
Tiga tahun menjalani hidup rumah tangga ternyata tidak semudah yang di bayangkan Anugrah. Rasa sesak kian menjadi saat mengingat apa yang di jelaskan oleh Ibu mertuanya. Rasa sakit yang ada di dalam dada memaksa air keluar lewat mata. Begitu terasa menyakitkan.
Bukan menuduh, tapi dari tidak perduli nya Keanu akhir-akhir ini, dan chat yang masuk tadi pagi juga penuturan ibu Ranti sudah begitu jelas tanpa perlu lagi di jabarkan dengan pengakuan.
Selepas dari Cafe bersama bu Ranti-mertuanya, Anugrah memutuskan untuk pulang. Setelah mengantar ibu Ranti ke tokonya, dan ia mampir sebentar ke toko guna memberi tahu mbak Ningsih. Ia merasa hati nya terasa lelah, begitu juga pikirannya. Terlebih lagi perut nya terasa begitu sakit di bagian bawah, dan itu sukses membuat air matanya semakin deras. Ia menangis di dalam kamar dengan hati yang teramat sakit.
Ini baru tiga tahun? Tapi kenapa suaminya sudah seperti itu? Suami yang menurutnya akan sangat baik, perhatian dan akan mencintainya seperti dirinya mencintai suaminya itu. Tapi ternyata ....
Lagi-lagi Anugrah lupa, Keanu hanya manusia biasa, yang jelas akan khilaf dan salah. Lalu harus apa sekarang dirinya? Untuk bertanya lebih dulu rasanya begitu enggan.
Anugrah masih menangis dengan pilu di dalam kamarnya, ia pandangi foto pernikahannya yang terpajang besar di atas kepala ranjang. Matanya memanas, bibirnya menahan agar tak mengeluarkan umpatan, tapi matanya ... langsung saja mengeluarkan air mata. Membuat sesak di dada semakin terasa.
Anugrah duduk membelakangi pintu, ia duduk dengan memeluk erat bantal kesayangannya.
Sakiiiiiiittttt Maaaaaaak ....Hatinya menjerit.
Anugrah menurunkan kakinya dan keluar dari kamar, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat ia butuh air minum sekarang, perutnya semakin terasa sakit, dan sedikit membuatnya susah untuk berjalan. Dengan sedikit membungkuk Anugrah mengisi gelasnya dengan air dari termos kecil, lalu membawanya kembali ke dalam kamar.
Ia masih ingin menumpahkan rasa kesalnya dengan sendirian.
Duduk kembali di atas ranjang, sedikit bersandar setelah melepas jilbabnya, ia langsung menata bantal untuk sandaran. Sedikit demi sedikit air hangat membasahi tenggorokan nya. Sesak di dada belum hilang sekarang sakit perut nya malah semakin menjadi.
Anugrah menaruh gelas di atas nakas, meremash-remash perut nya yang begitu sakit.
"Apa gara-gara makan rujak pedes terus minumnya es yah?" Tanya nya pada dirinya sendiri.
Ia turun kembali dari ranjang, mengambil minyak kayu putih yang biasanya ada di kotak obat. Setelah mendapatkannya ia duduk kembali dan menyingkap gamisnya, mengolesi perutnya dengan banyak minyak kayu putih. Setelah di rasa merata, Anugrah menutup kembali gamisnya dan merebahkan dirinya. Memeluk guling dengan posisi tidur miring.
Alih-alih terpejam matanya malah kembali mengeluarkan air mata. Jika saja saat ini ia tengah baik-baik dengan suaminya ia jelas sudah memberi kabar pada suaminya kalau dirinya tengah sakit perut. Tapi, jangan kan memberi kabar untuk bertemu saja Anugrah jadi enggan.
Entah seperti apa nanti saat suaminya pulang, entah bisa di sembunyikan atau tidak ekspresi kesal nya itu.
__ADS_1
...----------------...
Setelah semua murid kembali masuk, para guru pun kembali ke kelas mengajar mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Keanu, ia sudah selesai hanya tinggal memberi nilai di setiap LKS yang sudah anak didik nya kerjakan. Yang tadi ia perintahkan.
Tapi ternyata perasaanya tidak tenang. Di dalam kantor, hanya ada dirinya di mejanya, Bu guru Agama di mejanya juga, dan Bu Desi yang duduk di meja nya juga.
Keanu melirik sekitar nya, Bu Desi tengah menatapnya dengan senyum manisnya, Keanu hanya membalas dengan anggukan saja. Lantas ia melirik sebentar ke arah bu Budiarti-guru Agama yang tengah sibuk dengan buku di depannya.
Keanu lantas berdiri, "ke mana Pak?" Pertanyaan Desi membuat Keanu berhenti sejenak dan menunjuk ke luar. Tanpa mengeluarkan kata. Bu Desi menunduk setelahnya.
