Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Saling Diam Part Il


__ADS_3

Perkenalan di sekolah hari ini berjalan dengan lancar, anak-anak sangat menyukai kehadiran Keanu sebagai guru olahraga baru. Karena selain ramah dan penyayang, Keanu itu tampan jelas di senangi oleh anak-anak, terutama anak cewek. Kata mereka mirip sekali dengan idola mereka oppa-oppa Korea. Keanu sampai heran, bagaimana bisa anak-anak seusia mereka bisa tahu oppa-oppa Korea.


Siang nya ia pulang ke rumah Mamak, ia sangat berharap ada istrinya yang tengah pulang. Tapi ternyata di rumah hanya ada mamak saja. Akhirnya siang ini pun ia makan sendiri, sembari makan ia membuka ponsel dan mengirimkan pesan pada Anugrah. Tapi ternyata tidak terkirim.


[Dek, makan.] βœ“


Rindu. Saat ini ingin sekali Keanu menemui istrinya dan menceritakan yang terjadi tadi. Tapi, ia masih ingat kata-kata istrinya yang tidak membolehkan dirinya mendekat sebelum di minta.


"Entah kenapa Anu ku itu, padahal ini kalau makan di suapi Anu bakal tambah nik mat." Gumam nya sembari memasukan sesendok nasi penuh ke dalam mulutnya.


Ia sangat berharap sebelum dirinya pergi istrinya pulang. Tapi ternyata sampai ia selesai makan, bahkan ganti baju dan salat pun istrinya tidak pulang. Sampai ia tiduran di kamar seusai salat guna mengisi waktu kosong nya, tapi sampai jam tiga sore Anugrah ternyata tidak pulang.


Ternyata dari pagi tanpa kabar dari istrinya terasa begitu lama dan membosankan. Ia begitu merindukan sosok Anugrah yang selalu dekat dengannya, manja dengannya. Entah sedang kenapa Anugrah, Keanu benar-benar tidak tahu.


Perlahan-lahan ternyata menunggu membuat matanya terasa berat, dan akhirnya Keanu pun tertidur di ranjangnya.


***


Karena rasa kesal ia melupakan sarapan, dan sekarang saat sudah waktunya makan siang Anugrah malah merasakan aneh di perutnya, ia merasa mual bahkan ia merasa kembung dan pusing sampai tengkuk nya terasa sangat sakit.


Hari ini dagangan nya sangat laris, ia sampai kewalahan karena pembeli nya datang berbarengan. Entah karena waktunya atau memang karena rezekinya di jam segitu, yang jelas Anugrah dan Mbak Ningsih kelelahan sekarang.


Anugrah menyuruh Mbak Ningsih istirahat duluan, dan sekarang tengah pergi ke Masjid untuk salat. Anugrah merasa sudah tidak baik-baik sekarang, perutnya semakin mual tapi Toko tidak bisa di tinggal, apalagi toko sebelahnya yang jaga hanya satu dan terlihat tengah melayani pembeli, Anugrah jadi sungkan untuk minta tolong.


Akhirnya ia mencoba untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Mbak Fitri. Ya, Mbak Fitri satu-satunya orang yang bisa membantunya. Karena jika minta tolong sama Siti tidak mungkin, karena Siti masih dagang di pasar baru, belum pindah ke Toko.


Tut ... Panggilan pertama langsung di jawab si empunya.


"Ya, Nu," ucap Mbak Fitri.


"Mbak, boleh minta tolong?" Percayalah saat ini perut Anugrah semakin tak enak, rasanya seperti di iris-iris. Anugrah mendesis sembari duduk memeluk perut.


"Tolong, apa Nu?"


"Beliin, pro mag terus anterin ke sini. Sekarang." Kata Anugrah.


"Kenapa, kamu? Sakit?" Tanya Mbak Fitri lagi.


"Siapa, Fit?" Terdengar suara Bu Ranti dari panggilan itu. Anugrah hanya diam mendengarkan.

__ADS_1


"Nugrah, Bu, minta pro mag katanya." Mbak Fitri terdengar menjawab pertanyaan Bu Ranti.


"Ya wis Nu, aku beli dulu ya," ucap Mbak Fitri akhirnya.


"Suwun Mbak." Anugrah menyudahi panggilan itu.


Ia melanjutkan mere mas - re mas perutnya yang semakin sakit. Jika saat ini ada pembeli ia benar-benar tidak peduli.


Seketika, saat tengah menahan rasa sakitnya Anugrah mengingat suaminya. Mengingat betapa kesalnya ia pada Keanu dan bagaimana sikap buruk nya tadi pagi pada suaminya.


Ia membuka blokiran nomor Keanu, dan mendapati pesan dari Keanu.


[Dek, makan.] Pesan dari Keanu.


Tes .... air matanya menetes mana kala mengingat suaminya. "Kenapa kirim pesan cuma kayak gitu?" Gumamnya sembari menahan sakit.


