
Lain Anugrah lain lagi dengan Cintia. Jika sahabat lain akan bahagia seperti Yuni dan Reno, tidak dengan Cintia. Ia merasa kesal pastinya. Belum rencananya ia mulai, nyatanya Keanu malah sudah melamar Anugrah duluan.
Entah kenapa ambisi untuk memiliki Keanu semakin menjadi-jadi, apa lagi kini Keanu terlihat tampan. Beberapa bulan di kota ia terlihat lebih tampan menurut Cintia, lebih modis dan terlihat lebih cool. Keanu bahkan selalu menarik perhatian para ciwi-ciwi. Bahkan banyak sekali yang mendekati nya, hanya untuk mengajak berkenalan.
Kini dirinya tengah duduk di depan kamar kos nya, menggulir layar ponsel yang tengah menampilkan story bahagia Keanu, Ibunya, Yuni, juga Reno. Hanya dirinya dan Anugrah yang tidak membuat story acara Anugrah di lamar Bu Ranti.
Jika biasanya selepas ngampus dia akan duduk-duduk di kosan Keanu, kali ini ia merasa sangat malas. Jika di paksakan pergi menemui Keanu, sudah di pastikan ia bisa marah-marah dan hilang kendali untuk meluapkan emosi. Dan inilah satu-satunya cara agar rencana nya juga berjalan mulus, tanpa halangan.
Musik indah mengalun merdu, dari ponsel Cintia saat ada penelpon. Cintia lalu menjawabnya.
"Gimana?"
"Ada, nih. Cuman memangnya Kean mau ya? Secara dia paling susah kalau di ajak ke tempat kayak gitu."
"Ya terserah, kamu atur aja. Aku maunya rencana kita berhasil," ucap Cintia dengan kesal.
"Ya udah aku tutup, kita lihat saja malam minggu nanti. Berhasil nggak."
Telepon pun di akhiri, Cintia menatap layar ponsel yang sudah gelap. Seperti hatinya.
__ADS_1
____
Tiba malam minggu, Reno yang baru pulang dari kerjanya sengaja nongkrong di kosan Keanu. Begitu pun dengan Cintia. Duduk-duduk menikmati cemilan yang di bawa Cintia. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, tapi seseorang yang menjadi suruhan Cintia belum juga mengajak mereka pergi, belum memberi kabar lewat sambungan telpon. Dan itu membuat Cintia bolak balik melihat ke layar ponselnya.
Mulut Reno asyik berbicara sembari mengunyah makanan, tangannya sibuk mengambil makanan ringan yang ada di depannya. Keanu hanya jadi pendengar setia. sesekali tertawa saat sekiranya ada yang lucu.
"Kenapa sih, Sin... Sibuk bae," ucap Reno pada Cintia.
Cintia tal merespon, ia masih hanya menaruh ponselnya di sampingnya dan ikut memakan cemilan yang ada.
"Kenapa?" Tanya Keanu.
"Kangen Gilang?" Canda Keanu.
"Paan sih!"
"Kangen minta di lamar Sin, kaya Anu tuh gercep. Ya ora Nu," ucap Reno.
Keanu hanya mengangguk.
__ADS_1
"Males, masih kecil juga!" ujar Cintia dengan ketus.
"Weh jangan salah..." Kata Reno, mulutnya akan mengeluarkan kalimat panjang lebar tapi di potong oleh Keanu.
"Usah, udah. Kalian berdua nih berisik mulu."
Setelah pukul sembilan malam, Cintia dan Reno belum pulang dari sana. Masih menikmati obrolan dan cemilan. Juga dengan telpon dengan dua sahabat yang ada di Desa. Selain memasang wajah yang di manis-maniskan di saat hati kesal, Cintia juga harus menahan diri untuk tidak memarahi temannya yang tidak ada kabar sama sekali.
Baru setelah waktu menunjukan pukul sepuluh, ponsel Cintia berbunyi menandakan ada telpon masuk. Namun sayang, bukannya mendapat kabar bahagia soal rencana nya. Ini malah mendapat kabar yang tidak enak di dengar.
Cintia menyingkir untuk mengangkat telpon tersebut.
"Kamu gimana sih!"
"_____"
"Apa!"
"S*al!" Umpatnya.
__ADS_1