Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Mendung Seharian


__ADS_3

Pagi ini tak secerah kemarin, kabut masih terlihat walaupun jam menunjukan pukul tujuh.


Anugrah di buat bingung, dirinya baru saja membawa keluar se-ember cucian. Dan di tumpukan teratas ada mukena dari Keanu yang sudah ia cuci, inginnya hari ini kering nanti sore bisa ia pakai. Tapi nyatanya keinginannya tidak di beri jalan mulus.


"Kenapa, Nu?" Tanya Mamak yang duduk di kursi di ruang tamu, dengan piring dan gelas besar berisi teh panas.


Anugrah menoleh melihat ke arah dalam rumah, "di jemur nggak ya Mak?" Tanya balik Anugrah.


"Nanti aja, sarapan dulu," ujar Mamak.


Anugrah menurut, meninggalkan ember cuciannya dan berlalu ke dalam, melewati Mamak yang tengah menikmati sarapan. Berjalan terus sampai belakang, di ruangan yang bisa di sebut ruang makan, walaupun sebenarnya lebih tepatnya adalah ruangan tempat menyimpan makanan. Karena walaupun sudah tersedia kursi di ruangan itu, tapi jarang sekali mereka makan bersama di sana.


Lebih sering mereka bertiga makan di ruang tamu sembari menonton TV, bahkan makan pun jarang sekali bersama. Siapa lapar duluan, dia yang makan duluan. Seperti itu, tidak ada acara sarapan ataupun makan siang bareng.


Anugrah lalu duduk di kursi sebelah Mamak, mengambil gelas besar yang berisi teh punya Mamak dan meminumnya.


"Akhhhh. Segeeeerrr," ucap Anugrah sambil menaruh kembali gelas besar yang isinya sudah berkurang itu.


"Seger, wong tinggal minum." Kata Mamak sebal.

__ADS_1


Anugrah hanya cengengesan, lanjut ber-'doa dan memulai sarapan.


Jangan di tanya Bapak Yudi kemana, karena bapak pekerja keras itu sudah berangkat pagi-pagi sekali untuk bekerja. Demi sesuap nasi untuk dua bidadari nya di rumah.


________


Seperti pagi yang berkabut, ternyata sampai siang pun matahari tak terlihat menampakan keberadaannya. Selain di buat bingung karena cucian yang tidak ia jemur, ia juga bingung dan takut jika tiba-tiba saja hujan karena dagangan sudah ia tata rapi di meja lapak. Mana payung besar nya sobek sedikit di bagian tengah, aduh... Itu menambah kekhawatiran yang di rasa Anugrah.


Ia kini tengah siap siaga. Dagangan nya yang bukan makanan itu ia tutup dengan plastik bening yang lebar, yang baru saja ia beli. Untung nya pembeli nya hari ini lumayan banyak, baik pembeli langsung ataupun yang melalu pesan aplikasi. Mungkin karena barang-barang yang baru datang dan ia unggah di akun sosial medianya, jadi banyak yang pesan.


"Mendung terus ya, Nu," kata Siti yang duduk di samping meja lapaknya.


"Iya, iya. Yang hatinya sudah nggak mendung."


"Mbak cilok nggak ngider sini, ya Nu... Padahal enak nih mendung-mendung makan cilok pedes ya," ucap Siti lagi.


"Iya, ya. Bentar coba tak telpon," Anugrah lalu terlihat membuka ponselnya, menanyakan kabar cilok yang di bawa keliling ke mana.


"Nggak bikin, Ti." Ujar Anugrah begitu mendapat balasan dari Yuni.

__ADS_1


"Hish, gimana sih tuh bakul. Nggak tahu momen pas untuk jualan." Gerutu Siti kesal.


"Haha, nanti juga ada Ti cilok lain."


_____


Ternyata sampai sore cuaca nya tetap mendung, tapi tak menurunkan air sedikitpun, gerimis kecil-kecil pun tak datang. Begitu selesai membereskan dagangan nya dan menaruhnya di jok motor Anugrah menurunkan payung besar dan menutupnya. Menaruh di bawah meja lapaknya.


"Nu, ni ada surat cinta," Kang Yono memberikan selebaran, sebuah undangan untuk musyawarah.


"Khusus pedagang lapak," Kang Yono Menjelaskan, begitu Anugrah menerima kertas yang di lipat tersebut.


"Bahas apa Kang?" Tanya balik Anugrah.


"Kurang tahu pastinya, sih. Tapi kayaknya para pedagang lapak bakalan di pindahkan," ucap Kang Yono.


Anugrah mengangguk sebagai jawaban. Mau bagaimana pun para pedagang lapak nggak boleh marah kan kalau harus di pindahkan, karena mau membela seperti apapun, itu bukan tempat yang sebaiknya untuk berjualan. Pikir Anugrah.


Kang Yono berlalu, membagi-bagikan kembali sisa undangan yang masih ada banyak di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2