
"Jadi, intinya Nu ... kamu kembalikan semua pada Yang Kuasa. Pasrah saja. Anak itu Rezeki, jadi kalau belum di kasih, namanya itu belum rezeki kamu, kamu lihat aku, anakku siji, semua orang bilang punya anak seenggaknya dua. Tapi, aku nggak pernah mikirin apa lagi nanggepin omongan orang, karena menurutku, satu sudah cukup. Terkecuali kebobolan." Terang Mbak Fitri.
Anugrah menganggukkan kepalanya. Semua baju sudah beres, tapi keduanya masih duduk di sana sembari menunggu Bu Ranti yang entah sedang apa.
Anugrah masih diam tak membalas apa yang Mbak Fitri bilang barusan, ia tengah menimbang-nimbang perkataan mbak Fitri. Mbak Fitri juga ikut diam, dirinya hanya mengamati Anugrah, melihat wajahnya yang terlihat bingung. Sedetik kemudian ia menepuk pundak menantu bos nya itu membuat Anugrah menoleh seketika.
"Enggak usah di pikirin, bawa happy aja. Mau kasih kejutan 'kan, buat suamimu?" Lagi-lagi Anugrah mengangguk.
"Eh, emang Kean percaya aja kalau kamu nggak bakal ke Kota, di wisuda nya?" Mbak Fitri lagi-lagi bertanya.
"Iya, dia emang paling bisa ngerti. Kalau aku bilang capek, ya udah ... dia nggak akan maksa," ucap Anugrah dengan senyum manisnya manakala ia ingat Keanu yang selalu membuat hari-hari nya penuh senyuman.
"Bucin ya Nu, padahal dulu ya, aku masih inget banget kalian udah kaya kucing sama tikus," ucap Mbak Fitri.
"Nggak nyangka ya Mbak, bakalan jadi suami-istri kayak sekarang." Ujar Anugrah.
"Udah di sini, Nu," ucap Bu Ranti yang baru masuk dengan menenteng keresek hitam belanjaan.
Mbak Fitri dan Anugrah seketika menoleh ke sumber suara. Bu Ranti menaruh belanjaannya di meja dan mengambil dompet nya.
"Iya, Bu. Abis beli apa Bu?" Tanya Anugrah. Pandangannya mengikuti gerak Ibu mertuanya.
"Bu Hajjah ada sayur kulit melinjo yang baru dateng, merah-merah, terus baru banget ngupas nya, jadi manggil ibu," ucap Bu Ranti. Kini dirinya sudah berdiri di samping menantunya.
"Aku di beliin nggak bu?" Tanya Fitri.
"Ambil, aja Fit. Ibu beli banyak kok," jawabnya.
"Makasih, bu." Mbak Fitri tersenyum sumringah.
"Tinggal ya, Fit. Ayo Nu, sekarang aja," ajak Bu Ranti.
Anugrah berdiri dan keluar dengan ibu mertuanya. Berjalan menuju parkiran guna mengambil motornya.
Tak begitu jauh dari Pasar, Anugrah dan Bu Ranti sudah sampai di rumah Mama Wiwi, tempat Bu Ranti menjahit baju untuk menghadiri wisuda anaknya.
Tak terlalu lama di sana, karena semuanya sudah pas dan tidak ada yang perlu di benarkan. Semua sudah bagus jadi langsung Bu Ranti bawa bajunya.
__ADS_1
Bu Ranti lalu mengajak Anugrah untuk makan siang. Berdua layaknya ibu dan anak, mereka tak terlihat seperti menantu dan mertua. Karena Bu Ranti selalu menggandeng lengan Anugrah, juga memesankan makanan kesukaan menantunya itu.
Selagi pesanan belum datang, Bu Ranti membuka percakapan.
"Tadi, Ibu denger kamu ngomong sama Fitri Nu." Ujar Bu Ranti. Anugrah tersenyum sedikit.
"Kamu, nggak boleh memikirkan yang seperti itu. Ibu pernah bahas yang seperti ini sama Bapak, sama Kean. Dan mereka tidak pernah masalah. Nu, anak itu titipan, jadi kalau kamu belum di titipi kamu nggak boleh kecewa." Anugrah mengangguk dengan senyum manis di bibirnya.
"Omongan orang jangan di dengerin, nggak akan ada habisnya. Dari belum nikah, di bilangin. Waktu nikah di bilangin, belum punya anak di bilangin, punya anak satu, di bilangin, punya anak dua cewek atau cowok semua di bilangin. Nggak ada habis-habisnya."
