
Mamak Yanti dan bapak Yudi langsung datang ke rumah Anugrah, begitu juga Ibu Ranti. Sedangakan Bapak Runo masih di Sekolah. Kini semuanya sudah berkumpul di mana Anugrah berada, bahkan saat Anugrah ke kamar mandi pun semua orang mengikuti.
"Di usap-usap Yan, punggungnya istrimu, sakit loh!" Perintah Ibu pada puteranya, saat melihat menantunya meringis menahan rasa sakit yang jelas-jelas tengah datang.
"Mau sama Mamak, Nduk?!" Tanya Mamak yang tak tega melihat putrinya kesakitan. Anugrah menggeleng.
"Sini, sama Bapak,"ucap Bapak. Mendekat dan duduk di sebelah Anugrah. Memeluk putrinya dari samping dan mengusap-usap lembut punggung anaknya.
Anugrah menurut, ia membawa kepalanya menyandar di dada bapaknya. Rasanya begitu nyaman.
Hingga akhirnya sampai sehabis mereka semua salat Dzuhur yang di lakukan secara bergantian, Anugrah meminta untuk pergi saja Ke Puskesmas, karena rasanya yang sudah tidak karuan. Rasa mulasnya juga sudah sangat sering. Anugrah rasanya ingin sekali mengejan. Tapi di larang oleh Ibu dan Mamak.
Akhirnya di sanalah mereka, di Puskesmas. Di ruang persalinan. Dengan di dampingi suami, Mamak, bapak, ibu Ranti juga bidan yang mendampingi sementara sebelum dokter dan Bidan Yana datang.
Setelah di lakukan pemeriksaan dalam kembali ternyata baru pembukaan enam dan Anugrah masih di suruh untuk bersabar juga masih di bolehkan untuk jalan di sekitar ruangan, kalau mau. Tapi sayangnya Anugrah sudah tak tahan yang ia inginkan hanya berbaring sembari memegangi erat-erat lengan Keanu jika rasa mulas itu datang.
Anugrah di sarankan untuk miring ke kiri, Anugrah jelas manut tidak membantah sama sekali. Bahkan dirinya tidak bersuara, hanya akan mendesis kesakitan dan mencengkeram erat lengan suaminya.
"Sembari istighfar ya, Sayang," ucap Keanu saat Anugrah tengah mencengkram erat lengan nya.
Anugrah hanya mengangguk, tak mengeluarkan suara. Keanu sampai menitikkan air mata melihat istrinya begitu kesakitan. Seandainya bisa, biarkanlah rasa sakit itu Keanu saja yang rasa.
Mamak mengusap pinggang Anugrah dari arah belakangnya, sedang Keanu di depannya dengan mengusap kepala Anugrah sesekali mencium puncak kepala Istrinya.
"Mak," panggil Anugrah pelan.
Mamak yang mendengar langsung memutar ranjang dan berdiri di samping menantunya, "iya Nduk, mau apa?" Tanya Mamak cemas.
"Maafin, Nugrah Mak," air mata Anugrah mengucur deras. Saat-saat sakit yang ia rasa yang ada di matanya hanya Mamak yang tengah kesakitan mengeluarkan dirinya.
Keanu yang melihat itu menangis dan menggeser badannya, membiarkan Mamak memeluk putrinya. "Jangan minta maap, jangan nangis, harus kuat." Mamak tak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata.
Menciumi wajah putrinya memberi semangat, mengusap perut Anugrah dan berbisik di sana, "Ayo, Cah Ayu, jangan bikin bunda mu menunggu lama," Mamak mencium perut putrinya.
Bapak tak kuasa melihat keharuan itu, ia memutuskan untuk keluar. Sedangkan Ibu Ranti memeluk putranya yang menangis karena terharu.
"Mak, kayak ada yang pecah," ucap Anugrah.
"Iya, mbak Bidan, sudah pecah ini," ujar Mamak cepat.
__ADS_1
Keanu yang mendengar itu langsung mendekat kembali ke samping Anugrah.
Bidan jaga memanggil Dokter kebetulan Bidan Yana juga sudah datang. Anugrah di bantu Bu Dokter dan Bidan Yana di sana.
Ibu dan Mamak di suruh keluar karena tidak boleh terlalu banyak orang. Jadi yang menemani Anugrah hanya Keanu saja.
"Sudah siap, ya Mbak. Ayo kita mulai, jangan mengeluarkan suara ya saat mengejan, kaya mau e e saja." Ujar Bidan Naya yang hanya di angguki oleh Anugrah.
Sekuat tenaga Anugrah mengeluarkan tenaga, mengejan dengan penuh rasa. Rasa yang sudah tak sabar, ingin rasanya ini semua cepat selesai. Sampai mengejan ke tiga kalinya barulah Anugrah merasa lega seolah semua rasa yang tadi menderanya kini pergi entah ke mana.
