
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah sebulan ini Keanu berada di Jakarta. Apa mereka semakin dekat? Jawabnya adalah biasa-biasa saja. Selain Keanu yang sibuk, Anugrah juga semakin sibuk. Pelanggannya semakin banyak, apalagi di tambah kini ia jual barang dagangannya di beberapa aplikasi penjualan online.
Entah kenapa Bu Ranti semakin dekat dengan Anugrah, sering sekali Anugrah di ajak ngobrol. Menemani Anugrah duduk di samping lapak, dan kadang Anugrah di ajak ke rumah Bu Ranti untuk memasak, sepulang dari Pasar. Sebenarnya kadang Anugrah ingin sekali menolak, namun ia enggan dan tidak enak hati.
Juga entah kenapa, sekarang setiap Mamak jualan rujak, Bu Ranti tak lagi memesan padanya. Melainkan pergi ke rumah Mamak sendiri, selain memesan rujak, mereka juga selalu terlibat obrolan antara emak-emak yang selalu lama. Pernah Anugrah pulang dari pasar, seperti biasa untuk isoma. Dan ia mendapati Bu Ranti ada disana, dan saat ia bertanya. Bu Ranti hanya menjawab sedang beli rujak.
Namun sampai Anugrah selesai isoma pun, Bu Ranti tak kunjung pulang. Dua emak-emak yang beda usia itu terlihat asyik ngobrol, sampai lupa waktu.
Dan untuk menanyakan nya pada Mamak pun Anugrah sungkan, ia tak mau tahu urusan orang tua. Mungkin orang tua pun punya bestie, pikirnya.
Anugrah tengah duduk selonjor di teras, punggungnya ia bawa bersandar di tembok. Menikmati angin sore yang sepoi-sepoi membelai wajahnya. Matanya terpejam menikmati setiap embusan yang ada. Sampai embusan itu terasa begitu besar dan sedikit mengeluarkan bau. Bau yang tidak enak.
Anugrah membuka matanya dan teriak seketika.
"Meeeediiiii...."
Plakkkk
Anugrah lantas di pukul kepalanya oleh orang yang Anugrah sebut medi itu.
"Saru. Wong ganteng kaya artis korea koh di bilang hantu." Seseorang yang tadi meniup wajah Anugrah itu terlihat kesal. Lalu duduk di sampingnya.
"Wleee,"
Plakkk
Di pukul lagi kepala Anugrah.
"Aww, pulang sana! Ke sini cuma mukulin anak cantik doang!" Anugrah memegangi kepalanya.
"Lagian, bukannya nanya yang baik-baik malah di bilang medi."
"Lagian kayak jelangkung, tiba-tiba nongol. Mana bau banget mulut mu Reeennnn."
__ADS_1
"Hahaha lupa, abis makan sama jengkol soalnya." Kata Reno.
Ya, yang datang menemui Anugrah adalah Reno. Ia pulang dari Jakarta semalam. Anugrah udah tahu, karena ia melihat story di aplikasi pesan. Jadi ia tak perlu bertanya.
Anugrah memonyongkan bibirnya, kesal.
"Jorok ih!"
"Masih galak ya Nu, tapi ada yang bertambah Nu."
"Apa!"
"Ayu, semakin ayu Nu koe."
"Ya pasti. Anugrah..." Anugrah menepuk dadanya pelan, menyombongkan diri.
"Eh, nggak ke rumah Ayang Yuni kamu?" Tanya Anugrah.
"Udah dong, pertama. Eh gimana Anu 1, makin sibuk banget ya dia."
Tak terasa obrolan di antara ke duanya terhalang waktu. Pas mau Adzan Magrib Reno pamit pulang dulu. Ia berjanji habis Isya ia datang lagi dengan Yuni.
Dan sesuai janjinya, setelah Isya Reno datang lagi. Yuni langsung kerumah Anugrah setelah dari Mushola, dan saat Reno sampai ia kesal, karena pas njemput Yuni, dirinya sudah tak ada.
