
Siang harinya Yuni-sahabatnya datang lagi ke rumah Anugrah.
"Yun, Reno nggak ikut?" Tanya Anugrah yang kini tengah mengupas mangga, buah tangan dari Yuni.
"Udah berangkat lagi, Nu. Udah di telpon terus menerus sama bosnya." Jawab Yuni sembari merengut.
"Haha, jadi kamu lagi LDR an?"
"Hm!" Yuni terlihat kesal. "Sebelas dua belas sama kamu lah, Nu." Kata Yuni lagi.
"Sebelas dua belas apa?"
"Kamu 'kan dulu juga di tinggal Kean, mana belum di bobol lagi. Hahaha," Yuni tertawa, "aku masih mending di tinggal udah di bobol," Yuni terlihat memang sekarang.
Mengingat itu Anugrah jadi berhenti dari acara mengupas mangga nya, menerawang jauh ke waktu awal-awal menikah, walaupun berjauhan tapi ia tak pernah seperti sekarang. Memilki rasa percaya yang begitu besar pada Keanu, tak pernah merasa kesepian seperti akhir-akhir kemarin, sampai sesuatu terjadi dan itu sangat menyakitkan. Seketika bibirnya tersenyum miring saat mengingat semua hal tentang dirinya dan suaminya.
Apakah hanya akan bertahan sampai sini? Apa bisa dirinya memaafkan suaminya? Memberi kesempatan kedua? Anugrah menggeleng.
"Loh, Nu! Malah bengong, sini biar aku aja yang kupas." Anugrah terkejut saat pisau dan mangga yang baru di kupas sedikit di ambil oleh sahabatnya.
"Nu?" Tanya Yuni.
"Hm," Anugrah memperhatikan Yuni yang mengupas mangga dengan cepat. Bahkan kini sudah mulai memotong kecil-kecil dan di taruh di piring yang sudah di sediakan.
"Kok, kamu balik ke sini? Nggak lagi ada masalah 'kan? sama bojomu?"
"Ukhuk-ukhuk-ukhuk," Anugrah keselek potongan mangga yang baru saja ia makan.
"Ya, Allah Nu. Sabar, aku nggak minta cuma icip," ucap Yuni sembari beranjak ke belakang mengambilkan minum untuk sahabat nya itu. Sebentar saja ia sudah kembali ke depan dengan segelas air minum untuk sahabatnya.
Anugrah menerima gelas dari tangan Yuni dan langsung meminum semua isinya sampai tak tersisa sedikitpun.
__ADS_1
"Haus? Bu?" Kini Yuni sudah duduk kembali di kursi. Memandangi Anugrah dengan mata penasaran.
"Kenapa? Biasanya ya ... orang keselek karena ada yang ngomong pasti ada sesuatu. Apakah itu?" Rasa penasaran Yuni semakin menjadi karena dengan tiba-tiba Anugrah mengalihkan pandangannya dari dirinya.
"Ayolah, Nu ... kamu kenapa? Nggak mungkin 'kan nggak ada apa-apa tapi kamu balik ke sini, Keanu ke sana!"
Anugrah masih diam tak menjawab.
"Nu ... selama hidup. Dari masih TK sampai sekarang apa masih kurang percaya kamu sama aku?! Kalau memang Kean nyakitin, bilang Nu ... atau kamu memang sudah tidak menganggap aku sebagai sahabat lagi?"
Anugrah menelan ludah kasar sebelum mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya, Anugrah dapat melihat wajah Yuni yang menahan air mata. Mungkinkah Yuni dapat mengerti perasaan nya?
Anugrah menarik nafas sebelum menjawab, "dia ... se_se_selingkuh Yun," air mata yang mungkin baru beberapa jam tidak luruh akhirnya luruh kembali.
Yuni yang kaget mendengar penuturan sahabatnya itu, seketika membesarkan matanya. Berdiri dan berpindah tempat duduk agar dapat memeluk sahabatnya itu. Dua perempuan yang sudah begitu erat menjalin persahabatan saling memeluk dan menangis bersama. Bagaimana mungkin? hati Yuni berbisik. Mungkin kah salah paham kembali?!
Tapi jika hanya kesalahpahaman tidak mungkin bukan Anugrah sampai segini nya, menangis bersedih. Bahkan sampai tak menginginkan suaminya bersamanya.
