Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Meluapkan Perasaan


__ADS_3

Meluapkan Perasaan Antara Anugrah Dan Mamak.


......................


Kesal. Itu yang di rasakan Keanu. Padahal tadi pagi aman-aman saja, entah apa sekarang salahnya sampai istrinya sewot terus padanya.


Keanu pamit pada Anugrah untuk ke Masjid yang ada di Pasar, ia pamit akan salat duhur di sana. Sedang Anugrah ia bilang akan pulang ke rumah Mamak dan duhur di rumah Mamak.


Keanu mencoba untuk biasa saja, dan tidak marah balik pada istrinya. Selagi ia belum tahu apa masalahnya, lebih baik ia diam dan menyingkir sebentar, sebelum ikut marah dan berbicara kasar.


***


"Mbak, aku pulang dulu ya, nanti kayaknya aku nggak balik ke sini, di tutup sama sampeyan saja ya," pamit Anugrah pada Mbak Ningsih.


"Ya, Nu," jawab Mbak Ningsih.


Waktu sudah siang dan Mbak Ningsih baru selesai salat duhur di Toko, ia kini tengah membuka bekal makanan yang ia bawa dari rumahnya setelah melihat bos muda nya pergi.


Baru sesuap ia sudah di kaget kan dengan kedatangan suami dari bosnya itu.


"Ya, Allah Yan, ngagetin aja sih koe!" Ujar Mbak Ningsih karena tiba-tiba Keanu sudah berdiri di depannya.


"Maap, Nugrah mana Mbak?" Tanyanya sembari cengengesan.


"Balik, Yan. Nggak balik lagi katanya, aku yang suruh nutup Toko. Nanti kuncinya bawa kamu saja ya," ucap Mbak Ningsih. Ia tetap melanjutkan makannya, " eh, lupa. Mau nggak Yan?" Tanya Mbak Ningsih menyodorkan kotak nasinya yang terlihat hanya nasi dan tumis sawi campur tahu.


Keanu menggeleng kan kepalanya, "enggak. Nih ada lima ribu, buat beli gorengan, biar nggak sama tumis tok makan nya Mbak," Keanu memberikan uang lima ribu yang baru ia ambil dari saku celananya pada Mbak Ningsih.


"Makasih," mbak ningsih memberhentikan makannya dan pergi membawa uang yang di berikan Keanu.


"Huhh...!!!" Keanu mengembuskan nafas kasar, ia duduk di kursi dan membuka ponsel nya.


[Dek,] pesan Keanu.


[aku, nggak balik ke Toko lagi ya Mas, mau bantuin Mamak bikin rujak. Pesanan lagi banyak.] Balas Anugrah.


[Ok! Sayang, aku tetep di Toko bantuin Mbak Ningsih.] Balas Keanu lagi.

__ADS_1


Hanya di baca dan tidak di balas.


"Entah lagi kenapa istri tercintaku itu," gumam Keanu.


Dan di sana, di rumahnya, Anugrah tengah duduk di atas sajadah. Ia baru saja selesai dari salat duhur nya. Ia masih memakai mukenah saat selesai membalas pesan dari suaminya.


"Nu," panggil Mamak dari luar kamar Anugrah.


"Ya, Mak," jawabnya yang segera langsung melepas mukenah dan menaruhnya di atas meja begitu juga ponselnya. Anugrah keluar menuju Mamaknya yang ada di sana tengah membuat pesanan rujak.


"Kenapa, Mak?" Tanyanya, ia lalu duduk di kursi di belakang mamaknya.


"Ini, nanti anterin ke rumah Bu RT, pesen sepuluh Mamak males nganter nya." Kata Mamak.


"Aku makan dulu, ya," ucap Anugrah.


"Kamu, mau makan di sini, suamimu nggak di bawakan?" Tanya Mamak lagi. Tapi Anugrah sudah ada di dalam, tengah mengambil nasi dan lauk.


"Aku nggak balik ke Toko lagi, Mak," ucap Anugrah yang sudah duduk kembali di kursi dengan sepiring nasi.


"Ya, di sana. Dia yang di Toko." Jawab Anugrah sembari makan sampai lupa kalau ia membuat Suaminya kebingungan karena sikapnya.


"Bocah semprul, makan enak di sini suamimu nggak di bawain." Mamak kesal membalik badannya dengan menunjukan ulekan ke depan Anugrah.


"Ya, Allah. Ampun Mak, iya ini tak telpon maunya gimana."


Anugrah lantas menaruh piringnya di meja dan berlalu ke kamar. Mamak yang kesal karena sikap anak perempuan nya itu ber-istigfar dan kembali melanjutkan membuat pesanan.


Tut ... Tut ... Tut ...


Dua kali Anugrah memanggil namun tak kunjung di jawab. Akhirnya ia kembali melanjutkan makannya dengan membohongi Mamak kalau suaminya sudah makan di sana.


