
Embusan angin sore menyapu wajah ayu Anugrah, kini dirinya tengah duduk manis menyandarkan punggung di tiang bagian depan Musala. Selepas dari pasar ia tak langsung pulang, ia memutuskan untuk Salat Ashar dan duduk-duduk sebentar. Menikmati sore dengan kedamaian.
Pikiran nya masih tertuju pada pesan-pesan yang Keanu kirim, yang mengatakan kalau Keanu sudah cerita sama Cintia, dan respon yang Cintia beri biasa saja, tak ada tanda-tanda punya perasaan.
Aneh, pikirnya.
Suasana sore yang menenangkan, melenyapkan pikiran nya tentang rumitnya perasaan.
"Eh, malah duduk manis nang kene, balik! Di cariin Mamak. Katanya anak wedok yang paling ayuuu dewek ora balik-balik."
Anugrah memberi senyum tipis, merasa lucu saat Yuni yang baru datang berbicara menirukan gaya Mamak.
"Ngapain sih di sini?" Yuni sudah duduk di samping Anugrah.
"Duduk," jawab Anugrah sekenanya.
"Galau?" Anugrah menjawab dengan gelengan.
"Kenapa?"
Anugrah menarik nafas pelan, "kamu aneh nggak? Kalau Cintia bilang sama Anu, kalau dia biasa aja. Nggak ada perasaan."
__ADS_1
"Mungkin memang sekarang dia sudah punya yang lain, Nu .... kemarin Reno bilang Cintia memang lagi ada yang deketin gitu,"
Anugrah mengangguk, "ya mungkin. Syukurlah kalau gitu." Ujarnya.
Semudah itu kah melupakan? Kenapa Anugrah dulu sangat susah untuk melupakan perasaannya pada Keanu? Apa mungkin perasaan Anugrah dan Cintia berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan itu hadir saat dirinya tengah tiduran istirahat di kamar.
Getar dari ponselnya yang berada di bawah bantal mengagetkan nya, buru-buru ia lihat siapa penelpon nya.
ANU memanggil ...
"Halo,"
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam. Lagi apa?"
"Tiduran, kamu?"
Ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan oleh Keanu di sebrang sana, saat dirinya di tanya balik oleh Anugrah. Perasaan yang membuat hatinya merasa menghangat. Sedang Anugrah biasa saja, tidak terlalu ngeh kalau dirinya menanyakan balik. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.
__ADS_1
"Sama, dong kalau gitu."
"Apanya?"
"Tiduran. Kamu kan nanya?"
"Emang aku nanya ya?" Anugrah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kapan? Batinnya.
Keanu menepuk kepalanya seketika, sembari menggelengkan kepala, tak mengerti dengan Anugrah. Selalu suka membuatnya terbang, dan dengan tak segan-segan menjatuhkan nya ke dasar tanah. Dasar.
Obrolan dengan Keanu semakin membaik, semakin lancar. Semakin seperti pasangan pada umumnya, walaupun tak di dasari dengan panggilan-panggilan sayang dan yang lainnya, namun sudah terasa lebih dekat.
Hingga seminggu selanjutnya pada malam minggu yang cerah, keluarga Pak Yudi kedatangan tamu istimewa. Tamunya memang tidak banyak, hanya dua orang namun itu sukses membuat hati anak pak Yudi dag dig dug tidak karuan.
Pak Yudi dan Mak Yanti menyambut dengan baik tamunya itu, menyuruh duduk dan menyuguhkan makanan yang entah dari kapan sudah ada. Pasalnya makanannya tidak seperti biasanya yang seadanya. Walaupun masih di bilang sederhana namun makanan yang ada di meja bukan buatan Mamak, melainkan makanan dapat Mamak beli.
Anugrah yang tadinya duduk santai di ruang tamu seusai dari Musala, langsung buru-buru masuk kamar menaruh mukena dan mengganti jilbab nya, dengan yang lebih panjang dan mengganti celana nya dengan rok.
Anugrah keluar setelah berganti, dan duduk di samping Mamak. Dua tamunya duduk manis di depan Mamak Bapak, hanya terhalang meja.
Tamunya memang sudah sering datang, hanya saja tidak biasanya seserius ini. Karena biasanya paling hanya Bu Ranti yang datang, itupun waktunya siang, sembari membeli rujak.
__ADS_1
Ya tamu istimewa itu adalah bu Ranti dan pak Runo. Dengan senyum yang sama-sama merekah di ke empat orang tua tersebut, semakin membuat Anugrah deg-degan tidak karuan. Sekarang kah?