Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
lupakan Perasaan


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Anugrah waktu itu, kini sudah saat nya Ujian. Setiap malam sehabis isya berjamaah, Keanu belajar di temani Anugrah.


Selama seminggu ini semuanya baik-baik saja, dan semakin dekat. Seperti layaknya teman.


Setelah pulang nya Cintia waktu itu, Anugrah memantapkan hati untuk biasa-biasa saja.


Tak ingin merenggangkan sebuah tali persahabatan, juga tak ingin menyakiti perasaan orang lain.


Jadi ia pikir, harusnya ia biasa-biasa saja. Awalnya sangat lah susah, saat berdekatan dengan orang yang kita sayang, tapi harus memendam rasa. Memperlakukan nya dengan biasa, selayaknya tidak ada rasa.


Tapi lambat-laun semuanya bisa ia lewati dengan mudah. Bukan rasanya pada Keanu yang hilang. Hanya saja ia mencoba untuk menahan, dan membiarkan.


Keanu menutup bukunya, memasukan kembali ke dalam tas nya.


"Akhirnya selesai yah Nu, 'doain ya supaya lulus tahun ini." Ujar Keanu.


"Aamiin," katanya singkat.


"Kenapa sih?"


"Jadi mau kuliah dimana?" Tanya balik Anugrah.


Kini keduanya duduk sila, saling berhadapan.


"Di Jakarta. Bapak sama Ibu sih nyuruh nya di Jogja kalau nggak di Bandung. Tapi aku tertarik di Jakarta."


Anugrah hanya mengangguk, lalu beranjak. Membenarkan rok panjangnya, dan mengambil sajadah dan mukena yang tergeletak di belakangnya.


"Udah selesai kan, aku pulang yah."

__ADS_1


"Aku anter." Keanu berdiri, dan mengikuti langkah Anugrah. Mematikan lampu, juga menutup pintu.


Anugrah tak menunggu, ia berjalan tak menengok kembali ke belakang.


"Cepet banget jalannya." Keanu mensejajarkan langkahnya.


"Udah nggak usah di anter nggak papa," Anugrah berhenti. Memasang senyum.


"Beneran?"


Anugrah lagi-lagi mengangguk.


"Ya udah deh, hati-hati. Sama satu lagi__"


"Apa?"


"Terimakasih, sama jangan kangen."


Tak bisa di pungkiri, ia merasa sedikit kecewa. Karena ternyata Keanu memilih ke Jakarta.


Tapi kembali lagi ia ingat tali persahabatan yang tidak boleh putus begitu saja hanya karena perasaan.


****


Hingga waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Keanu lulus dengan nilai yang memuaskan, walaupun tidak menjadi yang terpintar. Dan sudah mendaftar di Universitas keinginannya.


Anugrah dan Yuni tengah duduk di samping lapak Anugrah.


"Jadi beneran ya, jadinya ke kuliah di Jakarta?" Yuni memastikan.

__ADS_1


"He,em." Anugrah menjawab dengan anggukan kepala.


"Kenapa Nu," Fitri ikut nongkrong di samping Yuni.


"Yun, ciloknya dong dua ribu." Fitri memberikan uangnya, dan Yuni langsung berdiri menuju gerobaknya.


"Nggak papa Mbak, biasa aja aku mah."


"Ini Mbak," Yuni memberikan satu bungkus cilok isi empat untuk Mbak Fitri.


"Mengecil apa Yun?" Ucap Mbak Fitri, mulutnya sibuk mengunyah.


"Mahal mba kacangnya."


"Nggak usah pake bumbu kalo gitu Yun," Anugrah menimpali.


Matanya tetap sibuk, jarinya apa lagi. Grup chat lagi ramai. Ia pun jadi ikut meramaikan.


Keanu : Terimakasih ucapannya πŸ™


Anugrah : sami sami, aja kelalen traktirane.😁 (sama-sama, jangan lupa traktirannya.)


Reno: Iya, di sana nraktir Anu sama Yuni. Nanti kalau udah sampe sini tinggal nraktir aku sama Osin πŸ‘


Cintia: Iya Ren betul bgt. Eh nraktir aku bisa kpn aja. kan bareng2 satu kampus πŸ˜€


Keanu: kabuuuurrrr πŸƒ


Anugrah menutup ponselnya. Dan mulai menanggapi obrolan Mbak Fitri dan Yuni.

__ADS_1


Baiklah, mari kita lupakan perasaan wahai hati. Kita masih muda sudah saatnya kita untuk sukses. Mari sukses dan lupakan rasa, biarkan rasa menjadi urusan Tuhan.


__ADS_2