
Persahabatan yang sudah begitu lama terjalin tak semudah itu di lupakan oleh mereka, begitu juga dengan Anugrah yang paling berperasaan di antara mereka semua. Anugrah paling merasa kasihan, begitu Cintia keluar dari grup chat dan menjauh dari mereka.
Padahal di antara mereka ber-empat tidak ada yang membahas apapun di grup, ataupun menyinggung masalah yang ada kemarin-kemarin. Tapi malah seperti ini, Cintia menarik dirinya dari mereka.
Anugrah sengaja tidak pernah menanyakan pada Cintia, bahkan mewanti-wanti Yuni dan Reno agar jangan sampai ada obrolan yang menyinggung Cintia. Anugrah ingin mereka tetap baik-baik saja, dan persahabatan yang sudah mereka jalin begitu lama itu tidak tercerai-berai.
Perasaan bersalah menyeruak begitu saja di dalam hati Anugrah, ia merasa bodoh karena tega menyakiti perasaan Cintia yang akhirnya Cintia punya rencana se-rendah itu.
Seandainya ia tidak bersama Keanu, pasti di antara mereka tidak akan seperti sekarang.
Anugrah benar-benar pusing, haruskah ia minta maaf pada Cintia?
Anugrah memutuskan untuk bertanya terlebih dulu pada tunangannya, Keanu. Yang sudah pasti akan kesal, tapi Anugrah ingin sekali di antara mereka ber-lima berbaikan kembali, walaupun tak sedekat dulu.
Tut... Tut... Tut...
Telepon dari Anugrah tak kunjung di jawab oleh Keanu, sekarang waktu baru menunjukan pukul sembilan malam. Dan Keanu belum sesekali menelpon nya dari pagi, pesan dari Anugrah pun belum mendapat balasan.
Tidak menyerah, Anugrah mencoba menelpon kembali. Sekali, dua kali belum di angkat juga. Hingga panggilan yang ke tiga kalinya baru di jawab oleh pemilik ponsel, di sebrang sana.
"Assalamu'alaikum," suara Keanu di sebrang sana, terdengar datar tidak seperti biasanya.
"Wa'alaikumsallam, sibuk banget ya...?" Tanya Anugrah dengan pelan, ia tak mau suudzon, dari pagi ia hanya berpikir kalau Keanu tengah sibuk, makanya tak membalas pesannya.
"Hm," jawaban Keanu semakin membuat Anugrah mengerutkan kening, aneh, tumben-tumbenan kayak gini. Ujar Anugrah dalam hati.
"Kenapa? Sakit?" Masih mode sabar Anugrah Kembali bertanya.
"Ora. Cuma capek," Keanu masih degan nada datarnya.
Anugrah jadi tidak enak sendiri, apa tepat jika sekarang ia membahas Cintia, sedangakan Keanu sedang capek.
__ADS_1
"Kok, diam."
Gimana nggak diem, lah dia nya datar-datar aja nggak kayak biasanya. Anugrah hanya bisa membatin.
"Mmm, aku pengin ngomong tentang Cintia." Ujarnya seketika.
"Kenapa memangnya?"
"Nggak enak aja, kayak gini. Dia tiba-tiba keluar dari grup chat. Terus dia kasihan__" Kalimat Anugrah seketika di potong oleh Keanu.
"Kamu bisa nggak. Nggak kasian terus-menerus sama orang lain!"
Seketika Anugrah kaget dengan Bentakan Keanu yang baru sekali ini ia dengar. Bahkan terdengar begitu menakutkan.
Anugrah jadi kesal begitu mendengar Keanu yang membentak nya.
"Kok orang lain sih! Kalian bukan orang lain bagiku, kalian itu udah aku anggap seperti saudara!" Anugrah juga ikut kesal pada Keanu.
"Ya, iya. Kita berlima udah sama-sama dari kecil, jadi udah kayak saudara. Dan aku nggak pernah membedakan itu."
