Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Rujak Buah


__ADS_3

Mentari pagi ini begitu cerah, padahal baru setengah tujuh pagi tapi tempat jemuran Anugrah sudah begitu terasa panas. Anugrah tengah menjemur di bagian belakang, bersisian dengan dapur. Setelah selesai karena memang hanya beberapa helai baju saja, maklum penghuninya hanya dua orang. Ia lalu menaruh ember di dekat mesin cuci, lalu ia ke depan ke tempat di mana suaminya berada.


Keanu tengah duduk dengan semangkuk bubur ayam yang di beli tadi sewaktu Tukang bubur lewat. Anugrah lantas duduk di sebelahnya, dan mengambil gelas suaminya yang berisi teh manis. Lalu meminumnya sedikit.


"Kamu, beneran nggak mau?" Tanya Keanu pada Anugrah.


Anugrah menggeleng, "nggak pengen, lagi pengen makan rujak buah buatan Mamak. Nanti aku ke rumah Mamak dulu ya."


"Ya, nggak pagi-pagi makan rujak juga, Sayang. Makan nasi dulu," ucap Keanu sembari menghabiskan buburnya.


"Ya, kamu mau langsung berangkat?"


"Ya lah, ini 'kan udah siang, udah mau jam tujuh." Keanu berdiri membawa mangkuk bekas makan dirinya ke dapur.


Anugrah tetap diam di sana memandangi punggung suaminya sampai tak terlihat begitu belok. Pandangan Anugrah teralihkan ke ponsel suaminya yang bergetar di atas meja. Sebuah pesan yang terlihat dari jendela pesan.


[Berangkat kan Mas? Aku pengin bicara]


Kening Anugrah mengerut, hatinya berbisik. "Apalagi ini?"


Ponsel Keanu kembali bergetar, sayangnya belum sempet Anugrah melihat Keanu sudah kembali.


"Aku, berangkat, yah ...," pamit Keanu pada Istrinya. Mengambil ponsel dan memasukan nya ke dalam saku celana, menggendong tas dan mengulurkan tangan pada istrinya.


Anugrah lantas berdiri dan menerima uluran tangan Keanu, mencium punggung tangannya dan Keanu mengecup mesra kening istrinya.


"Assalamu'alaikum," ucap Keanu sembari berlalu.


"Wa'alaikumsallam," Anugrah tak turut keluar melihat sang suami pergi. Karena dirinya masih menggunakan baju pendek-pendek. Anugrah lalu mengunci pintu dan bersiap-siap.


Anugrah sudah rapi dengan gamis hitam dan jilbab panjang berwarna kunyit, ia masih berdiri di depan cermin. Memperhatikan dirinya yang terlihat lebih kurusan, tulang pipinya semakin terlihat. "Aku semakin tirus," ucap nya dengan mengusap lembut pipinya.


Setelahnya Anugrah keluar dengan mengambil tasnya. Keluar kamar dan menguncinya, memandangi rumahnya yang lagi-lagi terasa dingin. Anugrah menarik nafas kasar dan keluar. Mengunci pintu dan menaiki motor, tadi motornya sudah di keluarkan suaminya dan di panasi.


Ini masih terlalu pagi kalau untuk pergi ke Toko, akhirnya Anugrah menjalankan motornya menuju rumah Mamak, sebelum belok ke arah gang rumah Mamak ia melewati depan sekolah dasar di mana suaminya di sana. Ia bisa melihat suaminya tengah ada di depan barisan anak-anak yang tengah berbaris dengan pakaian olahraga. Setelah melambatkan laju motornya, di sana suaminya menoleh ke arah dirinya dengan senyum yang merekah, Anugrah membalasnya dengan membunyikan klakson dan berlalu dari sana.


Sesampainya di depan rumah mamak ia langsung turun dan masuk. "Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsallam," jawab bapak yang baru keluar dari kamar. Ya memang setelah sakit waktu itu, bapak tidak lagi di bolehkan untuk bekerja.

__ADS_1


"Mamak, mana, Pak?" Tanyanya sembari mencium tangan bapak.


"Di belakang, biasa."