Sulit di percaya Keanu seperti itu, karena bagi Yuni cinta Kean dan Anugrah itu begitu nyata. Cinta dari masa kecil hingga kini.
Anugrah mengangguk, "aku tahu dari ibu."
"Kamu tahu siapa orangnya?" Tanya Yuni lagi. Ia benar-benar penasaran, bagaimana mungkin?
Anugrah menggeleng, "tapi kata bapak dan ibu, dia juga guru. Guru Bahasa Inggris."
"Ya sudah, aku balik dulu ya. Kamu makan lagi buah nya, aku nggak bakal minta." Ujar Yuni yang langsung beranjak pergi. Tak mengindahkan pertanyaan dari sahabatnya.
"Kenapa buru-buru?" Tapi Yuni sudah tak terlihat.
Anugrah buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya, ia takut kalau Bapak yang ada di kebun belakang rumah sampai tahu.
__ADS_1
Setelah nya ia berdiri dan berbalik, lalu berjalan ke dalam dengan membawa sampah kulit mangga ia melihat bapaknya bersandar di tembok pembatas antara ruang depan dan rumah tengah. Seketika itu ia terdiam di tempatnya.
"Bapak," ucapnya tercekat.
"Bapak ngapain di sini?" Ia mencoba biasa-biasa saja, karena ia berharap bapak tidak mendengar apapun.
"Nggak ngapa-ngapain, Nduk. Mau ambil handuk, mau mandi, sebentar lagi 'kan dzuhur." Jawaban bapak membuat Anugrah melanjutkan jalannya menuju ke belakang.
...----------------...
Sebagai orang tua, jelas bapak tak rela jika anaknya di sakiti seperti ini. Bukan mau ikut campur, tapi jelas Bapak ingin mengetahui segalanya. Tadi, bapak tak sengaja mendengar obrolan putrinya dengan sahabatnya, dan Bapak merasa begitu sakit saat tahu kebenarannya. Entah bagaimana ekspresi istrinya jika tahu, kalau menantunya seperti itu.
Tapi, bapak tidak akan membagi tahu pada istrinya sebelum bapak tahu segalanya. Jadi sekarang setelah bapak selesai mandi dan berpakaian rapi, ia pamit pada Anugrah pergi ke Musala begitu mendengar suara Adzan.
Dan nanti setelah salat bapak berniat untuk ke rumah Keanu, karena jika bapak ke sana sekarang bapak pastikan kalau Keanu belum pulang dari Sekolah.
...----------------...
Lain Bapak lain Yuni. Setelah mendengar penuturan Anugrah, segara saja ia pergi ke rumah Keanu tanpa memikirkan kalau Keanu sudah pulang apa belum. Yang pasti ia ingin segera bertanya bagaimana mungkin sahabat nya itu bisa mengkhianati cinta yang sudah ada sejak lama.
Dengan ojek Yuni sampai di depan rumah bercat hijau. Rumah yang asri juga sepi.
Setelah turun Yuni segera membayar ojek dan mendekat ke pintu bercat putih. Ia mengetuk pintu itu. Namun yang menjawab malah tetangga Keanu. Wanita muda berjilbab panjang, dengan perut buncit dan balita di sampingnya.
"Cari siapa, Mbak?" Tanya wanita itu sopan.
"Kean, Mbak." Jawabnya sembari tersenyum.
"Oh, Mas Kean belum pulang. Mbak Anugrah juga belum pulang. Kalau Mbak Anugrah malah katanya sedang menginap di rumah ibu nya." Begitu kata perempuan yang Yuni yakini tetangganya Keanu.
"Oh, iya. Makasih informasinya."
__ADS_1
Dan perempuan berperut buncit itu pergi sembari menggandeng tangan anaknya. Yuni tersenyum melihat anak cantik menggemaskan yang diam saja saat ibunya berbicara. Fokus Yuni yang tadinya ingin buru-buru bertemu Keanu jadi teralihkan pada anak kecil itu. Sembari bergumam dan mengusap perut.
Dan akhirnya, Yuni mendekat ke teras yang terdapat tiga pot putih berisi bunga mawar. Yuni lantas duduk di sana, menunggu Keanu. Ia tak ingin membuang-buang waktu untuk pulang. Ia ingin begitu Keanu sampai, ia langsung bertanya bagiamana sebenarnya. Karena jujur saja sedikit saja hati Yuni merasa ini tidak terjadi, atau lebih tepatnya ia tidak percaya.