"Dasar! Laki-laki. Omdo!" Dalam sakitnya ia masih bisa mengumpat suaminya.


(omdo : omong doang)


"Nu," panggil Mbak Ningsih yang baru datang dari luar.


"Mbak, tolong belikan obat sakit perut Mbak." Suara Anugrah terdengar menahan sakit.


"Nggak, papa Mbak. Kayaknya cuma mag nya kambuh." Anugrah masih memegangi perutnya.


"Ya, ya. Sebentar ya," ucap Mbak Ningsih. Ia langsung berlalu dengan buru-buru dari sana.


Bahkan Anugrah belum memberikan uang tapi Mbak Ningsih sudah berlalu.


Tak begitu lama Nu Ranti datang dengan menenteng keresek, "Nu," panggilnya.


"Eh, bu. Jadi ngerepotin." Uajr Anugrah. Ia mencoba untuk duduk dengan tegak padahal perutnya sudah tak bisa ia bawa untuk duduk. Sakit sekali.


"Ya, Allah. Kamu keringetan kayak gini, banyak banget. Kamu sakit?" Tanya Bu Ranti penuh ke-khawatiran.


"Cuma, sakit perut kok, Bu." Jawabnya.


Tapi wajah pucat nya tidak bisa di bohongi. Bu ranti langsung mengeluarkan botol minum yang tadi ia bawa beserta makanan. Ia niatnya ingin memberi kan makan siang juga untuk menantunya itu.

__ADS_1


Bu Ranti lantas menyuruh Anugrah minum, dan Anugrah menurut.


"Periksa saja yuk, ke Puskesmas." Ajak Bu Ranti.


"Nggak perlu bu, obat nya mana, biasnaya Nu kalau sakit perut minum obat itu sembuh." Ujarnya. Ia mengambil gelas kecil yang memang ada di meja nya, dan mengambil sebutir obat berwarna hijau tersebut dari kantong, sesaat setelah bu Ranti menunjuk kantong yang tadi ia bawa.


Anugrah lantas menaruh obat itu di dalam gelas agar larut, karena Anugrah tidak bisa meminum tablet, suka tidak tertelan.


"Keringat nya banyak gini, Nu. Ibu khawatir," ucap Bu Ranti. Bu Ranti melap keringat yang begitu banyak di dahi Anugrah.


Setelah meminum obatnya, Anugrah bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya.


Ia sangat berharap ini semua segera sembuh, dan makan. Ya Anugrah baru ingat kalau dia belum makan dari pagi, bahkan belum makan apapun. Minum saja tidak. Ya ampun gara-gara emosi Anugrah melupakan dirinya, melupakan kesehatan nya. Dalam diamnya Anugrah merutuki kebodohannya, hanya gara-gara rasa cemburu, Anugrah menghancurkan ba dan nya.


Bu Ranti tetap di samping Anugrah, ia dengan telaten melap keringat menantunya itu. Ia begitu khawatir sampai ia mengingat sesuatu. Kalau dia harus memberitahu anaknya.


"Keanu, sudah ke sini Nu?" Tanya Bu Ranti semabri mengambil ponselnya dari saku.


Anugrah menggeleng.


"Udah ngabarin belum? Udah pulang 'kan?" Tanya Bu Ranti lagi. Anugrah benar-benar bingung Bu ranti bertanya apa? Pulang? siapa?


"Jam segini sih harusnya sudah pulang, bapak saja sudah di rumah biasanya jam segini. Nggak aktif malah!" Kesal Bu Ranti.


Yang jelas Anugrah tidak tahu apa yang di bicarakan Bu Ranti.


***


Setelah tiga puluh menit lebih, berangsur sakit di perut Anugrah hilang. Tapi pusing di kepalanya masih terasa. Di sana, di Tokonya masih ada Bu Ranti, ia tengah ngobrol dengan Mbak Ningsih yang sudah kembali dari beli obat setelah Anugrah meminum obat dari Bu Ranti.


Kini Anugrah tengah makan makanan yang di bawakan mertuanya. Nasi liwet dengan Ayam goreng lengkuas juga sambel. Tapi Bu Ranti melarang Anugrah untuk memakan sambalnya, dan Anugrah menurut saja.


Bahkan Bu Ranti membelikan teh manis hangat untuk menantunya itu.


"Kean, nggak ke sini? harusnya 'kan dia sudah pulang dari sekolah." Ujar Bu Ranti lagi.


"Capek, katanya Bu," ucap Anugrah. Ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya. Padahal ia baru tahu kalau suaminya sudah mulai ke sekolah. Bahkan hari pertamanya saja ia tak tahu.


"Ya, kali. Habisin nasinya, Ibu tak balik ke Toko ya," ucap Bu Ranti.

__ADS_1


"Iya, makasih ya bu."


Anugrah benar-benar bersyukur mendapat mertua yang begitu baik seperti Bu Ranti.


__ADS_2