iya, ya, Nu. Apa di kota dia jadi liar gitu," ucap Yuni.


"Liar, kamu pikir hewan."


"Nu..." Panggil Bu Ranti, kedua gadis yang duduk bersebelahan itu lantas menoleh ke belakang.


"Di panggil Mamer tuh,"


"Iya, bu," Anugrah lalu berdiri, menyambut Bu Ranti yang baru keluar dari Toko nya.


"Nggak papa, ini ada titipan dari Kean." Bu Ranti menyodorkan Paper bag yang isinya terlihat terbungkus kertas kado, karena isinya menyembul jadi terlihat.


"Apa, ini bu?" Tanya Anugrah, sembari menerimanya.


"Ada, deh... Penasaran nggak Yun?" Bu Ranti mengalihkan perhatiannya pada Yuni yang sudah berdiri di samping Anugrah.


"Hihi lebih tepatnya pengin hadiahnya Bu, nggak di kasih ini bu,"


"Makanya cari pacar," kata Bu Ranti.


"Ish ibu, mah."


"Udah-udah Ibu nitip mantu ibu yang cantik ini ya, jangan sampai lecet. Mau ibu tinggal dulu. Arisan."


Anugrah mencium tangan Bu Ranti, kebiasaan barunya menyapa calon mertuanya itu. Yuni mengajak Anugrah duduk kembali dan memaksa untuk membukanya namun Anugrah tidak mau. Biar Yuni semakin penasaran.


Keduanya larut dalam obrolan yang sesekali di ganggu oleh pembeli.


Anugrah masih penasaran dengan Cintia yang bisa-bisanya berpikiran untuk se licik itu, setelah dagang di pasar tadi sore Anugrah menyempatkan diri datang ke rumah Keanu, sebentar. Membantu masak calon mertuanya itu, dan sudah di pastikan Bu Ranti sangat kesenangan saat Anugrah dengan sendirinya mau membantu. Padahal Anugrah udah di bilangin seribu kali sama Mamak, makanya Anugrah mau.


Kini dirinya masih duduk di Musala selepas Isya berjamaah. Tengah menunggu Keanu menelponnya, Anugrah di temani Yuni yang tengah telponan dengan Reno.

__ADS_1


Namun sampai Reno selesai telponan, Keanu tak kunjung menelpon Anugrah, jadi dia dan Yuni akhirnya memutuskan untuk pulang.


Baru saja Anugrah menaruh mukena dan sajadahnya di atas meja, di samping lemari. Ponselnya bergetar. Ia lalu segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya dengan girang.


"Wa'alaikumsallam, maaf ya lama."


"Nggak papa, udah beres tugas nya?"


"Udah, kamu udah di rumah?"


"Baru sampai,"


"Suka nggak kadonya?"


Anugrah melupakan paper bag yang Bu Ranti kasih, ia lalu menepuk jidatnya begitu tersadar. Lalu Anugrah buru-buru mengambil hadiah dari sang pujaan hati yang tadi sore ia taruh begitu saja di samping tas besar, dagangannya.


"Ini baru mau di buka," ucap nya setelah menemukan bungkusan kado dan ia bawa kembali ke kamarnya. Bapak yang ada di sana tengah menonton televisi bersama Mamak pun tak menghiraukan anaknya.


"Kok baru di buka,"


"Masak apa?"


Srekkk... Sreekkk... Anugrah tak menjawab, karena dirinya tengah membuka bungkusan kertas kado itu, ponselnya ia tempelkan di telinga, dengan di gapit sama pundaknya.


"Ya, Allah... Bagus banget..." Ujarnya begitu bungkus kado sudah dibuka sempurna.


"Makasih ya," ucapnya lagi pada Keanu.


"Syuka, berarti?"


"Syukaaa banget,"


"Oh, iya. Gimana kamu sama Cintia?" Anugrah menyingkirkan bungkus yang berserakan dan kado yang isinya adalah Mukena.

__ADS_1


Hening, hanya terdengar helaan nafas panjang dari sebrang sana. Anugrah menunggu jawaban Keanu. Mau bagaimanapun Anugrah juga ingin tahu yang sebenarnya, ia masih berperasangka baik pada Cintia, bisa saja kata lelaki itu hanya fitnah, pikir Anugrah.


"Nggak ngerti aku, sama Osin. Bisa-bisanya dia berniat kayak gitu."


"Kamu tahu dari mana?" Setelah beberapa menit diam, akhirnya Keanu membuka suaranya. Tadinya ia berniat untuk tidak menceritakan nya pada Anugrah, nyatanya Anugrah sudah tahu duluan.


"Dari, Yuni. Dia di kirimin rekaman obrolan kamu sama orang itu. Kamu percaya sama dia?"


"Percaya nggak percaya, kayak gitu kenyataannya Nu."


"Huh... Harusnya kamu dulu manut sama ibu kalau nggak sama bapak, orang di suruh kuliah di Jogja atau di Bandung, kamu milihnya malah di Jakarta. Gini kan jadinya, untung nggak sampai kejadian loh, kalau kejadian kayak di film-film gimana? Tiba-tiba kamu sadar sudah tidur sama Cintia?"


"Hahaha, tapi Allah masih melindungi aku Nu, kamu tenang aja. Ya, ya. Harusnya aku dulu kuliah di Bandung atau di Jogja saja ya, jadi nggak dekat-dekat sama Cintia."


"Ya, sudahlah. Sudah terlanjur juga, yang penting jangan lupa ber-'doa, Salat jangan di tinggalkan. Sesibuk apapun kamu di sana."


"Iya, makasih Sayang..."


"Eehh..."


πŸ’πŸ’πŸ’


Cintia menghindar dari Keanu, ia merasa pusing sendiri. Rencana gagal malah jadi malu sendiri sama Keanu. Rangga sudah cerita kalau dirinya mengakui kesalahannya pada Keanu, dan itu sukses membuat Cintia kesal dan tak habis pikir. Ember banget mulut nya Rangga. Kesal Cintia.


Di kampus, biasanya Cintia akan berangkat atau hanya sekedar mendekat, tapi pagi ini dia malah menghindar. Cintia masih bingung apa yang harus ia katakan pada Keanu, saat semuanya sudah terbongkar.


Gilang berdiri di samping Cintia, mengerut kan alis, heran. Karena sepagi ini cewek kesayangannya sudah ada di dalam kelas. Mana sendirian pula, di tambah raut muka yang terlihat sendu dan gelisah.


"Kenapa, Cin?"


Cintia tersadar dari pandangan kosong nya, menatap sebentar netra Gilang, lalu mengalihkan ke pintu yang terbuka lebar.


"Nggak, papa!" Jawabnya ketus.


"Galau? Sini cerita sama aku."

__ADS_1


"Apaan sih!" Cintia beranjak dari duduknya dan pergi, meninggalkan Gilang yang terbengong sendiri karena di cuekin.


"Osin!" Mampus. Berniat menghindar malah bertemu. Cintia diam membeku, saat netra nya melihat sosok Keanu yang semakin mendekat. Dengan wajah yang sedikit tidak enak di lihat, tidak seperti biasanya. Tampan dan ramah, juga terlihat sedikit cool.


__ADS_2