
Seusai salat Magrib, Keanu buru-buru melajukan motornya untuk pergi menyusul istrinya di rumah Reno. dengan sekantong kresek pesanan istrinya.
Begitu sampai, ia langsung memakirkan motornya di depan rumah yang sudah ramai oleh anak-anak yang tidak lagi kecil, anak-anak yang hampir remaja, adik dari dua sahabatnya itu. Ia bisa melihat Reno keluar, mungkin karena mendengar suara motornya.
"Assalamu'alaikum." Ujar Keanu yang lalu turun dari motor nya dan menepuk pundak Reno dengan keras.
"Wa'alaikumsallam." Jawab Reno sembari mengusap pundaknya yang lumayan sakit.
"Duduk, sini dulu, istri mu belum selesai salat," ajak Reno. Reno bahkan sudah duduk duluan di lantai. Keanu mau tak mau mengikuti sahabatnya untuk duduk di sana.
"Malik, mana?!" Tanya Keanu begitu sudah duduk di sebelah Reno.
"Di kamar, sama adik-adik," jawab Reno.
"Mas! Kamu sudah ke sini?" Tanya suara perempuan yang langsung membuat Keanu menoleh dan tersenyum dengan lebar.
"Sudah, dong!" Keanu menaik-turunkan alisnya. Membuat Anugrah mengernyitkan dahi dan ikut duduk di sisinya.
"Di bawa, nggak?!" Tanya Anugrah di sebelahnya.
Keanu menunjuk kresek yang masih menggantung di motornya dengan dagu.
"Haduhh, kalau dua bucin sudah ketemu aku bakalan jadi obat nyamuk di sini," ucap Reno dengan senyum di tahan.
"Apaan, sih Ren." Anugrah mengerucutkan bibir nya kesal.
"Eh, kamu nggak sakit perut 'kan Mas?!" Tanya Anugrah saat ia baru ingat kalau suaminya sudah memakan pecel yang begitu pedas.
"Enggak, Alhamdulillah. Enak banget loh dek, sore tadi aku bahkan makan rujak buah, kayak yang biasa kamu makan. Pantes ya, kamu doyan banget, ternyata mmm enak banget." Ujar Keanu menjelaskan pada istrinya yang sukses membuat Anugrah jadi melo tot.
"Serius, Yan! Kamu makan pedes?!" Reno bahkan tidak percaya pada sahabatnya yang biasanya anti cabai itu.
"Serius Ren!" Jawab Keanu dengan bangganya.
"Ya sudahlah, semoga perutmu nggak papa. Tunggu!" Anugrah kembali melihat suaminya, "kamu nggak makan nasi seharian?"
__ADS_1
Keanu menggeleng. Anugrah menepuk jidatnya lalu beranjak dari duduknya, ia akan membantu menyelesaikan ibu-ibu yang masih ada pekerjaan di dapur.
"Jam berapa acaranya, Ren?!" Tanya Keanu begitu istrinya tak lagi terlihat karena sudah masuk.
"Sebentar lagi juga pada datang, abis magrib sih undangan nya." Jawab Reno.
Setelahnya benar saja, para undangan pun mulai hadir. Reno dan Keanu lantas menyambut kedatangan para undangan yang adalah tetangga mereka, begitu juga bapak Reno juga Bapak Yuni.
Hingga akhirnya acara di mulai setelah para undangan datang semua, para perempuan duduk di ruang tengah, dan sebagian ada yang masih di dapur. Sedangkan Anugrah duduk di kamar belakang menemani Malik ditemani adik Yuni dan Reno. Anugrah tak tahu kalau Cintia sahabatnya sudah datang dan kini tengah duduk di ruang tengah, ikut berdoa dengan Yuni dan para ibu-ibu.
Sebenarnya tasyakuran 4 bulanan bukanlah suatu acara yang diwajibkan, tetapi diperbolehkan secara hukum Islam. Hal ini karena tasyakuran 4 bulanan biasanya diselenggarakan penuh dengan kebaikan. Seperti yang tengah di lakukan Yuni dan Suami, dengan mengundang para tetangga juga ustad yang memimpin prosesi membacakan beberapa aurat Al-Quran seperti surat yusuf, surat maryam dan surat Al-Qur'an lainnya. Yuni dan Suami juga memberikan sodakoh berupa makanan dan amplop yang isinya tidak terlalu banyak, kepada setiap orang yang hadir, juga saudara yang tidak bisa hadir, sebagai rasa syukur.
Setelah acara selesai, semua para tamu yang hadir lantas ngobrol dan menikmati hidangan yang ada. Keanu dan Reno lantas membagikan bingkisan yang isinya makanan matang dan sedikit uang di dama amplop.
Keanu bahkan membagikan bingkisan yang tersisa pada tetangganya yang tidak bisa hadir karena tidak ada kepala keluarganya, karena tidak sedikit di sana kepala keluarga yang kerjanya merantau seperti Reno misalnya. Yang jika di undang acara apapun tidak bisa hadir, karena tidak ada di rumah.
