Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Harapan yang Hilang


__ADS_3

Diam. Tak lagi bisa berkata apa-apa. Sungguh, jika semuanya terbalik dan yang melakukan keburukan itu bukan lah Keanu melainkan Anugrah, sudah jelas Keanu tidak akan memberi maaf. Tapi sekarang, Keanu malah meminta maaf, apa masih bisa di maafkan? Sementara dulu, hanya kesalahpahaman sedikit saja antara Anugrah dan Anwar Keanu sudah begitu sangat kesal.


Sekarang keduanya saling diam, hanya ada air mata yang menetes. Saling memandang penuh rasa, rasa cinta yang masih ada di sana. Di dalam dada.


Rasa sakit di perut yang kian manjadi tak lagi Anugrah pedulikan, ia tetap duduk dengan diam menatap wajah tampan sang suami yang penuh dengan lelehan air mata.


Namun seketika ... mata Anugrah perlahan terpejam dan dalam detik berikutnya Anugrah jatuh ke samping. Pingsan.


"Deeek!!" Teriak Keanu seketika saat melihat istrinya jatuh pingsan.


...----------------...


Entah apa ini. Sebuah kesalahan terbesar baginya sekarang. Keanu menunduk di dekat sang istri yang terbaring lemah dengan mata terpejam. Sungguh, ia merasa begitu jahat sekarang. Apa yang sudah ia lakukan?


"Assalamu'alaikum, gimana Nugrah, Yan?" Mamak dan bapak datang begitu di beri kabar olehnya kalau putrinya pingsan.


"Wa'alaikumsallam. Belum, sadar Mak, Pak." Keanu berdiri membiarkan Mamak dan Bapak mendekat ke arah putri mereka.


Mamak menangis tanpa suara, mencium kepala putrinya dan menggenggam tangan Anugrah yang tidak di pasang infus.


Bapak pun terlihat sama, Bapak menitikan air mata melihat putrinya lemah tak berdaya.


Keanu hanya bisa melihat pemandangan itu dengan penuh rasa penyesalan.


"Bagaimana, Nugrah Yan?" Tepukan pelan di pundaknya membuatnya menoleh. Ada bapak dan Ibu nya.


"Belum sadar, Pak." Jawabnya dengan begitu pelan.


Ibu Ranti langsung mendekat ke samping mamak, memeluk besannya itu dan menenangkan sang besan. Ibu Ranti bahkan tidak melihat sebentar saja ke arah sang putra.


"Keluar sebentar. Bapak ingin bicara," ucap Bapak Runo. Keanu mengangguk dan mengikuti langkah sang bapak. Sebelumnya ia pandangi terlebih dulu wajah-wajah orang yang sudah ia kecewakan.


"Bagaimana? Kenapa bisa pingsan?" Kini Bapak dan Keanu sudah duduk di lorong rumah sakit.


"Anugrah ... Anugrah," Keanu tidak bisa mengatakan apa-apa, ia menangis menutup wajahnya dengan dua telapak tangan nya.

__ADS_1


Bapak yang melihat itu hanya bisa menepuk punggung sang putra. Ia belum tahu apa yang terjadi pada menantu nya itu. Kenapa Keanu-putranya sampai sedih begitu. Pak Runo membiarkan Keanu menangis, ia tetap menunggu di sampingnya.


"Tadi," Keanu mulai bicara kembali. Setelah di rasanya cukup tenang, dan bisa mengatur nafas.


"Saat kita tengah bicara, tiba-tiba, dia pingsan Pak." Kean masih bicara dengan menunduk.


"Lalu, Kean lari pinjam mobil tetangga, dan saat_saat Kean membopong Nu, di bagian bawah Nu ada darah. Dan saat sampai sini dan di periksa, kata perawat Nu keguguran Pak."


Tangan Bapak Runo yang ada di punggung Keanu melemas, ia menelan ludah kasar. Bapak Runo merasa kesal sekarang, entah kesal dengan siapa yang jelas ia merasa kan sakitnya, sakit yang anak dan menantunya rasakan.


Pak Runo menarik nafas kasar. Keanu menoleh ke arah bapak nya, "Kean bodoh Pak. Kean nggak bisa jaga istri Kean."


Penyesalan tinggal penyesalan, sekarang Bapak nya bahkan diam membisu tak mengatakan apapun lagi. Ia begitu kecewa pada putranya. Sangat, sangat kecewa.


