
Angin malam di Desa terasa dingin, dinginnya sampai terasa menusuk tulang. Anugrah duduk di teras, dengan jilbab instan yang tak panjang. Hanya sebatas siku.
Tadi niatnya ia akan tidur, setelah pamitan kepada Mamak dan Bapak. Nyatanya, setelah ia coba untuk tiduran dan mencoba memejamkan mata. Nyatanya pikirannya tetap jalan-jalan entah kemana. Ke Aldi yang di bicarakan Mamak dan Bapak, juga ke Keanu yang mengatakan kalau dirinya tidak boleh memendam perasaan.
"Memangnya dia tahu ya, perasaan aku? Aku kan nggak pernah bilang sama siapapun. Bahkan sama Yuni pun aku nggak pernah cerita."
Anugrah memeriksa jam di ponsel nya, jam nol-nol. Tapi Anugrah masih diam saja, duduk di teras. Pandangannya ke jalan di depan rumahnya yang sepi, rumah-rumah tetangganya pun sudah sangat sepi, bahkan lampu-lampu nya pun hanya terang sebagian. Ada yang dari depan sampai dalam gelap, ada yang hanya depan rumah saja yang menyala.
"Aldi?"
Pikirannya melayang, siapa gerangan yang Mamak bicarakan tadi. Bapak hanya bekerja di kebun, ataupun di sawah. Dan Mamak bilang kerjanya suka bareng Bapaknya.
"Huh..." Anugrah, menghembuskan nafas kasar.
"Mas Aldi, dong kalau gitu. Mas Aldi yang kerjanya serabutan. Apa saja mau." Gumam nya.
"Ya ampun! Aku pikir aku nggak bakal merasakan seperti ini. Ini termasuk di jodohin nggak sih?" Tanya nya, entah pada siapa. Mungkin pada hatinya.
Pusing memikirkan itu semua, Anugrah akhirnya memutuskan untuk masuk lagi ke dalam. Ia lalu mengunci pintu dan masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di kasur, dan mencoba untuk memejamkan mata.
Masih belum bisa tidur, akhirnya ia melepas jilbab nya, dan menutup tubuhnya dengan selimut karakter yang tidak lebar, yang di belinya di serba tiga lima.
"Lumayan juga nih selimut, bisa menghangatkan ku. Walaupun tidak bisa menghangatkan perasaan ku. Hihi ada ada saja aku."
••• •••
Pagi menyapa. Anugrah pagi ini kesiangan. Ia bangun pukul lima, jadi ia tidak Subuh di Mushola. Padahal niatnya, ia ingin menanyakan maksud dari ucapan Kean semalam.
Seperti biasa, Anugrah selesai Sholat lalu mencuci baju, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainya. Sedangkan Mamak sedang memasak sarapan, di dapur nya.
Selesai dengan kegiatannya, kini ia sedang duduk di bangku kecil. Di dapur. Menemani Mamak yang masih setia duduk di depan tungku.
"Mak, Mas Aldi ya, maksud Mamak semalam?" Tanya Anugrah.
Mamak yang sedang menunggu nasi yang di dalam panci matang, dengan duduk di bangku kecil itu menoleh kearah anaknya.
"Iya, sudah ingat sekarang?" Jawabnya.
"Nggak inget-inget banget sih."
__ADS_1
"Gimana? Mau?"
"Enggak!"
Mamak menghela nafas, tangannya mendorong kayu bakar ke dalam tungku, saat apinya sudah mulai keluar dari tungku.
"Mamak, sama Bapak sudah tua Nduk."
Anugrah hanya diam, ya Anugrah tahu orangtuanya sudah tua. Tapi apa dengan seperti itu bisa jadi alasan, untuk mereka memaksa Anugrah yang baru delapan belas tahun menikah.
Anugrah hanya menatap punggung Mamak, tanpa menjawab apapun.
Terdengar pintu yang di tutup, lalu terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah dapur. Kepala Bapak menyembul, melihat istri dan anaknya yang ada di dapur belakang. Ibu dan anak itu seketika langsung menoleh ke arah Bapak.
"Nu... Cucian mu itu di depan, dibiarkan kering di ember apa?" Ucapnya.