Keanu masuk ke ruang kepala sekolah ia ingin minta izin untuk pulang terlebih dahulu. Entah kenapa ia merasa khawatir sekali pada istrinya, rasanya seperti ada ketakutan besar. Dan ia ingin segera menemui istrinya guna menceritakan segalanya dan meminta maafnya.
Setelah mendapat izin tanpa basa-basi Keanu pergi dari sekolah itu. Bahkan untuk sekedar pamit pada dua guru yang ada di kantor pun tak Keanu lakukan.
Dengan motor kesayangannya Keanu membelah jalan yang hampir siang itu. Pertama ia pergi ke Toko, tapi ternyata istri nya sudah pulang.
"Tadi abis pergi sama ibu, si Nu langsung pulang Yan." Begitu penuturan Mbak Ningsih.
Keanu lantas pergi dari sana dan menjalankan motornya menuju rumah. Bahkan saat melewati toko sang ibu ia tak mampir atau sekedar menengok, padahal di depan toko ibunya terlihat tengah melayani pembeli.
Keanu bisa melihat sang istri terbaring membelakangi pintu dengan memeluk guling, rambut panjangnya menjuntai dari bantal. Kakinya masih memakai kaos kaki, ujung gamis nya tersingkap sedikit menampakan betis yang tertutup celana ketat.
Dengan langkah ragu Keanu mendekat, menaruh tas ranselnya di atas kursi yang biasa di pakai duduk Anugrah saat memoles wajah.
Perlahan Keanu membungkuk melihat wajah sang istri yang tertutup helaian rambut, saat mengusap wajah istrinya Keanu bisa tahu kalau Istrinya baru saja menangis, bahkan bantalnya pun begitu basah, terlihat dari warna sarung bantalnya yang gelap dan terang. Hati Keanu merasa teriris, begitu jahatnya diri nya sampai membuat Anugrah menangis seperti ini. Sampai kelelahan dan tertidur.
Keanu mengecup lama puncak kepala sang istri, sampai Anugrah sedikit bergerak. Membuat Keanu melepas kecuppan nya di puncak kepala istrinya. Anugrah terdengar menghela nafas, dan membuka matanya.
"Udah pulang?" Tanya nya pada suami yang masih membungkuk menatap nya.
Keanu menelan ludah kasar, dan duduk di pinggiran ranjang. Anugrah menggeser badannya agar lebih maju.
__ADS_1
Ia tetap memunggungi suaminya itu.
"Tumben, masih jam segini, sudah balik?"
"Dek," panggil Keanu.
"Yang di katakan ibu, apa benar?"
"Kenapa?" Tanya Anugrah lagi saat sang suami masih saja diam.
Saling memunggungi, sama-sama melihat satu titik dengan pandangan kosong. Jika Keanu karena penyesalan nya, maka Anugrah karena amarahnya.
"Apa hanya sampai sini saja, perasaan yang kamu bilang sudah ada dari dulu itu? Apa bisa segitu mudahnya untuk berpaling tanpa alasan yang pasti? Atau memang, karena aku yang belum bisa hamil, sampai ka_"
"Enggak, Dek!" Keanu menutup mulut istrinya dengan telunjuk nya, dia menggeleng keras.
"Jangan bilang seperti itu, Dek. Mas hanya khilaf, Mas mohon, maafin Mas." Keanu memutar duduknya memeluk tubuh Anugrah yang masih dengan posisi yang sama.
Air matanya mengucur deras, semakin menambah basah bantal. Keanu memeluk dan mencium bahu istrinya, menangis di atas tubuh miring sang istri. Ia benar-benar menyesal.
"Tolong ... maafin Mas, mas sudah mengakhiri semuanya Dek. Mas sudah tidak lagi berhubungan dengan dia, mas hanya khilaf. Tolong, tolong maafin Mas," air mata lelaki itu membasahi lengan istrinya.
"Mas sangat tahu, Mas salah. Tapi kamu juga harus tahu, kalau mas sama dia hanya sekedar nya saj_"
"Sekedar telponan sampai lupa sama istrinya, sekedar chatingan sampai lupa waktu, sekedar pergi tak perduli pada istrinya. Begitu maksud 'sekedar' bagi kamu?" Anugrah segera memangkas apa yang Keanu jelaskan. Menegaskan kata 'sekedar'. Sudah jelas-jelas salah masih punya celah untuk membela. Dasar!
Keanu diam tak berkutik.
Anugrah menyingkirkan suaminya dengan pelan, Keanu pun menurut, ia membawa tubuhnya untuk duduk karena sang istri ternyata bangun dari posisi tidurnya dan kini duduk bersandar mengarah ke dirinya.
Keduanya saling menatap dengan mata yang memerah, bahkan mata Anugrah sudah bengkak.
__ADS_1
"Sekarang, aku tanya." Anugrah menarik nafas panjang sebelum melanjutkan apa yang ia tanyakan.
"Seandainya, yang kamu lakukan ini aku lakukan, apa kamu masih mau memaafkan aku? Yang katamu hanya 'sekedar' saja?" Air mata nya kembali luruh padahal sudah begitu banyak yang keluar.