
Cuaca siang hari begitu panas, sinar matahari begitu terik. Gadis manis duduk sembari mengipasi dirinya dengan kipas lipat, dapat dari kondangan. Anehnya walaupun panas dan gerah, pasar tetap saja ramai.
Stok dagangan Anugrah sudah mulai menipis, ia pun sudah memesan langsung dari konveksi langganannya. Katanya lusa kemungkinan sampai.
"Mbak, ana celamis?" (ada celamis: ****** ***** gamis.) Tanya ibu-ibu dengan badan yang lebar, bergamis coklat tua bunga-bunga dan berjilbab segi empat yang ujung depan nya di ikat ke belakang leher.
Anugrah menaruh kipasnya di sembarang tempat, di atas dagangannya. "Yang XXL ya Bu?"
"Super jumbo biasa dirimu kasih, langganan loh mbak. Biasa nya beli disini." Ujar si ibu-ibu.
"Oalah lagi kosong, tekane maning ngemben. Anane XXL." (Oalah sedang kosong, dateng lagi lusa. Adanya XXL.) Jawab Anugrah.
Tangannya mengangsurkan beberapa potongan celamis pada Ibu-ibu itu.
Akhirnya si ibu ambil satu, takut tidak muat katanya.
Ada lagi pembeli lain yang menawarkan kerja sama. Anugrah di minta untuk memberi stok celana yang banyak untuk di jual lagi. Namun mintanya yang bagus, bukan yang di obral Anugrah.
Anugrah menyanggupi, karena memang yang ia jual tergantung pembeli, ada yang murah ada yang mahal.
Kini Anugrah tengah duduk menikmati bubur kacang ijo buatan Mamak, sehabis dari pasar dan Salat Ashar ia duduk-duduk di teras sama Mamak dan Bapak. Ada satu orang juga, tetangganya Iin namanya.
Selesai memakan bubur ia menaruh mangkuknya dan mangkuk belas makan Iin, kembali nya dari dapur ia membawa minum juga buat Iin.
"Suwun Nu," ucap Iin, sembari menerima gelas.
(Suwun: Makasih)
"Bubure enak loh Mak, ora di dol?"
(Buburnya enak loh Mak, nggak di jual?)
"Besok, sekarang gratis dulu." Kata Mamak.
__ADS_1
"Besok kamu borong ya In," kata Bapak.
"Hehe," jawab si Iin, malah tersenyum.
"Anakmu mana In?" Tanya Anugrah.
"Jalan-jalan Nu sama Bapak nya," jawabnya.
Anugrah hanya ber oh ria.
"Nu Kean berangkat ke Jakarta nya besok ya?" Tanya Iin. Iin ini seumuran Anugrah, hanya saja sudah menikah, dan ia ini pendatang. Ia jadi tinggal di Desa Anugrah karena ikut suaminya.
"Embuh, nggak ngerti aku." Jawabnya.
Ada nyeri di hatinya, ada sedikit rasa ter cubit. Seolah-olah tidak rela jika Keanu pergi. Tapi, siapa dia? Sampai mau menghalangi mimpi Keanu.
***
Selesai Salat Maghrib, ia langsung keluar, pulang. Tak menunggu 'doa dan dzikir. Dan saat Isya ia kembali lagi ke Mushola.
Begitu selesai, dan akan keluar tangannya di cekal dari belakang oleh seseorang. Anugrah tahu betul siapa pemilik tangan itu. Ia menoleh, dengan alis terangkat seolah bertanya apa?
"Tamkot sebentar,"
Anugrah melihat ke arah Yuni yang ada di depannya, Yuni mengangguk sambil tersenyum lebar. Juga memberikan dua jempol tangannya, entah apa maksudnya. Lalu pergi meninggalkan Keanu dan Anugrah yang masih di teras Mushola.
"Kenapa?" Tanya Anugrah, nadanya ia buat sedemikian rupa agar terdengar dan terlihat biasa-biasa saja.
"Aku mau pamitan, besok aku pergi. Sama Yuni udah tadi siang, tinggal sama kamu yang belum."
"Iya, aku udah tahu kok. Besok kan?"
Keanu mengangguk, kini keduanya sedang duduk di bangku tamkot, dengan saling memandang ke arah depan mereka. Jika biasanya duduk di bangku yang menghadap ke jalan, kali ini mereka duduk di bawah pohon, di dalam taman. Di depan mereka hanya ada rumput-rumput, dan area bermain anak-anak.
__ADS_1
"Hati-hati yah, semoga sukses di Jakarta. Bisa meraih apa yang kamu cita-citakan." Anugrah menoleh ke samping kirnya, dimana Keanu duduk.
"Aamiin, aku minta jaga sesuatu yang harusnya buat aku." Katanya.
Anugrah mengerutkan kening, "apa yang harusnya buat kamu?"
"Yang kamu punya?" Katanya dengan ekspresi muka jahil.
"Apaan sih, gaje." Anugrah menonjok lengan Keanu.
"Aw, ya Allah. Orang lagi pamit kok di tonjok, Nu, Nu."
"Ya lagian, aneh!"
"Hehe becanda, tapi emang apa yang kamu punya?"
"Aku nggak punya apa-apa!" Jawab Anugrah ketus.
"Masak nggak punya apa-apa, lapak misalnya."
"Udahlah, udah kan? Udah selesai pamitannya, aku balik."
Anugrah berdiri, bersiap untuk pergi.
"Tunggu Nu, ini." Keanu memberikan sesuatu berupa amplop berwarna biru.
"Apa ni?"
"Duit buat jajan." Kata Keanu kesal. Pikirnya tinggal di terima aja susah.
"Hehe kebalik dong."
Anugrah menerimanya dan menggenggam nya, ia pulang pun di antar Keanu.
__ADS_1