
Begitu salat selesai Bapak langsung keluar dari Musala. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi akhirnya bapak berjalan menuju pangkalan ojek di pertigaan, kebetulan sekali masih ada satu orang di sana yang masih mangkal. Padahal biasanya jam siang seperti ini jarang yang mangkal karena tengah istirahat makan siang di rumah masing-masing.
"Ke mana, Pak?" Tanya Marman-Kang-ojek begitu bapak memanggilnya.
"Ke Griya Sabrina." Jawab Bapak yang langsung menaiki motor saat Marman sudah siap dengan motornya untuk melaju.
"Oh, ke rumah Nugrah." Tanya Marman lagi. Bapak pun duduk di belakang Marman dan motor melaju membelah jalan di siang hari.
Setelah itu bapak tak menjawab lagi, lebih sering menanyakan kabar anak dan mantan istri Marman yang sudah pulang ke rumah orangtuanya.
"Udah menikah lagi pak, udah cari yang kaya. Udah lupa sama saya." Jawab Marman dengan nada santai. Sesantai dirinya melajukan motor miliknya itu. Tak tahu kalau Bapak begitu ingin segera sampai.
"Nugrah, mah kebetulan sekali ya Pak, bisa jodohan sama tetangga tak jauh, mana sama guru lagi ya ...," ucap Marman lagi yang kini hanya di jawab "Alhamdulillah" oleh bapak.
Akhirnya motor yang melaju dengan kecepatan sedang cenderung lambat itu sampai di depan rumah Keanu. Bapak turun dan langsung membayarnya.
"Makasih ya, Pak. Nggak di tungguin 'kan?" Begitu kata Marman begitu mendapat bayaran.
"Enggak, enggak." Jawab Bapak sembari menepuk pundak Marman yang lantas pergi lagi dengan motor sumber rejekinya.
Bapak berjalan pelan dengan dahi berkerut saat melihat ada perempuan duduk di teras sembari selonjoran dan terlihat menunduk mengantuk.
Apa itu orangnya? Tanya Bapak dalam hati sebelum mengetahui siapa orang itu. Dengan perlahan bapak mendekat, dan saat sudah dekat dengan perempuan yang menunduk itu seketika ia menepuk pundak perempuan itu, karena ia tahu kalau perempuan yang sedang terkantuk-kantuk itu adalah Yuni.
"Yun! Bangun!"
"Astaghfirullah, bapak!" Yuni terkejut.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Bapak heran, "sampe tidur di lantai kayak gini."
"Em, itu, anu, em ...," Yuni kebingungan sendiri.
"Mau nanya kebenaran juga?" Tanya Bapak.
"Kebenaran apa Pak?" Tanya Yuni lagi, ia mengerutkan alis dan berdiri membenarkan kerudung instan nya.
"Bapak, sudah dengar Yun. Bapak ke sini juga mau bertanya tentang kebenarannya, pada Keanu." Ujar Bapak yang langsung membuat Yuni melongo.
Melihat kebingungan Yuni bapak malah tersenyum, "nanti kita tanya bareng-bareng."
__ADS_1
Yuni mengangguk.
"Sudah lama, kamu?" Tanya bapak.
"Dari rumah bapak, langsung ke sini," ucap Yuni jujur.
"Nggak percaya saja Pak, Kean tega sama sahabatku, jadi langsung saja ke sini."
Bapak mengangguk an kepalanya. Memang tidak bisa di ragukan lagi persahabatan anaknya dan Yuni, sudah seperti adik-kakak kandung.
Baru bapak akan bicara kembali tapi suara motor yang tak asing terdengar dan berhenti di depan mereka. Keanu yang bingung karena di depan rumahnya ada mertua dan sahabatnya itu segera turun dan menyapa.
"Assalamu'alaikum, Pak." Keanu menyalami Bapak dengan takzim.
"Wa'alaikumsallam," jawab Bapak.
"Tumben ini lagi barengan sama Yuni," ucap Keanu. "Mari, Pak, Yun Masuk." Keanu membuka pintu dan mempersilakan bapak dan Yuni masuk. Setelah bapak dan Yuni masuk ia buru-buru untuk melepas helm dan menaruhnya di atas meja kecil di pojok ruangan, dan segera duduk di ruang tamu. Di sofa tunggal.
"Capek, Yan?" Tanya Yuni.
"Lumayan," jawab Keanu bingung. Bagaimana tidak bingung kalau siang-siang di datangi mertua dan sahabatnya. Yang sudah ia pastikan kalau ini sedang tidak beres.
"Enggak, Yuni malah ke sini sebelum bapak, sampai sudah tidur di teras dia," bapak menunjuk Yuni.
"Yan, aku minta minum ya," ucap Yuni yang langsung beranjak sebelum Keanu membolehkan. Bahkan Yuni mengambilkan untuk Keanu dan Bapak juga.
...----------------...
"Yan, kamu pasti sudah mengerti alasan bapak ke sini bukan?!"
