
Selesai dengan aktifitasnya membersihkan Musala, ia kini tengah duduk di teras dengan siapa lagi kalau bukan dengan Yuni sang sahabat.
Pasmina yang di pakai anugrah masih terikat ke belakang leher, kaos lengan panjang nya masih tergulung sampai di bawah siku, celana kulot basah di bagian bawah. Keringat juga membasahi jilbab bagian wajah. Tapi itu semua tak membuatnya lelah, malah membuat nya merasa bahagia. Apalagi selagi bersih-bersih juga sembari ngobrol dengan Yuni.
Tak terasa lelah, walaupun semua mereka kerjakan. Dari nyapu, ngepel, lap kaca dan pintu, juga mencuci beberapa keset kaki yang sudah terlihat kotor.
"Nu, balik yuk ...." Ajak Yuni yang terlihat lelah, ia duduk bersandar di pilar. Jilbab segi empat nya sudah ia buka peniti nya di bagian bawah dagunya.
"Nanti, sebentar lagi." Ujar Anugrah. Ia tengah menerawang jauh ke jalan di depannya. Ia tengah memikirkan apa yang di bicarakan oleh sang Bapak sama calon mertuanya. Ia sungguh penasaran.
"Balik, saja Nu. Siapa tahu bapak wis balik. Nanti bisa kamu tanyakan sepuasnya." Kata Yuni. Ia tahu karena tadi Anugrah cerita kalau bapaknya tengah menemui Pak Runo.
Setelah istirahat beberapa menit akhirnya dua gadis itu pun pulang untuk membersihkan badan yang sudah lengket.
...----------------...
__ADS_1
Selesai dengan ritual nya, kini Anugrah tengah menunggu sang Bapak yang belum juga pulang. Duduk di ruang tamu dengan handuk yang masih membungkus rambutnya. Duduk dengan sang Mamak yang tengah membereskan dagangan Anugrah.
"Si, Ninik kalo beli, apa aja di lihat." Gerutu mamak kesal.
"Namanya juga orang beli, Mak. Ya gitu," ucap Anugrah yang tak memperhatikan Mamak apa lagi bantuin. Ia tetap saja melihat ke arah luar dari jendela. Namun yang di tunggu-tunggu kehadirannya belum juga muncul.
"Nu, kamu kok kayak lama, ya ... nggak telponan sama si Osin." Ujar Mamak yang langsung membuat Anugrah menoleh seketika.
"Tadi, Mama nya bilang. Sekarang anaknya jadi pendiam, terus nyuruh kamu nanyain, kenapa dia," mamak menoleh setelah semua barang sudah selesai di bereskan. Mamak tetap duduk di bawah dengan kaki yang selonjoran, lalu di pijat nya lutut yang terasa pegal.
Sebenarnya Anugrah agak terkejut saat mendengar kata Osin. Lama juga dirinya tak mendengar kabarnya, dan tidak tahu seperti apa sekarang sahabatnya itu.
"Nanti, coba, Nu tanyain." Kata Anugrah.
"Nggak makan dulu, kamu. Sebentar lagi Adzan Maghrib loh." Ujar Mamak.
__ADS_1
"Nanti, masih belum lapar. Bapak kok lama ya, mak ...." Anugrah berjalan ke kamarnya melepas handuk dan menyisir rambut panjangnya.
"Wong lanang juga sama, kalo sudah ngobrol ya nggak bakalan inget siapa-siapa." Jawaban Mamak masih terdengar dari kamar Anugrah.
"Kamu, belum makan pisgor nya, Nu ... keburu dingin." Kata Mamak lagi.
"Udah nyomot tadi," kini Anugrah sudah duduk di kursi lagi sembari mengikat tali jilbab instan nya di bagian belakang kepala.
"Kamu, tuh jangan di biasakan rambut basah di iket."
"Hm," Anugrah tak perduli lagi. Ia tengah mengotak-atik ponselnya.
Hingga adzan Maghrib berkumandang bapak nya belum juga terlihat, akhirnya Anugrah memutuskan untuk ke Musala duluan. Begitu juga Mamak.
Begitu sampai Musala, Anugrah dapat melihat bapaknya sudah duduk di atas sajadah dengan Pak Runo di sebelahnya.
__ADS_1
Anugrah menjep, sembari memakai mukenah nya, "ternyata bapak-bapak juga punya bestie." Gerutu nya kesal. Orang Bapaknya di tungguin bagaimana obrolan nya dengan bapak nya Keanu, ini malah sudah ada di Musala duluan.