Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Peningset


__ADS_3

"Monggo bu, Pak Guru adanya hanya kayak gini, nggak ada yang istimewa," ujar Bapak. Mempersilakan tamunya menikmati hidangan yang ada. Yang memenuhi meja kaca yang biasa saja, dan tidak lebar itu.


Pak Runo yang di persilahkan hanya mengangguk sembari tersenyum, Bu Ranti lantas menyenggol lengan suaminya itu. Entah kenapa Pak Runo yang biasanya paling bisa berbicara kini terlihat agak kaku, mungkin gugup. Begitu juga Bu Ranti yang biasanya ngobrol enak dengan Bu Yanti mendadak kaku. Ternyata orang tua pun punya rasa grogi, padahal yang mereka berdua hadapi hanya keluarga Anugrah yang bisa di bilang sangat biasa-biasa saja.


"Ekhem," Pak Runo berdehem, mengetes suara sembari tersenyum lalu " begini Pak, dan Mamak Yanti, juga Nak Nugrah... Hehe kaya kaku ya Pak," ujarnya pada Pak Yudi, yang lalu di balas dengan kekehan.


"Pertama-tama kedatangan saya dan istri saya, untuk silaturahmi, kedua ada penting yaitu" pak Runo kini melihat wajah Anugrah "memantapkan, lah ya... kalau melamar kok kayak belum resmi, jadi ya, intinya kedatangan saya mewakili anak kami, Keanu untuk melamar putrine panjenengan," menunjuk ke bapak dan Mamak "begitu pak, mak," terlihat wajah yang lega karena sudah mengatakan perlunya kedatangan mereka.


"Bagaimana, Pak, Mak, Nduk? Kita sudah sama-sama tahu lah ya, dari kecil Kean sama Nugrah itu wis bareng-bareng terus, udah lengket. Dan kata Kean, mereka berdua ini, udah resmi pacaran."


"Dari pada nanti pacaran yang nggak sehat, mending gini kan Mak, Pak?" Ujar Pak Runo selanjutnya.


Bapak sama Mamak sama-sama tersenyum manis, sebelum kalimat jawaban keluar dari mulut Bapak sebagai jawaban. Jangan tanya Anugrah, ia kini tengah merasakan perasaan yang nano-nano. Hanya bisa senyum dengan malu-malu tanpa bisa mengeluarkan kalimat sebagai jawaban.


Selanjutnya Bapak mulai membuka suaranya, "Allhamdulillah saya ucapkan, anak kami ini sing ora ayu, ada yang melamar. Ada yang sreg. Ada yang mau, apa lagi yang mau keluarga Pak guru yang kita ini tahulah__"

__ADS_1


"Keluarga kita kaya gimana Pak?" Pak Runo memotong kalimat Bapak.


"Yang istimewa tentunya," kini Mamak yang menjawab. Dua pasang orang dewasa itu malah terus tertawa. Entah apa yang lucu, menurut Anugrah sama sekali tidak ada yang lucu.


"Saya lanjutkan, nggih...."


"Dari pihak saya, juga Mamak pasti menerima Pak, bu... Tapi ya kita balikan lagi sama yang bersangkutan, yaitu Anugrah, gimana nduk?" Bapak melihat ke arah Anugrah yang langsung melihat wajah sang ayah, begitu ia mendengar namanya di panggil.


"Saya juga terserah bapak," ucapnya lembut, malu-malu in, eh malu-malu kucing.


"Kalau Bapak tolak gimana?" Tanya bapak dengan serius.


"Loh kenapa di tolak?" Jawaban Anugrah seketika.


Bapak malah justru tersenyum, begitu juga Mamak yang menepuk paha anaknya itu.

__ADS_1


"Nggih mpun jelas to' Pak jawabane," Kata Bapak lagi.


Pak Runo dan Bu Ranti lantas mengangguk, berucap syukur. "Ini ada titipan lain Nu," ujarnya sembari menyodorkan kotak kecil berwarna merah, berbentuk hati. Yang sudah di pastikan isinya adalah cincin.


Pak Runo mendorong ke arah Anugrah, " ini murni duit Kean Nu, bukan kita yang beli."


"Sebagai peningset yah Pak," kata Pak Runo pada Pak Yudi, yang ditanya hanya mengangguk ria.


"Nanti di resmikan ya Nu, kita kasih peningset dulu ya, supaya mantap." Ujar Bu Ranti, "sini tak pakaikan." Bu Ranti lalu beranjak dari duduknya mengitari Mamak dan Bapak.


Lanjut mengambil cincin dan mengajak Anugrah berdiri, lalu memasangkannya. Sebelum itu ia menyuruh suaminya untuk memotret momen dirinya memakaikan cincin di jari manis Anugrah.


Lanjut Foto bareng-bareng dengan ponsel yang di taruh di atas meja, menggunakan timer.


Setelah itu, acara ngobrol bersama. Anugrah hanya menjadi pendengar setia. Mendengar setiap apa yang para orang tua obrolkan.

__ADS_1


__ADS_2