Keanu mengangguk. Lelaki yang baru pulang dari sekolah itu hanya bisa menunduk, merasa begitu malu pada mertua dan sahabatnya.
"Sekarang bapak mau nanya, apa benar kamu ada menaruh hati pada perempuan lain?"
Dengan pelan Keanu mengangguk, "iya Pak. Maaf." Seketika itu Keanu memberanikan diri untuk melihat wajah kecewa bapak mertuanya.
"Kenapa?" Bapak bertanya dengan senyum menyedihkan.
Yuni bahkan terlihat geram, ia mengepalkan tangannya. Andai saja tidak ada bapak mungkin Yuni akan teriak-teriak. Karena ia merasa begitu sakit hatinya, padahal ia tak di lakukan seperti itu, Yuni tak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Anugrah saat ini.
__ADS_1
"Pak, maaf....boleh saya cerita," ucap Keanu dengan ragu.
Tapi alih-alih kesal dan marah, Bapak malah mengangguk. Bapak bersedia mendengarkan cerita dari menantunya itu.
Keanu menelan ludah berkali-kali, bahkan suaranya seperti susah sekali untuk keluar.
"Awalnya....aku kesel Pak, sama Nugrah saat setiap hari mengeluhkan omongan tetangga yang tidak mengenakan di telinga kita. Awalnya aku nggak terlalu memikirkan, aku bahkan selalu menasehati nya, agar kita tidak memikirkan omongan orang. Sampai saat ada guru baru dan....nggak sengaja aku curhat, aku cerita keluh kesah kehidupan rumah tangga, yang pada akhirnya mendekatkan aku sama dia, membuat kenyamanan yang biasanya hanya aku rasakan sama Nugrah jadi berpindah ke dia__"
Keanu belum selesai bicara, Yuni sudah memotong dengan air mata yang meleleh di pipinya. "Yan! kamu salah jalan. Kenapa curhatnya nggak sama aku aja?! Kenapa kamu lebih percaya sama orang baru? Ya Allah ...," tangisan Yuni begitu memilukan memancing Bapak dan Keanu mengeluarkan air mata.
Bapak mengangguk menyetujui apa yang Yuni katakan, "lalu, sekarang gimana? Kamu pilih siapa?!"
Keanu menggeleng, "bapak jangan tanya seperti itu. Karena sebelum Anugrah tahu, sebenarnya Kean sudah menyelesaikan kedekatan Kean dengan dia, Kean sudah menyadari kesalahan Kean. Sayangnya sebelum Kean mengatakan kejujurannya, Anugrah sudah tahu lebih dulu dari Ibu," ucap Keanu.
"Tolong, Pak. Maafin Yan, serius Pak," ucap Keanu sungguh-sungguh.
"Begitu?! Kamu nggak lagi ngapusi 'kan Yan?! Kamu harusnya waktu itu ada buat istrimu Yan, bukan malah membiarkannya menelan bulat-bulat omongan orang yang membuatnya terlalu kepikiran sampai lupa jadwal haid, sampai tidak tahu keberadaan anak nya."
Si al! Yuni benar-benar emosi.
Bapak menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Jadi, intinya kalian_maksudnya kamu sama pacarmu itu hanya sekedar saja 'kan? Tidak neko-neko?" Keanu langsung menggeleng.
"Nggak perlu di maafkan Pak, bocah kayak gitu. Nggak neko-neko juga sudah begitu nyakitin Pak," ucap Yuni lagi dengan sinis melirik Keanu.
Lagi-lagi Bapak menarik nafas, "Bapak nggak bisa memutuskan, apalagi menghasut putri ku untuk bagaimana, bapak hanya bisa menyerahkan keputusan terbaik untuk putriku. Kalau Nugrah bisa memaafkan mu ya, bapak pasti juga memaafkan mu, begitu pun sebaliknya."
Bapak beranjak dari duduknya, "bapak pamit. Assalamu'alaikum."
"Biar Kean antar pak," Keanu buru-buru berdiri.
"Tidak perlu Yan, kamu capek." Bapak bahkan tidak menoleh ke arahnya di susul Yuni di belakangnya dengan buru-buru. Karena Yuni khawatir bapak kenapa-napa.
Keanu hanya bisa memandang penuh rasa sesak di dadanya pada dua punggung orang yang sudah ia kecewakan menjauh. Sampai tak lagi terlihat. Masih membayang di pandangannya bagaimana wajah kecewa dan amarah bapak juga Yuni. Rasa sakit hati mereka bisa Keanu rasakan dan Keanu lihat. Sekarang Keanu harus lebih kerja keras lagi, selain meminta maaf istrinya, ia juga harus meminta maaf dari mertuanya.
Menarik nafas dengan sesal ia kembali masuk dan duduk di sofa.
Inilah buah dari apa yang coba-coba ia tanam.
__ADS_1
Penyesalan yang harus ia hadapi.