Anugrah lantas ke dapur bagian belakang, dan di sanalah mamaknya tengah duduk membelah beberapa labu siem.


"Mak," sapa nya. Mamak hanya menoleh sebentar dan melanjutkan kembali aktifitasnya. Anugrah lantas jongkok di samping mamak.


"Mak, aku mau rujak buah dong, yang pedes banget." Katanya pada Mamak.


"Kapan?"


"Sekarang," jawab Anugrah dengan antusias.


"Masih pagi, ngarang! Nanti siang saja!" Ujar Mamak.


"Ih, orang pengennya sekarang. Ayo lah Mak, buatan Mamak sama buatan aku beda loh, enakan buatan Mamak." Ujar Anugrah lagi setengah memaksa.


"Hm, ada ada saja." Mamak beranjak dari duduknya dan ke depan, Anugrah lantas menyelesaikan pekerjaan Mamak membelah beberapa labu yang akan mamak kukus dan di jadikan sayur di dalam rujak nya.


Walaupun dengan kesal tapi Mamak tetap membuatnya. Bapak yang duduk di kursi di sana pun memperhatikan istrinya dengan serius.


"Buat, anak wadon mu. Pagi-pagi mintanya rujak buah."


"Ya, kasih saja. Cuma minta rujak buah 'kan, nggak minta warisan. Kalau minta warisan baru kamu kesel, soalnya kita nggak punya warisan."


"Halah Mbuh Pak!"


"Nduk, sudah jadi ini!" Teriak mamak.


Anugrah terdengar berlari dari dalam, dengan cengengesan ia mengambil sepiring rujak buah ektra pedas dari tangan mamak.


Duduk di depan sang bapak. Tanpa menawari ia langsung saja melahap nya setelah ber-do'a. Ia sungguh merasa sangat nikmat sekali makanan itu, Anugrah bahkan sampai memakan dengan sangat cepat, bahkan sampai habis tak tersisa sampai bumbu-bumbunya.


"Sudah makan nasi, kamu Nduk?" Tanya Bapak.


Anugrah menjawabnya dengan gelengan kepala. Dia lantas berdiri dan menaruh piring ke belakang. Lalu kembali lagi dengan teh panas satu gelas besar penuh.


"Kamu sakit, Nduk?" Tanya bapak lagi.

__ADS_1


"Allhamdulillah, enggak Pak."


"Kamu, kayak kurusan." Ternyata bapak begitu memperhatikan putrinya.


"Iya, Nu juga ngerasa kayak gitu Pak."


"Kean gimana? Masih sibuk?"


Anugrah menatap sang Bapak, "masih." Jawabnya. Seketika ia jadi mengingat pesan yang masuk ke ponsel suaminya.


"Ya, sudah lah. Nu berangkat ya Pak, nanti sore Nu ke sini lagi," ucap Anugrah setelah menghabiskan air minumnya.


***


"Mbak, Ibu mana?" Tanya Anugrah pada Mbak Fitri.


"Lah, ibu ke toko kamu, Nu," jawabnya.


"Oh, ok." Anugrah tak jadi masuk, ia lalu berjalan ke arah toko nya.


Tokonya sudah buka, karena sekarang kunci yang pegang dirinya dan Mbak Ningsih.


"Assalamu'alaikum," ucapnya begitu masuk.


"Wa'alaikumsallam, lah itu orangnya baru datang." Jawab Mbak Ningsih.


"Bu," sapa nya pada sang mertua, ia menyalami ibu Ranti dan mencium punggung tangannya.


"Ibu mau ajak kamu, ke luar sebentar," kata Ibu Ranti.


"Ke mana? Nugrah juga mau nunjukin warna-warna gamis yang soft yang ibu mau pilih yang mana, nanti biar aku sama mamak ngikut saja."


"Ya, bagus. Kita ngobrol nya di Cafe saja ya, biar santai." Anugrah menyetujuinya.


"Mbak, tak tinggal lagi ya."


Kedua wanita berbeda usia itu akhirnya pergi dengan meninggalkan Mbak Ningsih yang berdiri memandangi mereka.


"Menantu sama mertua, kayak anak sama mama. Beneran bikin baper kedekatannya." Ujar Mbak Ningsih seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2