Tangisan kencang dari sosok mungil yang baru saja Anugrah keluarkan itu menggema memenuhi ruangan. Keanu bahkan tak kuasa menahan air mata saat melihat bayi mungil yang sudah di taruh di atas istrinya. Keanu mencium seluruh wajah Anugrah dan berbisik lembut di telinganya, "terimakasih, Sayang. I Love You."
Anugrah hanya tersenyum dan mengangguk, ia tengah sibuk memegangi anak cantik berkulit kemerahan dan wajah yang begitu imut dan mulut yang tengah terbuka mencari sumber makannya setalah menangis kencang.
Tak lama setelahnya bayi nya di ambil oleh bu bidan untuk di bersihkan, sembari menunggu Anugrah juga yang tengah di jahit. Walaupun tak terlalu banyak tapi cukup untuk membuat Anugrah kembali mendesis.
...----------------...
Kebahagiaan begitu terlihat di ruang perawatan. Ada Mamak yang tengah menggendong bayi mungil yang tengah terlelap. Di sampingnya ada bapak Yudi yang tengah mengelus-elus pipi mulus cucunya itu. Sedangkan Ibu Ranti tengah menyuapi Anugrah makan dan Keanu tengah mengurus administrasi yang tadi belum sempat ia urus ditemani Bapaknya yang langsung datang dari Sekolah, karena begitu tak sabar melihat cucunya.
Setelah selesai menyuapi menantunya, kini gantian ibu Ranti yang menggendong cucu nya itu.
"Sudah di adzanin 'kan Nu?!" Tanya Bapak yang kini sudah duduk di ujung ranjang.
"Sudah, tadi pak," jawab Anugrah. Matanya tak lepas dari putrinya yang ada di gendongan mertuanya.
"Namanya siapa ini cucu Nenek?!" Tanya Ibu Ranti.
"Alika Giska Anugrah, Nenek," jawab Anugrah dengan nada yang dibuat-buat mirip seperti anak kecil.
"Lika, aja ya panggilnya biar nggak susah," ujar Ibu Ranti sembari membaca gelang berwarna merah muda yang ada di tangan mungil cucunya.
Bayi Ny Anugrah
2800 gr
48 cm
...----------------...
__ADS_1
Anak kecil berlarian dari arah kamar ke arah ruang tengah membuat semua orang dewasa geleng-geleng kepala melihatnya. Anugrah yang terlihat gemas hanya bisa tersenyum dan mengamati tanpa bisa menggendong. Tadi pulang dari Puskesmas Mamak langsung menjemput Malik di rumahnya, di susul Yuni setelah baby Mika bangun.
Di ranjang ada dua bayi yang tengah tertidur dengan satu selimut. Dengan ibu mereka yang berada di samping masing-masing.
"Gimana rasanya, Nu?!" Tanya Yuni.
"Enak," jawab Anugrah dengan tawa.
"Enak banget, aku aja sampai dua," ujar Yuni lagi.
Mamak datang dengan jamu di tangannya, "minum dulu, Nduk."
"Makasih, Mak," Anugrah menerima dan meminumnya. Entah kenapa saat minum obat ia tak bisa namun untuk minum jamu ia bisa tanpa rasa mual sama sekali.
Yuni yang tidak terlalu suka dengan jamu hanya bisa meringis. "Mau kamu?!" Tanya Mamak yang langsung di jawab gelengan oleh Yuni.
"Sini, duduk. Tuh jagain adik-adik, lari-lari terus!" Gerutu Keanu saat menurunkan Malik di pangkuan Yuni.
Keanu sengaja membawa Malik ke kamar karena di ruang tamu tengah ada beberapa tetangga yang ingin melihat tetangga baru mereka, tamu-tamu tengah ditemani ngobrol sama dua bapak. Sedangkan Ibu Ranti sibuk membuatkan minuman untuk para tamu yang dipastikan akan keluar masuk.
"Malik, mau cium Dedek Lika nggak?!" Tanya Anugrah gemas ia beranjak dan mencium gemas pipi Malik yang ada di pangkuan Yuni.
"Awaaass!" Malik mendorong wajah Anugrah, dan turun dengan cepat dari pangkuan Mama nya dan berlari kembali.
"Eh, malah balik lagi," ucap Keanu gemas melihat Malik sudah keluar dari kamar.
Yuni dan Anugrah hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Gitu, tuh si Malik, ampun deh." Yuni menepuk jidatnya.
"Namanya juga bocah Yun, nanti kalau sudah besar bakalan rindu dengan momen seperti ini," ucap Mamak yang masih di sana.
"Iya, mak." Yuni mengangguk setuju.
"Iya, nanti kalau sudah besar juga Malik akan menjaga Lika dan Mika." Ujar Mamak sembari memandangi wajah-wajah yang tertidur pulas.
Entah kenapa Mamak merasa di antara mereka bertiga akan ada rasa yang membuat mereka harus mengalah. Nanti, saat mereka sudah sama-sama besar. Mamak tersenyum dan mencium dua pipi mengemas kan Lika dan Mika.
...----------------...
__ADS_1