
Sore-sore memang paling enak duduk di teras, menikmati keindahan sore. Sinar matahari yang sudah tak terasa panas, dan angin yang semilir. Apalagi ditemani tamu yang begitu ia tunggu-tunggu kehadirannya.
Dua manusia yang berbeda usia dan beda pekerjaan itu tengah duduk manis dengan suguhan kopi hitam yang baru di seduh, baunya menusuk hidung, dan membuat pemilik ingin segera meminumnya.
"Loh, kok di anggurin. Ayo monggo di minum, keburu dingin, ini ditemani pisang goreng." Ibu Ranti keluar dari dalam, dengan sepiring pisang goreng.
"Padahal, udah makan pisang gorengnya tadi, Bu Ranti." Kata bapak Yudi. Karena memang pisang goreng yang Bu Ranti hidangkan itu, buah tangan Pak Yudi, di suruh bu Yanti-istrinya.
"Hehe, soalnya pas aja pak, kopi sama pisang goreng." Kata Bu Ranti, "oh, sebentar, saya ambilkan getuk goreng ya ...." Ujar bu Ranti yang masuk kembali ke dalam.
"Tapi, enak loh ini Pak, pisang gorengnya.aaih anget gurih lagi, pisang nya belum terlalu matang jadi empuk." Ujar Pak Runo sembari menggigit pisang goreng.
"Iya, soalnya Anugrah nggak mau kalau pisang goreng, pisang nya yang sudah matang banget, Pak Guru," ucap Pak Yudi.
"Sama, kayak Kean, kalo gitu." Pak Runo senyum-senyum mengingat kesamaan anak-anak mereka.
Bu Ranti keluar dengan sepiring getuk goreng yang biasa nya ia beli, di dekat lampu merah. Di Toko pusat oleh-oleh. Pak Runo memang cinta sekali dengan getuk goreng, jadi selalu ada.
Selagi Pak Runo belum bosan, Bu Ranti pasti akan membeli kan nya, untuk suami tercinta.
__ADS_1
"Apa, yang sama, Pak?" Tanya Bu Ranti, kepo.
"Ini,si Nugrah sama Kean. Sama-sama suka pisang goreng yang pisang nya masih setengah matang, nggak suka pisang yang sudah kematengan." Jelas Pak Runo pada istrinya.
Bu Ranti sudah ikut duduk dengan membawa kursi dari dalam, ia jelas ingin nimbrung dengan obrolan kedua bapak-bapak itu.
"Jadi, gimana ini ... kita ngobrol di sini saja, atau enak nya di dalam?" Tanya Pak Runo lagi.
"Di sini, saja lah, Pak Guru. Lebih enak semriwing, silir-silir," jawab Bapak.
"Gimana, pak? Harusnya tadi sama Mamak ke sini nya, jadi kita bisa bareng-bareng ngobrolnya." Kata Bu Ranti.
"Iya, tadinya Mamak mau ikut. Tapi ada pembeli, si Ninik kan kalau beli dagangan Anugrah suka lama, sambil ngobrol ngalor-ngidul nggak selesai-selesai. Si Nugrah lagi di Musala, ngepel di panggil sama si Yuni." Bapak mejelaskan sembari menyomot getuk goreng.
"Hehe, iya, Pak Guru." Bapak menelan getuk goreng yang di mulutnya, lalu meminum kopi nya.
"Bukan mau menolak, Pak guru. Tapi ya ... gimana ya, kan mereka baru tunangan, masa mau sebesar itu ngasih nya, ya jelas saya bilang Anugrah untuk menolaknya, terkecuali memang nanti beli nya kalau sudah menikah. Bukan mau mendoakan anak-anak kita nggak panjang jodohnya, pak, bu ... hanya saja kita kan nggak tahu kedepannya kayak gimana, seperti itu pak guru, bu Ranti." Kata bapak panjang lebar.
Pak Runo dan sang istri tersenyum mendengarnya. Ya memang mereka pun punya pikiran seperti itu. Tapi Bu Ranti sudah terlalu yakin juga dengan Anugrah untuk menjadi menantunya, apalagi Keanu nya juga mau. Jadi Bu Ranti sangat senang dan setuju saja saat Keanu meminta pendapatnya untuk membeli kios di dalam pasar.
__ADS_1
"Apa kita nikahkan saja mereka, pak?" Usul bu Ranti dengan semangat nya, menoleh ke suami dan pak Yudi.
"Iya, ya bu ... toh kita ini sudah tua, mau nunggu sampai kapan lagi, ya nggak pak Yudi?" Pak Runo pun sama-sama semangatnya.
"Lah, Pak guru ini ada-ada saja. Kan Nak Keanu lagi sekolah. Lagi kalo pak guru dan bu Ranti ini mending masih muda, aku sama Mamak itu loh yang sudah bau tanah." Kata Pak Yudi lagi.
"Loh, kan bisa pulang dulu, buat nikah. Nanti bisa di tinggal kuliah, kalau ada liburan semester bisa pulang, gitu pak Yudi. Lagian saya juga sudah tua pak Yudi, nggak lama lagi saya sudah mau pensiun." Kata Pak Runo.
"Ah, masa' wong masih kelihatan muda gini," Pak Yudi tak percaya.
"Beneran, pak. Nanti juga sebentar lagi guru olahraga ada yang akan pensiun, nanti In Sya Allah Kean akan daftar di sana, jadi habis kuliah In Sya Allah langsung ada kerjaan." Kini Bu Ranti yang menjelaskan.
Pak Yudi masih tak percaya kalau Pak guru sudah tua, pasalnya wajahnya masih terlihat seperti umuran empat puluhan.
"Makanya, saya pengin anak saya jangan menikah di usia yang terlalu dewasa, Pak Yudi. Ya, walaupun kita nggak tahu ya, umur sampai kapan, tapi tidak ada salahnya kan kita berkeinginan."
Pak Yudi mengangguk setuju, pasalnya dirinya juga menikah muda, tapi nyatanya tak langsung di berikan keturunan. Begitu juga dengan Pak Runo dan Bu Ranti, walaupun menikah di usia yang matang, tapi mereka langsung di berikan keturunan.
Semua tidak ada yang tahu akan seperti apa kedepannya, tapi tidak ada salahnya kan, kita punya keinginan.
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut dengan obrolan serius, yang di mana butuh persetujuan dari anak-anak mereka.
Obrolan hangat berjalan begitu saja, membuat kerutan di pinggir mata mereka terlihat dan mata mereka menyipit mana kala menceritakan ke konyolan mereka waktu muda, juga menceritakan anak-anak mereka waktu dulu.