Kini sepuluh bungkus rujak sudah siap. Mamak sudah membaginya menjadi dua kantong karena plastik kresek yang mamak punya tak ada yang ukuran nya besar.


"Nih, Nu ... sudah siap." Kata Mamak.


"Mak, biasanya Mamak paling semangat antar rujak ke rumah Bu Rt, kan kalian bestie."

__ADS_1


"Apa sih, besta-besti. Lagi males Nu, males keluar rumah, lagi pengin di rumah ngadem." Ujar Mamak. Tampak kesedihan di wajah Mamak yang Anugrah sendiri tahu penyebabnya.


Anugrah mengangguk dan pergi membawa pesanan Bu Rt itu dengan motornya.


Sebentar saja, karena setelah mengantar dan di bayar ia langsung pergi. Tak perlu basa-basi karena tamu Bu Rt sedang banyak. Mungkin kedatangan tamu penting.


Anugrah kembali ke rumah setelah itu. Mamak masih di sana, duduk di kursi ruang tamu sembari menghitung uang yang ada di kaleng biskuit.


"Mak, mamak pengin punya cucu?" Tiba-tiba saja Anugrah bertanya seperti itu. Ia yang baru datang langsung duduk di samping Mamak dengan merangkul dari samping sang Mamak.


Mamak menoleh ke arah Anugrah, matanya berkaca-kaca, lalu mengusap pelan pipi anaknya.


"Sedikasihnya saja, Nu ... Tapi Mamak ber-do'a semoga kamu segera mendapatkan amanah berupa anak. Mamak nggak mau denger lagi orang-orang pada ngomongin kamu, hati Mamak sakit Nu ... Mamak dulu pernah merasakannya, dan Mamak nggak mau kalau sampai kamu merasakannya juga," ucap Mamak. Air mata nya tidak hanya menetes tapi mengucur deras.


"Mak, kita nggak boleh mikirin omongan orang. Mamak yang selalu bilang sama Nu, kalau ngurusin omongan orang kita yang kalah. Kita harus biarkan mereka ngomong apa, itu hak mereka. Yang penting Mamak harus nguatin Nu, supaya Nu kuat. Ini bukan karena faktor keturunan Mak, tapi faktor rezeki." Jawab Anugrah.


Anak dan ibu itu saling memeluk, meluapkan perasaan yang membuat sesak di dada. Karena tak ada ibu yang suka anaknya di bicarakan, apalagi kejelekannya. Begitu juga anak, sudah pasti Anugrah tak suka kalau sampai mamaknya mendengar hal yang membuat hati Mamak sakit, apalagi itu karena tentang dirinya.


"Sudah, sekarang kita harus bersikap bodoh amat." Anugrah melepaskan pelukannya.


"Sabar, kuncinya harus sabar. Hidup bertetangga memang sudah seharusnya seperti ini." Ujar Bapak yang baru pulang dari sawah. Sawah tetangga tentunya.


Bapak masuk dan duduk, sudah dari tadi bapak berdiri di pintu menyaksikan dua perempuan yang menemani hari-hari nya itu saling menangis dan menguatkan.


"Pak," Kedua perempuan beda usia itu menoleh.


Bapak mendekat dan duduk di depan mereka.


Mamak menghapus sisa-sisa air matanya dengan ujung jilbab nya, dan berlalu ke belakang. Mengambilkan air minum untuk suaminya.


Anugrah tersenyum pada sang Bapak. Bapak mengacungkan jempolnya pada putrinya, "keren. Bapak suka dengan sikap kamu, kita nggak boleh ngurusin omongan orang. Biarkan. Kecewa, pasti ada, kesal, jelas. Tapi mau bagaimana? Beda orang beda pendapat bukan? Biarkan mereka dengan pendapat mereka tentang keluarga kita. Jangan di pikirkan apalagi sampai sedih banget kayak Mamak, itu nggak baik." Ujar Bapak panjang lebar.


"Minum nya Pak, nggak usah ngomongin aku!" Ujar Mamak. Ia menaruh gelasnya dengan sedikit kasar sampai menimbulkan sedikit bunyi. Dan kembali masuk ke dalam.


"Hihi, Mamak masih kesal Pak," ucap Anugrah. Ia sudah merasakan lega sekarang, saat apa yang ingin ia tahu dari mamaknya sudah ia ketahui dan sudah ia bicarakan.


Bapak meminum minuman suguhan dari istrinya itu dengan senyum yang merekah. Ia pasti bangga pada dua perempuan pengisi hidupnya itu yang sudah tegar, sampai sekarang. Terlebih pada Mamak yang setia menemaninya sampai di usia senja seperti ini, walaupun kehidupan mereka tak selalu sesuai keinginan.

__ADS_1


__ADS_2