Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Mantap


__ADS_3

Di kamar yang sudah di padamkan lampunya, gadis cantik yang baru di lamar itu tengah duduk di atas kasurnya, memandangi benda kecil yang melingkar di jari manisnya. Satu permata nya berkilauan, karena pantulan cahaya dari lampu depan kamar Anugrah.


Ya perempuan itu adalah Anugrah, ia masih begitu tak percaya. Masih berasa kaya mimpi, baginya. Di lamar, walaupun tidak semeriah orang-orang, namun menurutnya ini lebih berasa di hati. lebih ngena ujarnya dalam hati.


Tadi seusai acara ngobrol, Pak Runo menelpon anaknya, dan mereka ngobrol bersama. Dan disana Keanu tidak sendiri ada Reno juga di sampingnya. Dan itu menambah keseruan obrolan.


Ponselnya bergetar lama, menandakan ada telpon masuk.


"Assalamu'alaikum," ujarnya begitu tombol hijau sudah ia usap.


"Wa'alaikumsallam, VC bisa nggak?" Ujar si penelpon


"Ora bisa, ora nganggo jilbab." Kata Anugrah.


"Oh, lagi apa?"


"Tiduran, ngapain lagi emang."


"Di pakai nggak?"


"He em, di pakai, makasih."


"Kecil ya, nanti ya yang bagus kalo udah kerja, hehe."


"Kalau gede, kegedean dong. Jari aku nggak segede itu ya"


"Kecil harganya, maksudku Nu..."

__ADS_1


"Hehe, umum kok, aku ya nek beli yang kayak gini."


"Allhamdulillah, sayangnya aku nggak di sana ya,"


"iya,"


"Makasih ya udah di terima, sebenarnya tadinya agak ragu. Takut di tolak, makanya aku cuma nyuruh Ibu sama Bapak, kalau tahu bakalan di terima aku suruh bawa rombongan."


"Kenapa bisa berpikir di tolak?" Anugrah mulai nyaman dengan obrolannya, ia mulai merebahkan tubuhnya, sembari memandangi cincin yang terlihat indah.


"Kamu, itu kaya masih kaku sama aku. Apa yah, ya gitu deh. Mungkin kamu masih agak ragu."


"Iya, sih. Sebenarnya ini juga terlalu dini Nu. Maksudnya ya, kamu selesain kuliah dulu, aku kembangin usaha aku, terus kamu kerja yang bener-bener dulu gitu. Baru kalau masih di kasih buat bersama, baru deh mulai melanjutkan ke langkah yang lebih serius."


"Iya, tapi kamu tahu kan, kalau di tempat kita. Sebelum ada omongan antara orang tua, mau kita udah pacaran atau belum, begitu ada orang lamar pasti bakalan di terima. Apa lagi kalau orang yang lamar udah mapan, aku nggak mau kamu di ambil orang. Seenggak nya kalau udah gini, kan Bapak sama Mamak sudah mantap, kalau aku tuh sama kamu bukan untuk main-main." Ujar Keanu panjang lebar.


Anugrah mengangguk, membenarkan walaupun sudah jelas Keanu tidak bisa melihatnya. Memang benar apa yang Keanu bilang. Mengingat dirinya yang sudah besar, pasti tidak menutup kemungkinan akan ada yang ngelamar walaupun ia tidak kenal. Di desa kadang memang seperti itu, walaupun tidak semua. Perempuan di larang menolak lamaran, apalagi kalau yang melamar sudah jelas kemapanannya.


"Hehe, bingung mau ngomong apa."


"Ish, gini dong, aku ajarin yah..."


"Kayak gimana?" Anugrah mulai serius.


"Ikutin yah,"


"He,em."

__ADS_1


"Mas, Nu..."


Anugrah mengikuti, "Mas Nu,"


"Aku rindu," ucap Keanu sembari menahan tawa di sebrang sana.


"Aku, eh tunggu. Apa?"


"Yah, Nu. Kamu tadi ke hipnotis apa gimana sih, langsung sadar aja."


"Hehe, nggak tahu. Aku apa tadi?"


"Aku rindu." Jawab Keanu kesal.


"Hehe, aku juga,"


"Apa?" Keanu seperti tidak percaya.


"Nggak jadi, hehe..."


"Nu..."


"Aku rindu suara Adzan kamu,"


"Aku juga rindu banget, sama kamu. Kamu yang suka curi-curi pandang kalau aku lagi ngajarin ngaji bocil. Eh gimana sekarang bocil-bocil?"


Untuk pertama kalinya Keanu dan Anugrah ngobrol begitu lama. Yang membuat paginya Anugrah kesiangan dan tidak ikut berjamaah ke Musala.

__ADS_1


Entah kenapa juga Anugrah merasa ada yang baru di hatinya, perasaan yang sulit di jelaskan. Merasa hangat dan, merasa seperti jatuh cinta kembali. Tapi pada orang yang sama. Benar kata Keanu, mungkin kini Anugrah juga lebih merasa mantap akan hubungan mereka.


.......


__ADS_2