Bu Ranti tidak mau kalau sampai Anugrah tertekan karena masalah ini, apalagi mengakibatkan Anugrah sampai sakit karena kepikiran. Karena menurutnya, keturunan itu bukan utama dalam pernikahan, mereka masih bisa bahagia walau belum di karuniai putra.
"Iya, Bu. Anugrah juga sudah nggak memikirkan," ucap Anugrah.
Pesanan di antar, Ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan sudah tersaji di depan keduanya tak lupa es teh manis untuk Anugrah dan teh tawar untuk Bu Ranti.
"Bagus kalau gitu, mending sekarang kita makan. Daripada mikirin omongan orang." Ajak Bu Ranti ia sudah lega melihat Anugrah biasa-biasa saja.
Keduanya memakan makan siang mereka dengan lahap. Setelahnya mereka masih lanjut ngobrol berdua di tempat itu.
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, selalu di lewati Anugrah dengan pacaran lewat ponsel dengan suaminya.
"Lagi ngapain sih, dari tadi aku di suruh ngeliatin lampu," ucap Keanu di layar ponsel Anugrah.
"Bentar," jawab Anugrah. Ia tengah menaruh pakaian ke dalam lemari. Pakaian yang sudah di lipat rapi oleh Mamak barusan sehabis dari Musala.
"Ya, hape nya di berdiri in gitu, biar aku bisa lihat kamu," ucap Keanu lagi.
"Nih, udah ...." Ujar Anugrah yang sudah menghadap layar ponsel di tangannya. Ia kini sudah duduk bersandar di ranjang. Menatap suaminya dengan senyum yang lebar.
"Gitu, dong. Abis ngapain sih?" Keanu masih penasaran.
"Abis naro baju-baju yang udah Mamak lipat, tahu sendiri kalau nggak di taruh-taruh bisa Mamak yang naro dengan ceramah tujuh hari tujuh malam nggak selesai-selesai. Naro baju nya udah, ceramahnya nggak kelar-kelar."
Keanu terlihat menggelengkan kepalanya.
"Yuni tadi siang ke sini loh, sama Reno," ucap Keanu. Ya ... sekarang Yuni di Kota, ia memutuskan untuk berhenti dari jualan cilok dan bekerja di Toko bareng-bareng dengan Reno.
__ADS_1
"Ngapain, siang-siang ke tempat kamu," tanya Anugrah penasaran.
"Main aja, Toko nya tutup jadi dari pada bosan katanya, main deh," jelas Keanu.
"Oh, gitu ... Oh iya, Mas. Osin tadi bilang katanya kalau ibu sama Bapak ke Kota suruh nginep di kontrakannya aja, gimana?"
"Ya, kalau nggak ngerepotin, terserah. Emang nggak repot, Osin 'kan kerja."
"Ya, dia yang nawarin. Aku juga belum bilang Ibu, aku bilang dulu sama kamu." Keanu terlihat menganggukkan kepalanya. Anugrah lalu merebahkan tubuhnya miring, menatap ponsel yang penuh dengan wajah suaminya.
"Kamu, capek?" Tanya Keanu.
Anugrah menggeleng, "kangen." Jawabnya serius.
"Aku juga, kangeeeeen bangeeet. Pengin tidur sambil peluk kamu, pengin anu dua juga hehe," ucap Keanu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mulai deh. Aku bilang kangen, kamu menjurus ke sana," Anugrah pura-pura kesal. Padahal sebenernya ia pun sama, hanya saja gengsi untuk mengakuinya.
"Kamu juga pasti rindu 'kan sama singkong yang bikin merem melek," goda Keanu.
"Apaan sih Mas, selalu ngomongin singkong."
"Terus ngomongin apa, Sayang ... yang aku punya hanya singkong," Keanu tersenyum puas saat melihat wajah istrinya terlihat malu-malu tapi mau. Pipinya memerah.
"Udah, jangan bahas itu."
"Iya, jangan bahas singkong. Gimana kalau kita bahas donat?" Usul Keanu yang langsung kena pelototan dari sang istri.
"Ya, ya. Ampun istriku tercinta, jangan bahas singkong apalagi donat, kita bahas anu dua aja ya ...." Ujar Keanu lagi.
"Maaaassss, ih! Udah ah, aku mau tidur." Kesal Anugrah.
"Ya, tidurlah Sayang, Mas temenin, nanti Mas peluk dari belakang, terus Mas cium tengkuknya, terus Mas ra ba i tu nya__"
"Aku matiin, nih telponnya!" Ancam Anugrah.
Keanu tertawa lepas di tempatnya melihat istrinya kesal. Anugrah memang selalu kesal saat Keanu bercanda ke arah sana. Padahal jelas-jelas tak bisa di tutup-tutupi kalau Anugrah juga pasti rindu akan dirinya.
__ADS_1