"Kamu gimana sih, Nu? Kamu tuh kalau punya hati jangan terlalu baik!"
"Kamu kenapa sih marah-marah terus. Aku loh, cuma mau bilang supaya kita berlima baikan nggak kayak gini..." Anugrah mulai memelankan suara nya begitu mamak memanggilnya dan bertanya ada apa, dari ruang tamu yang tepat berada di depan kamar Anugrah.
"Kamu, yang kenapa? Kenapa nggak kamu biarkan saja Osin mau apa, kamu nggak inget sama apa yang akan dia lakukan waktu itu. Untung tidak terjadi, coba kalau terjadi, gimana?"
"Tapi nyatanya nggak kejadian, kan?"
"Oh, kamu maunya kejadian, gitu? Biar aku terjebak sama Osin, dan kamu sama pemuda itu?"
Anugrah menjauhkan ponselnya dan melihat layarnya, ia teliti nama di telpon itu. Takutnya salah, tapi nyatanya benar, ini Keanu. Tapi kenapa dia seperti ini.
__ADS_1
"Kamu tuh apa-apaan sih? Pemuda siapa? Aku lagi bahas Cintia ya, bukan pemuda." Geram Anugrah.
"Ya, pemuda yang kamu temui waktu musyawarah!"
Oh, Astaghfirullah! Apalagi ini orang, kenapa jadi marah hanya gara-gara aku ketemu sama Mas Anwar.
"Kamu aneh tahu nggak? Ini kayak bukan Keanu Wibowo, harusnya kamu jangan di kasih nama Wibowo karena nyatanya kamu nggak berwibawa sama sekali. Marah-marah nggak jelas. Ngeselin. Harusnya kamu tanya baik-baik aja, nggak usah kaya gini!" Anugrah benar-benar kesal dengan Keanu yang kekanak-kanakan, menurutnya.
"Kenapa harus tanya baik-baik dulu? Harusnya kamu yang cerita duluan." Keanu tak mau kalah.
"Lagian aku cuma ketemu sama Mas Anwar sebentar doang, lagi juga nggak ngapa-ngapain cuma saling tanya kabar."
"Oh, maunya ngapa-ngapain gitu."
"Aduh. Aku pusing, aku tuh ya telpon kamu cuma mau bilang aku mau di antara kita berlima tetap baik-baik saja walaupun ada masalah yang ada di antara kita. Harusnya kita bisa saling dukung dan saling memberi maaf. Ini kamu malah mengalihkan pembicaraan dengan bahas aku ketemu dengan Mas Anwar yang hanya sekedar nyapa! Kamu tuh aneh tahu nggak, aku cuma sekali ini bertemu dengan laki-laki, apa kabar kamu yang bertemu dengan perempuan cantik ala kampus setiap hari!"
"Aku nggak nyangka banget, kamu sekanak-kanakan ini!"
"Jangan hubungi aku dulu, kalau kamu masih nggak percaya sama aku."
Tut!
Anugrah mematikan sambungan telponnya begitu selesai dengan bicara panjang lebarnya.
Anugrah menarik nafas dan mengembuskan nya dengan kasar.
Benar-benar tidak habis pikir Anugrah dengan Keanu yang sikapnya benar-benar menyebalkan bagi Anugrah.
*Jadi ini sebenarnya alasannya kenapa nggak jawab pesan aku, dan jawab telepon pun enggan. Siapa yang ngasih tahu ya...?
Oh, iya di sana kan ada si Joko, teman Keanu. Si*al*.
__ADS_1
Anugrah tidak menyangka Keanu bisa bersikap seperti itu hanya karena cemburu. Buka tidak suka di cemburui hanya saja kalau berlebihan seperti ini Anugrah kurang merasa nyaman. Apa lagi banyak sekali teman Anugrah yang masih suka menyapa dirinya, di setiap kali bertemu setelah sekian lama. Karena kebanyakan pemuda di Desanya sekarang berada di Kota untuk bekerja seperti Reno.