
Hari berlalu, Keanu dan Anugrah sudah kembali baikan. Tak lagi ada bahasan tentang Cintia atau Anwar. Karena memang setelah itu Anwar tidak nampak lagi, mungkin sudah kembali lagi ke Kota.
Tentang Cinta tak lagi Anugrah bahas dengan Keanu. Kini Anugrah sudah mulai cuek, karena ia mendengarkan omongan Yuni dan Reno kalau dirinya tidak boleh terlalu baik, yang akhirnya merugikan dirinya.
Anugrah kini tengah duduk di teras bersama sang Bapak. Bapak duduk dengan teh hangat juga cemilan pisang goreng panas yang baru Anugrah ambil dari dapur, Mamak yang buat.
"Pak, kalau Kean mau beliin kios yang di dalam pasar, Anugrah terima nggak ya?" Tanya Anugrah serius. Karena sekarang ini itu yang sedang ia pertimbangkan.
Bapak menaruh gelas berisi tehnya kembali di depannya, setelah sebelumnya meminumnya sedikit.
"Gini, Nduk ... bukannya nggak boleh menerima, tapi jodohkan kita nggak tahu, lama atau nggak nya. Ya bukan juga ber'doa jodohmu dengan Nak Kean supaya nggak lama, hanya saja kalian kan belum menikah, bapak hanya takut, nanti kalau sudah di beri banyak, apa aja di kasih, terus kalian bubar. Apa ya ... nggak repot?"
(Bubar : Selesai)
Anugrah hanya mengangguk sambil memikirkan ulang apa yang Bapak bilang.
"Bapak sih ya berharapnya kalian bisa sama-sama sampai tua, sampai maut memisahkan. Cuman kan kita nggak tahu apa yang akan terjadi nanti, inget Nduk, Tuhan Maha membolak-balikan hati manusia. Terkecuali kalian sudah menikah, terserah suamimu nantinya mau belikan apapun buat kamu." Ujar Bapak lagi.
"Ya, kalau udah nikah nggak bakal nanya dulu sama Bapak," ucap Anugrah.
"Mau nikah cepet-cepet?" Tanya Mamak yang baru keluar dari dalam rumah dengan gelas di tangannya.
__ADS_1
Bapak dan anak yang tengah ngobrol itu mengalihkan pandangannya pada perempuan yang baru bergabung itu, sampai Mamak duduk di samping Anugrah.
"Enggak, wong Keanu masih sekolah." Kata Anugrah cemberut.
Entah apa yang membuat Anugrah cemberut, entah karena kios yang ia inginkan tapi belum bisa ia beli sendiri, atau karena hubungannya dengan Keanu yang entahlah. Anugrah berpikir, untuk melaju ke jenjang yang lebih serius (menikah) itu membutuhkan waktu yang lama.
Sekarang Keanu masih kuliah, nanti pastinya akan mencari kerjaan dulu, setelah kerja mungkin Keanu juga seperti anak yang lain, ingin membahagiakan orangtuanya dulu sebelum menikah. Jadi untuk ke jenjang pernikahan akan sangat lama lagi.
Tapi seketika Anugrah tersadar.
Menikah? Apa aku siap, jika menikah muda? Aku aja belum bisa bahagiakan Mamak sama Bapak, udah mikirin nikah sama Anu yang masih lama. Tapi bukannya Mamak ... enggak, aku nggak mau mikirin nikah dulu, aku mau usahaku sukses dulu.
"Malah ngelamun," ucap Mamak lagi.
"Mamak nanya, emang kalau nggak sekolah mau nikah muda? Wong calon mu belum kerja." Kata Bapak.
"Enggak, Anugrah masih pengin benerin usaha dulu biar lancar, nikah nanti aja," ucap Anugrah serius.
Mamak bapak saling diam, Anugrah yang merasa obrolan dengan orangtuanya udahan pun beranjak masuk. Meninggalkan ke-dua paruh baya itu menikmati sore hari dengan teh hangat, berduaan.
Begitu masuk ke dalam kamar Anugrah mengecek ponselnya, takut-takut Ayang nya telpon. Tapi nyatanya tidak ada pesan. Hanya satu pesan yang ia buka, dari Bu Ranti.
__ADS_1
[Nu, daun pepaya belakang rumahmu masih nggak? Ibu mau.] Pesan dari Bu Ranti, sepuluh menit yang lalu.
Anugrah tak langsung menjawab, ia malah langsung ke dapur dam keluar ke belakang rumah lewat pintu belakang, di dapur dengan tungku.
Ada dua pohon pepaya di sana, satu yang masih kecil dan satunya lagi udah tinggi sekali. Perlu galah untuk mengambilnya.
[Ada, Bu ... mau buat kapan?] Anugrah membalas pesan Bu Ranti begitu ada daun pepaya nya.
Tak lama pesan itu berubah warna, dari centang hitam ke centang biru, lalu di bagian atasnya terdapat tulisan mengetik ...
[Buat sekarang boleh, Nu.]
[Ok! Bu.]
Anugrah mengantongi ponselnya dan masuk lagi ke dalam rumah, ia harus ke depan rumah dulu guna mengambil galah yang panjang untuk mengambil daun pepaya itu.
"Buat, apa Nu?" Tanya Bapak yang masih duduk di teras. Tadi Anugrah hanya melewati.
"Mau ambil daun pepaya, buat Bu Ranti." Jelasnya.
Ia lalu membawa galah tersebut lewat samping rumah. Galah panjang yang biasa ia pakai untuk menjemur cucian.
__ADS_1
Setelah sampai di belakang rumah ternyata bapak sudah siap di sana, bapak langsung meminta galah itu dari tangan Anugrah dan membatu putrinya untuk mengambil daun pepaya yang ada di atas sana.
"Makasih, Pak ..."