
Jika boleh, Anugrah rasanya ingin marah. Siapa yang tidak marah, ia seolah di beri harapan palsu. Setelah di beri surat yang bisa di bilang surat cinta, tapi nyatanya story dari Cintia seolah memberi kenyataan lain.
Anugrah duduk di meja makan sederhana, menikmati sarapannya. Rasanya seperti tak selera. Mungkin kalau Keanu tak menyatakan perasaannya lewat surat, ia tak akan seperti ini. Ia pasti sudah menahan dan menyuruh hatinya untuk biasa-biasa saja.
Tapi ini ...
Handphone yang ada di meja kayu beralas taplak plastik itu bergetar, tanda ada pesan masuk. Berharap dari pembeli, supaya mood nya jadi baik. Tapi nyatanya dari orang yang tak di harapkan nya.
Dengan berat hati ia membuka pesan itu.
[Pagi Nu, lagi apa? 😍]
[Nyarap] jawaban pesan dari Anugrah. Singkat. sebenarnya ia tak ingin membalasnya. Entah lah ada rasa cemburu di sana, di pojok hatinya.
(Nyarap: Sarapan.)
[Sama apa?]
Tidak di balasnya lagi oleh Anugrah, "basa-basi. Dasar lelaki! Pasti ngerasa bersalah tuh jadi gitu." Omel nya, pada ponsel yang tak bersalah.
Nasi yang masih setengah porsi di piring itu ia makan dengan cepat karena kesal. "Harusnya nggak usah kasih harapan. Si*alan!"
__ADS_1
Sembari mengunyah nasi yang berteman lauk tumis pepaya dan tempe mendoan itu, mulutnya sembari ngomel. Sampai apa yang ia ucapkan tak jelas jika di dengarkan.
"Ukhuk-ukhuk, ukhuk-ukhuk..." Anugrah tersedak nasi dan lauk yang ia makan dengan terburu-buru. Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya, apa saja ia panggil. Sampai hewan yang tak bersalah pun turut di absen olehnya.
"Apa sih Nu .... Peliharaan tetangga kamu panggilin..." Tanya Mamak yang melongok dari dapur belakang.
"Mau kamu kasih makan?" Mamak masih bertanya, heran dengan anak perempuan satu-satunya itu. Tumben-tumbenan sambil makan sambil marah-marah.
Anugrah tak menanggapi, masih merasakan perih di tenggorokan sampai hidung nya. Satu gelas air sudah ia minum sampai habis, dan yang sekarang ia rasakan adalah kenyang Karena air minum.
Mamak hanya geleng-geleng kepala, dan berlalu ke dapur lagi. "Pembeli lewat hapenya rewel kali," pikir Mamak. Entah menjelaskan pada siapa, pasalnya ia sendirian di dapur. Suaminya sudah pergi ke kebun Tetangga. Kerja.
Anugrah menyudahi acara sarapannya, dan pamit ke Mamak. Saat Mamak menanyakan kenapa Ia tak bisa menjawab, hanya satu kata yang keluar "embuh."
Padahal yang 'embuh' itu hatinya, tapi Mamaknya pun kena sasaran.
Pasar sudah ramai saat dirinya mulai menata dagangannya di meja lapak. Semua sudah di tata rapi, sesuai ukuran. Jadi para pembeli mudah sekali memilih tanpa harus bertanya-tanya lagi.
Terlihat Bu Ranti yang sedang memasang baju di manekin, dan Anugrah mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya. Entahlah kenapa Anugrah juga merasa kesal ke semua, sampai ke Bu Ranti, yang pastinya tidak tahu apa-apa.
Ia membuka aplikasi pesan nya lagi, dan di sana ada tiga pesan baru dari Keanu yang belum ia buka.
__ADS_1
[ Gak di bales Nu,]
[Padahal aku pengin ngobrol, mumpung hari ini dosen ku nggak ngajar. Tapi kayaknya kamu sibuk]
[Selamat bekerja, Anuku Anugrahku. Jaga hati ya... Coba dekat pas santai gini pulang biar bisa liat kamu.]
"Maksudnya kamu tuh apaaa sih hah! Aku jaga, kamu nggak gitu!" Gerutunya kesal. Ponsel ditangannya ia ketuk-ketuk ke pinggir meja lapak.
"Kenapa Nu?" Tanya Bu Ranti yang ternyata sudah ada di sampingnya.
Seketika Anugrah tersadar, "hah... Em enggak ini, anu... Emmm nggak ada sinyal hehe..."
"Nggak ada sinyal malah hape mu yang di rusak,"
"Terus apanya Bu?" Tanya nya masih dalam mode cengengesan. "Si Anu, anakmu yang aku rusak maksudmu bu..." Lanjutnya dalam hati.
"Hehe, terserah kamu lah Nu. Aku mau ke rumahmu." Bu Ranti berlalu dari samping Anugrah, dengan menepuk pundak Anugrah.
Mata Anugrah mengikuti arah Bu Ranti pergi, "kenapa jawabannya bisa pas yah? Jangan-jangan Bu Ranti bisa denger suara hati orang."
Bersambung ya Nu, besok lagi ngomel²nya 🤭
__ADS_1