Bapak berdiri dan pergi meninggalkan putranya, ia masuk kembali ke ruang di mana menantunya di sana.


Bapak membuka pintu, semua orang menoleh ke arahnya. Bapak berjalan mendekat, "belum sadar?" Tanya Bapak.


"Belum," jawab Ibu Ranti-istrinya.


"Belum sadar yah?" Tanya nya sembari mendekat.


"Belum, sus. Kenapa memangnya anak saya?" Tanya Bu Ranti.


"Tidak apa-apa, Bu. Hanya lemah karena banyak mengeluarkan darah, nanti juga sadar dan sehat kembali," ucap perawat muda dan cantik.


"Mengeluarkan darah?" Tanya bu Ranti lagi dengan kening berkerut.


"Iya, dari hasil pemeriksaan tadi, Ibu Anugrah mengalami perdarahan karena keguguran." Tutur sang perawat.


"Ya Allah," mamak menangis.


"Tidak apa-apa ibu, yang penting ibu nya sehat, nanti bisa hamil lagi. Di tinggal dulu ya, nanti kalau sudah sadar tolong panggil saya ya, di depan. Biar di periksa lagi."


...----------------...

__ADS_1


Perlahan mata yang lama terpejam itu terbuka. Hal pertama yang Anugrah rasakan adalah sudah tidak lagi nyeri di perut nya, bau-bau obat-obatan menusuk indra penciumannya, dan yang pertama ia lihat adalah langit-langit dengan warna putih.


Ia mengedarkan pandangan mencari seseorang, ada ibu Ranti yang tengah duduk dengan kepala yang tidur di sisi ranjang rumah sakit, Anugrah bisa melihat botol infus tergantung yang selang nya menjurus ke tangan sebelah kirinya.


Ia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ini, dan ia langsung mengingat semuanya. Tadi saat dirinya duduk berhadapan dengan sang suami ia masih ingat kalau ia merasakan seperti ada yang keluar dari bagian intinya, bersamaan dengan rasa sakit yang bertambah. Lalu setelah itu ia tak tahu apa-apa lagi.


Bu Ranti mengangkat kepalanya, memijit sebentar, mungkin terasa pusing.


"Nu, sudah sadar?" Ibu Ranti berdiri dan mengusap kepala sang menantu.


"Sudah, bu," jawaban Anugrah masih begitu pelan.


"Sebentar ya," Bu Ranti keluar dan sebentar saja ia sudah kembali.


"Mau, minum?" Tanya nya penuh perhatian pada sang menantu.


Anugrah mengangguk, Bu Ranti memberikan segelas air mineral kemasan dengan sedotan. Segelas penuh di sedot oleh Anugrah.


"Sudah enakan?" Tanya Bu Ranti. Anugrah kembali mengangguk. Tak bisa di pungkiri, Anugrah masih merasakan sakit apalagi saat orang yang pertama ia lihat saat sadar adalah mertuanya bukan suaminya.


Pintu di buka, perawat datang. Sebelumnya Anugrah pikir itu adalah Suaminya. Perawat menyapa dan memeriksa, setelannya pergi. Karena semua sudah baik-baik saja, tinggal USG sekali lagi untuk mengetahui apa rahim Anugrah sudah bersih atau belum.


Seketika saat itu, Anugrah baru sadar akan sesuatu. Tentang dirinya yang kehilangan janin harapan nya. Air mata nya jatuh kembali saat perawat itu pergi, ibu Ranti yang tahu apa yang tengah di rasakan menantunya itu memeluk erat.


"Sabar ya, ibu hanya bisa bilang sabar." Ujar Ibu Ranti sembari memeluk menantunya itu.


Anugrah mengangguk, Ibu Ranti melepas pelukan nya. Anugrah mengusap matanya yang basah. Ibu Ranti memberikan tisu padanya.


"Mereka semua sedang Salat, sengaja ibu suruh mereka semua pergi, Ibu pengin nemenin kamu sendirian." Ujar Bu Ranti. Ibu Ranti tentu tahu apa yang tengah Anugrah pikirkan.


"Tadi, ibu bener-bener khawatir, kamu terlihat begitu lemah bahkan bibir kamu benar-benar pucat. Sekarang kamu mau makan apa? Biar ibu belikan."


"Enggak, bu. Anugrah tidak ingin apa-apa."


Ibu Ranti tersenyum mengusap kepala Anugrah.

__ADS_1


__ADS_2