Anugrah langsung berdiri, dan menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah, lupa." Ia langsung berjalan keluar.
Begitu anaknya keluar, Bapak duduk di bangku kecil. Bangku yang tadi di pakai anaknya, untuk duduk.
"Kita sudah tua pak, mungkin usia kita sudah tidak lama lagi. Ya kalau kita nanti nggak sakit dulu sebelum mati. kalau sakit dulu, apa kita nggak nyusahin Anugrah. Terlebih kalau dia belum menikah pas kita mati, dia sama siapa Pak?" Mamak berderai air mata.
Menikah nya mamak dan bapak memang masih muda, namun di beri kepercayaan untuk hamilnya waktu usia Mamak sudah begitu matang, bahkan sudah di saat-saat Mamak tak lagi berharap.
Dari itu pula, mereka menamakan anaknya dengan nama Anugrah, karena mereka mendapatkan Anugrah dari Tuhan, setelah sekian lama menunggu.
Bapak hanya mengangguk, ia juga sebenarnya menginginkan anaknya untuk segera menikah. Tapi di jaman sekarang, bukan seperti jamannya dulu, yang menikah di suruh orang tua. Sekarang jamannya anak muda milih sendiri, dan menikah nya pun bukan di usia muda seperti ini, pikir bapak.
Cucian yang sedikit membuat Anugrah cepat selesai dengan acara menjemurnya, ia masuk lagi kedalam rumah, niatnya ia akan menaruh ember di kamar mandi. Tapi ia malah tak sengaja mendengarkan Mamak yang berbicara dengan air mata.
Ia jadi tidak enak, akhirnya ia memutuskan untuk menaruh ember di dekat tembok, pembatas antara dapur kompor, dengan dapur tungku.
Ia memilih keluar ke ruang tamu, membereskan dagangan nya yang akan ia bawa ke pasar.
Pikirannya nambah lagi, nambah pusing kepala Anugrah. Ia baru saja menikmati masa-masa mencari uang sendiri, usaha sendiri. Masa-masa indah nya jadi anak muda, yang di paksa dewasa dengan keadaan nya.
°°°
__ADS_1
Setelah Mamak mengangkat nasi dari panci, dan menaruhnya di meja. Ia memanggil Anugrah untuk sarapan. Namun Anugrah mengatakan ia akan sarapan bubur di depan. Lagi ingin, katanya.
Sekalian, berangkat ke pasar Anugrah mampir untuk sarapan bubur. Padahal niatnya hanya untuk menghindari obrolan, takut-takut Bapak atau mamak membahasnya lagi.
Anugrah mengaduk-aduk bubur ayam yang ia pesan. Ia tak memakannya.
Ini masih pagi, baru pukul enam tiga puluh, terlalu pagi kalau untuk ke pasar. Jadinya ia menundanya dengan duduk dan sarapan.
Seseorang duduk di sampingnya, Anugrah tak menoleh ia sudah tahu siapa yang duduk di sampingnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Keanu.
Keanu mengambil mangkuk bubur di hadapan Anugrah, Anugrah yang sedang tidak mood diam saja tak memperdulikan Keanu. Ia malah memberikan sendok yang masih di tangannya.
"Buat aku?"
"Silakan! Kalau mau."
Keanu lalu memakannya, sembari melihat ke arah Anugrah.
Keanu yang sudah berseragam sekolah itu terlihat seperti adik, dan Anugrah yang sedang manyun itu terlihat seperti kakak yang sedang di paksa membayarkan makanan sang adik.
"Manis banget ya bubur nya?" Ucap Keanu.
"Ngarang! wong nggak tak kasih kecap!"
"Manis nya kan karena liatian kamu," jawab Keanu, namun hanya dalam hatinya.
Keanu menghabiskan bubur Anugrah, dan pergi.
Anugrah melotot kesal, tanpa terimakasih main pergi saja.
"Dasar ngeselin!" Kesal nya.
"Kenapa Nu?" Tanya Mas Bubur.
"Nggak papa Mas..." Jawabnya.
Ia lalu membayar buburnya yang di makan Keanu, lalu pergi.
Menjalankan motornya menuju rumah seseorang, ia ingin bercerita sebentar sebelum ia pergi ke pasar.
__ADS_1
°°°****Bersambung°°°