
Terkadang, untuk mencapai sesuatu kita harus merelakan sesuatu juga. Seperti Yuni, ia harus merelakan usahanya demi menjauh dari perjodohan yang di buat orangtuanya. Bagiamana bisa Yuni setuju saja saat di jodohkan, kalau yang di jodohkan dengannya selalu saja duda dengan anak-anak yang sudah besar, yang jelas jodoh yang di cari kan oleh Mama nya adalah orang-orang yang kerjanya bisa di bilang lumayan.
Orang tua Yuni tak perduli pada apa itu cinta, menurut Mama Yuni, selagi bisa memberikan uang yang banyak di situlah ada cinta. Yuni sering sekali menceritakan tentang kebaikan Reno pada Mamanya, tapi sayang ... usahanya sia-sia saja. Karena Mamanya tetap pada pendiriannya.
Mama pernah menjawab dengan cepat apa yang Yunita bilang, "kamu nggak usah menceritakan anaknya Mbak Diah, aku sudah tahu, dari kecil sampe sekarang aku tahu semua tentang anaknya."
Dan saat itu juga mulut Yuni tertutup rapat.
Yuni dan Reno memiliki adik yang harus mereka bantu biaya sekolahnya, dan Mama Yuni jelas tak ingin anaknya dengan anaknya Diah-Mama-Reno. Karena menurut Mama Yuni, anaknya harus dapat suami yang mapan agar Yuni tak kesusahan.
Sebenarnya niat Mama baik, tapi Mama tak tahu kalau menikah itu bukan hanya perkara harta saja, tapi juga butuh cinta.
__ADS_1
Seperti malam ini, Yuni duduk termenung setelah mendapat telpon dari Mamanya.
"Bapak mu sakit, Yun, Mama nggak dapet duit. Kamu tahu sendiri, dapat sehari di makan sehari, kemarin dapet sehari cuma buat periksa saja, sekarang Mama mau makan apa sama adik dan bapakmu, sedangkan mau ngutang lagi di warung nggak enak, baru minggu lalu di lunasi masa sudah mau hutang lagi, mana kreditan panci datang besok lagi."
"Huh ...." Yuni mengembuskan nafas kasar saat mengingat pembicaraan mamanya. Ia tak menjawab apa-apa tadi, ia hanya jadi pendengar yang baik saja.
Uang gajinya seminggu lalu baru di kirim, sekarang ia hanya memegang uang sedikit, tapi mamanya ... terus saja meminta uang.
Tapi, sekarang ... Yuni benar-benar pusing. Satu-satunya cara hanya menelpon sahabat tercinta yang selalu ada untuknya. Ya ... sekarang ia harus menghubungi nya. Waktu sudah malam sudah pukul sembilan malam, tapi ia tak perduli, ia sangat berharap panggilan nya di jawab oleh sang sahabat agar besok keluarga nya bisa makan.
Tut ... Tut ... Belum juga di jawab oleh pemilik ponsel, dan itu membuat Yuni jadi tambah gelisah. Kalau tak di jawab oleh sahabat nya itu, ia akan minta tolong pada siapa lagi.
__ADS_1
Reno! Hati Yuni mengatakan, "tapi, dia juga 'kan baru kirim ke Mamanya," gumam Yuni akhirnya.
Sementara itu di sana, di tempat ponsel berbunyi.
"Siapa, sih Dek, yang telpon kamu malam-malam? Ganggu aja tahu nggak?" Tanya Keanu dengan nafas terengah-engah, ia tengah melakukan olahraga malam bersama istrinya.
Anugrah yang sama-sama tak tahu hanya menggeleng sembari memejamkan mata.
"Nanti saja, aku lihat," ucap Anugrah tak perduli pada ponselnya yang bergetar di atas nakas.
Anugrah tak tahu kalau sahabatnya tengah membutuhkan dirinya saat ini juga.
__ADS_1