Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Akibat (Cintia)


__ADS_3

"Jagan menghindar! Aku cuma mau tanya kebenaran nya saja. Tidak lebih." Ujar Keanu yang sudah berdiri tepat di depan Cintia.


Cintia sama sekali tidak menjawab, ia justru diam. Bahkan tak berani menatap netra indah Keanu.


"Nanti sore, di Cafe tempat biasa."


Setelah itu Keanu berlalu dari sana, Cintia hanya mampu melihat punggung Keanu yang menjauh. Tatapannya sudah berbeda, tak seperti biasanya. Bagaimana tidak berubah, kalau Cintia berbuat aneh.


Entah kenapa kini Cintia merasa malu sendiri, ada perasaan kesal dan merasa terabaikan. Padahal itu adalah salahnya sendiri.


☕☕☕


Jika biasanya ia menikmati minuman kesukaannya dengan Keanu sembari ngobrol santai, tidak dengan sore ini. Keanu memang duduk di depannya dengan minuman pesanannya tapi wajah nya dingin, sedingin cuaca di dalam cafe tersebut.


Harusnya ini jadi momen yang romantis saat di luar hujan, dan di dalam sebuah cafe, tepatnya di tempat duduk di dekat jendela kaca yang tembus pandang duduk berhadapan seorang pemuda dan pemudi. Harusnya obrolannya manis, dan menghangatkan.


Sayang sekali, kenyataan nya justru sebaliknya.

__ADS_1


"Bisa di jelaskan. Kenapa?"


Cintia masih diam, menunduk. Seperti bocah cilik yang tengah ketahuan mencuri dan di beri banyak pertanyaan.


"Cin, kita sahabatan udah dari kecil, kecil banget. Segini, nih," ucap Keanu dengan menunjukan jari kelingkingnya. "Sampai se-gini." Kini menunjukan jempolnya.


"Aku, nggak habis pikir, serius." Keanu geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabat nya itu.


Cintia tetap diam.


"Kebayang nggak sih sama kamu! Kalau sampai keinginan kamu nge-jebak aku berhasil... Yang malu bukan cuma aku sama kamu, tapi keluarga kita. Saudara kita. Akan seperti apa keluarga kamu, kalau kamu coreng nama baiknya, sedang kan keluarga kamu, keluarga yang punya nama Cin!"


Tidak habis pikir kelakuan sahabat perempuan nya bisa se-picik itu.


"Apa kamu pikir aku bakal dengan mudah nya sama kamu, kalau seandainya 'itu' terjadi? Nggak semudah itu Cin!"


Gejolak amarah dalam hati Keanu meluap-luap, mungkin seandainya Cintia adalah seorang pria sudah ia tonjok, dan ia habisi.

__ADS_1


Keanu menghela nafas kasar. Kesal masih menguasainya, dalam hatinya mencoba ber-istigfar agar sedikit lebih tenang.


"Maaf," satu kata yang keluar dari mulut Cintia begitu pelan, setelah hening beberapa saat.


Keanu diam memperhatikan Cintia yang terlihat begitu menyesal, matanya memerah menahan air mata.


"Aku nggak pernah terpikir sampe sana Nu, yang ada di pikiran aku cuma bisa sama kamu. Aku pengin memiliki kamu seutuhnya." Ujar Cintia.


"Yang ada dalam pikiran aku, bisa bareng kamu terus. Bisa bersama." Tutur Cintia selanjutnya.


"Serius Nu, aku minta maaf. Aku mohon banget, jangan kamu ceritain masalah ini sama Mama sama Bapak. Please aku nggak mau mereka marah." Air mata akhirnya lolos begitu saja dari mata Cintia.


Cintia menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, ia menangis tersedu-sedu. Tak perduli pengunjung Cafe yang melihat ke arah mereka.


Keanu pun hanya diam, melihat, tak mendekat apa lagi menenangkan. Ia masih kesal, jadi ia tak mau terlihat perduli.


"Dengerin ini baik-baik!"

__ADS_1


"Aku sangat-sangat berharap, kamu tidak seperti ini lagi. Aku mau kamu mikir dulu di setiap keputusan yang akan kamu ambil, pikirkan resikonya! Satu lagi. Jangan berharap setelah ini aku baik seperti dulu. Walaupun masih dalam lingkaran persahabatan."


Keanu beranjak dan berlalu. Meninggalkan Cintia yang menatapnya nanar.


__ADS_2