"Ish, Yun aku jemput kamu. Malah kamu udah di sini."
Yuni dan Anugrah hanya menjulurkan lidahnya, begitu Reno duduk di samping Yuni. Yuni dan Anugrah masih menunggunya, dengan duduk di teras.
Mamak keluar dan mengajak masuk tiga anak muda tersebut. Sahabat yang sudah lama tak bertemu itu terlihat asyik dengan obrolan kocak. Yang kebanyakan dari mereka bertiga, hanya Yuni dan Reno yang terlihat asyik.
Ngobrol ngalor ngidul, dan ke timur. Sampai apa saja jadi tema obrolan mereka. Anugrah menyuguhkan pisang goreng yang baru saja ia goreng. Di suruh Mamak, karena mereka punya pisang sendiri yang baru matang.
Yuni di tugaskan membuat kopi untuk mereka, dan obrolan semakin seru, saat ada kopi dan pisang goreng yang masih panas.
__ADS_1
Bapak pun tak mau kalah, ikut nimbrung layaknya anak muda. Sesekali memberi wejangan kepada tiga anak muda yang ada di sana. Mamak sibuk di belakang, membuat ketupat untuk rujak besok.
Sampai di waktu yang semakin larut, tinggalah tiga pemuda saja yang ada di ruang tamu.
"Oh, iya Nu. Osin sama Kean semakin dekat kat__"
Mulut Yuni seketika di bungkam oleh Reno. Yuni melotot merutuki kebodohannya yang keceplosan. Anugrah yang tadinya tengah tertawa, menertawakan kelucuan Reno dan Yuni seketika diam. Perlahan bibirnya tertutup.
"Ya pasti deket lah Yun, udah nggak usah di bungkam gitu Ren. Aku sudah menebaknya kok."
"Lagian sama kita juga deket kan?"
Ke-dua nya menggangguk. "Ren emang kalo Anu deket sama Osin kenapa? Kamu kayak yang gimana sama aku. Aku biasa aja lagi, kita kan sahabat jadi ya harus deket dong."
Lagi-lagi keduanya mengangguk, Yuni menyikut perut Reno.
"Udah-udah nggak usah tegang gitu kali. Biasa saja."
Reno dan Yuni berusaha untuk membuat suasana menjadi riang Kembali. Walaupun terasa aneh, karena di paksakan.
Sebenarnya Anugrah pun merasakan kesal, karena menurutnya Keanu itu hanya membuat perasaan nya terbang tinggi, dan terhempas ke tanah begitu saja. Apalagi setelah ia di beri surat waktu itu, dan setelah itu mereka malah jadi jarang ngobrol. Sesekali ngobrol di chat pun sangat kaku, hanya sebatas bertanya kabar. Selesai.
Sebenarnya apa mau Keanu, kalau semakin dekat dengan Osin kenapa dulu dia harus menulis surat yang membuatnya besar kepala. Ia merasa di cintai, yang akhirnya ia juga harus menyiapkan hati untuk patah.
Entahlah apa yang di lakukan Keanu dan Cintia di sana, yang jelas mereka pasti semakin akrab.
Anugrah menghela nafas, kini dirinya sudah sendirian di kamar. Reno dan Yuni sudah pulang, Karena sudah terlalu malam. Anugrah membaca surat dari Kean, dan menutupnya kembali.
Ingin sekali ia robek-robek surat itu karena hatinya yang sedang kesal, tapi ia masih bisa mengontrolnya.
Anugrah mencoba membuka ponselnya, tak sengaja ia melihat story dari Cintia. Di tempat yang terlihat seperti Cafe duduk berempat pemuda dengan senyum yang sama sama merekah. Dua cowok dan dua cewek. Mereka terlihat serasi. Apalagi Keanu duduk di samping Cintia.
Dan mereka terlihat seperti dua pasangan muda yang serasi.
__ADS_1
Senyum Anugrah miring seketika.
Ia hanya melihat story itu tanpa berkomentar, cukup dalam hati saja.