
Ternyata seharian tiduran di rumah lebih menyedihkan di banding tiduran di rumah sakit. Walaupun harus cuek pada suaminya, tapi ternyata itu lebih baik dari pada tiduran dan kesepian. Ia merasa ada yang kurang, padahal jelas-jelas ini adalah keinginannya. Tapi, entah kenapa hatinya tak mendukungnya. Si al!
Ini sudah pukul sembilan malam, tapi matanya belum bisa terpejam, padahal tadi sewaktu duduk ngobrol sama Mamak ia merasakan kantuk. Ada apa pada hatinya?
"Huh...." Ia menghembuskan nafas kasar. Mengambil ponsel yang ada di atas meja, dan memutar musik. Ia berharap setelah itu ia tertidur dengan hati yang melupakan suaminya.
Alby nadalak, khen fe youm w ta'ala
wadeek rokhy bas ta'ala
yally bakhebak arrab, tammen alby 'aleek
betgheeb ayam w layaly
wenta ma betgheeb 'an baaly
w troukh w tseebny 'aleek mashghoul
bakhlam be 'eineek w gharamak
w badoob fe hawak w kalamak
__ADS_1
wala leila leya 'alaya ttol
law 'ala alby daab fe hawak w kfaaya
leil w sahar w 'enaad wayaya
gowwa 'oyouny khaneen w gharam
moshtaa le 'eineek
esmaa' menny w 'eesh ma'a alby zamany
kefaya 'esht keteer men ablak
bakhlam beek
(Law Ala Albi ya di populerkan oleh Fadel Shaker )
Tapi alih-alih bisa tidur ternyata ia malah semakin teringat pada suaminya, mau bagaimana lagi kalau yang di dengar adalah lagu kesukaan suaminya. Aduh doble si al.
Bahkan lagu berikutnya pun sama-sama membuat nya kesal yang langsung mematikan daya ponselnya seketika.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Kenapa aku yang kena imbasnya? Kalau memang dia berbuat salah harusnya 'kan yang di hukum dia, jangan aku dan ... anak aku," ucapnya setelah itu jangan tanya kan air mata yang kenapa tiba-tiba keluar.
Lagi dan lagi, ikhlas juga adalah hal yang paling sulit untuk di lakukan. Menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan, mencoba meredakan emosi yang tiba-tiba hadir setelah semua ingatan kembali muncul.
Anugrah tak kuasa untuk meluapkan emosi dengan air mata, sampai entah jam berapa mata yang lelah itu akhirnya terlelap.
Dalam tidurnya entah nyata atau tidak, Anugrah merasa ada seseorang yang membenarkan posisi tidurnya, menyelimutinya, dan ... ia merasa ada yang mengecup keningnya dengan begitu lama, bahkan rasa itu sampai terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Mimpi yang begitu terasa sangat nyata.
Pagi harinya Anugrah terbangun dengan hati yang sudah sedikit membaik, entah karena apa. Yang jelas ia tak se sedih seperti semalam saat mengingat itu. Ia segera beranjak untuk mandi agar segar dan membantu Mamak di belakang. Ia ingin segera melupakan segalanya dan hidup seperti sebelum ini.
Tanpa Suaminya? Entahlah.
"Nu, Suamimu lagi sibuk apa memangnya?" Tanya Bapak saat ia dan bapak juga Mamak tengah sarapan di ruang depan. Sarapan nasi goreng kampung, nasi goreng yang tidak memakai telor dan sayur, murni bumbu halus dan nasi serta garam saja.
Anugrah mengedikan bahu tak perduli.
"Nggak kamu telpon dulu, udah sarapan apa belum," ucap Mamak kemudian.
Ia masih duduk tak perduli. Memakan dengan pelan walaupun setelah itu susah sekali untuk menelan makanannya.
Mamak Bapak saling berpandangan merasa heran dengan putrinya yang tumben-tumbenan cuek seperti sekarang ini.
__ADS_1