Setelah acara selesai satu-persatu tamu undangan mulai pada pulang, tersisa keluarga sendiri saja di sana. Reno dan adik-adik mulai membereskan gelas dan piring. Dan ibu-ibu di belakang dengan sigap mulai mencuci para piring dan gelas juga wadah lainnya.
Sedang Anugrah di kamar belakang tengah mengayun-ayun Malik yang sudah begitu ngantuk. Ia bahkan harus mengusir adik-adik sahabatnya itu karena mengganggu Malik yang sudah rewel.
Tanpa Anugrah tahu, kalau Cintia dan Yuni tengah mengintip dirinya di pintu dengan daun pintu yang sengaja di buka sedikit, agar mereka bisa melihat sahabatnya itu.
"Pasti. Dia memang paling baik," jawab Cintia jujur.
"Udah, yuk. Kita sambil siapin buat bakar-bakaran nya dulu, abis itu baru kita panggil Nu," ajak Yuni.
Cintia mengangguk dan menutup pintu kembali dengan pelan. Menggandeng lengan Yuni dan berjalan ke arah luar, menuju para lelaki dan anak-anak yang sudah ramai di luar.
"Istri ku mana?!" Tanya Keanu yang melihat kedua sahabatnya keluar.
"Lagi bobo-in Malik, sebentar lagi juga keluar." Jawab Cintia.
Cintia lantas jongkok di samping Keanu sembari membantu membuka bungkus sosis, sedang Keanu tengah membuka bungkus jagung.
"Sin! Kamu bau banget, sum pah!" Keanu menutup hidungnya dan berdiri menjauh dari Cintia
__ADS_1
"Masak sih?!" Cintia mencium jilbab dan lengan bajunya, "enggak kok, wangi kayak biasa." Ujarnya.
Yuni yang sedang duduk memperhatikan tersenyum lucu pada Keanu yang menurutnya aneh. Karena dari tadi ia di samping Cintia menurutnya malah wangi. Wangi dan cantik seperti biasa.
"Serius, bau banget. Bikin mual, uwweeekk!" Keanu benar-benar mual, ia bahkan menjauhkan dirinya dari Cintia karena rasanya ingin muntah.
Reno mengernyitkan dahi, lalu mendekat ke arah Cintia. "Biasa aja kali, Yan! Bau wangi gini kok." Ujar nya membela Cintia, karena memang Cintia tidak bau seperti yang Keanu katakan.
"Haduh, serius. Maap Sin," Keanu mengatupkan kedua tangannya di dada, "aku juga nggak ngerti, bau wangi sedikit bikin mual," jelas Keanu tidak enak hati pada sahabatnya itu.
"Ngeselin, ah! kamu Yan. Kayak orang hamil aja!" Kesal Cintia.
"Apa, sih pada ribut-ribut?!" Anugrah keluar dari dalam. "Hai, Sin ... kapan ke sini kamu?" Anugrah langsung mendekati Cintia dan memeluknya.
"Udah lama, Nu. Oh ya, tuh lihat suamimu, lebay. masak aku wangi gini di bilang bau," tutur Cintia pada Anugrah.
"Masak sih?! Kenapa?" Anugrah hampir tertawa mendengarnya.
Cintia mengedikan bahunya.
"Ngidam, Nu. Suamimu!" Ujar Reno.
"Tapi, bisa jadi loh Nu," ucap Yuni.
"Kenapa, Mas?!" Anugrah mendekat ke arah suaminya yang berdiri jauh dari mereka.
"Nggak tahu, mual banget aku bau wangi-wangian kayak gitu." Jawabnya serius.
"Ck, ini pasti karena kamu abis makan pedas, jadi perut kamu mual. Mag pasti nih, mana makan pedes terus lagi." Omel Anugrah.
"Si Kean makan pedas Nu?!" Tanya Cintia tak percaya. Anugrah menoleh dan mengangguk.
"Wih, keajaiban," ucap Cintia dengan menahan tawa.
"Ya, sudah, kamu di sini aja, nanti kalau sudah matang aku kasih," Anugrah bergabung dengan Reno dan Cintia juga yang lainnya. Karena yang bertugas membuat bumbu lagi-lagi tetap emak-emak. Anak-anak bahkan begitu antusias.
__ADS_1
Begitu ada yang matang Anugrah mengambilkan untuk suaminya, tapi ia tetap makan bersama yang lain. Apalagi makan dengan emak-emak yang menurutnya lucu saat apa saja di jadikan plesetan. Seperti ... "jagungnya nggak se-sedap punya bapak." Atau, "lah, sosisnya kecil kaya punya Malik."
Haha dasar emak-emak, apa pun pasti di pleset kan ke mana saja. Anugrah menepuk jidatnya.