Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Jadi Pendiam


__ADS_3

Sesuai perjanjian malam ini empat manusia yang lelakinya hanya satu itu bertemu. Janjiannya sehabis Isya, setelah berjamaah di Mushola.


Karena lokasinya yang dekat, mereka berempat jalan kaki. Cintia sudah menunggu di dekat Taman.


Tiga temannya itu terlihat berjalan bersama, bahkan Keanu masih menggunakan sarung, juga kaos yang tadi ia pakai untuk salat.


Cintia melambai kan tangan, bukan karena sudah menyerah. Tapi untuk memberi tahu tiga temannya kalau ia sudah di sana, menunggu mereka.


"Cepet banget datangnya." Ucap Yuni, sembari memeluk tubuh sahabat nya itu.


Tadi siang ternyata Yuni libur, tidak bikin cilok. Jadi ia baru ketemu dengan Cintia.


"Aku lagi em jadi nggak bisa ikut ke Mushola," jawabnya.


"Nu, apa kabar?" Tanya nya pada Keanu.


"Apik, ayok."


Anugrah dan Yuni mengangguk, mereka berjalan ber-empat.


Anugrah sengaja berjalan di belakang dengan Yuni, Cintia terlihat jalan di samping Keanu.


"Jadi makan di mana kita?" Tanya Cintia.


"Aku nurut aja lah." Pasrah Yuni.


"Yang penting gratis ya Yun," ucap dua Anu secara bersamaan.

__ADS_1


"Acieee, cieee bisa yaa barengan gitu. hihi." Yuni menutup mulutnya.


Cintia terlihat kesal, "udah-udah. Malu jangan tertawa sambil jalan. Jadi kemana nih..."


Anugrah membungkam mulut Yuni yang suka ceplas-ceplos, Keanu menahan senyum.


"Di sana aja tuh, tempat biasa kita." Ujar Keanu.


"Katanya ada rekomendasi tempat baru."


"Belum buka."


Kini di tempat Bakso sembilan kosong mereka ber-empat duduk berhadapan. Tempat yang mereka datangi ini berlantai dua, dan mereka memilih di lantai atas, tempatnya lesehan.


Tempat yang dulu selalu jadi favorit mereka berlima. Setiap minggu mereka selalu makan di sana.


"Iya bener," Keanu mengambil ponselnya.


"Nggak di angkat, sibuk kayaknya." Keanu menaruh kembali ponsel nya di meja.


Anugrah mendadak jadi pendiam, sesekali hanya menjawab apa yang mereka bicarakan. Setelah pesanan bakso datang mereka sama-sama menikmatinya.


Yuni yang paling sering bertanya, demi menciptakan keceriaan di antara mereka. Yuni memang paling bisa untuk membuat suasana yang tegang jadi senang.


Sebenarnya yang tegang itu Anugrah, entahlah perasaannya mendadak dingin. Apalagi Cintia yang duduk di samping Keanu. Dan obrolan mereka nyambung, saat membicarakan tentang kampus, dan jurusan-jurusan yang akan Keanu pilih.


Yuni bisa ikut nimbrung di pembicaraan Keanu dan Cintia, tapi tidak dengan Anugrah.

__ADS_1


Ia jadi semakin insecure.


Anugrah paling-paling hanya menjawab dan memberi sedikit senyum untuk menanggapi.


"Rasanya bisa sama ya, nggak berubah dari masa ke masa." Kata Cintia.


"Iyalah Sin, kan ada resep nya jadi turun temurun rasanya sama." Ucap Yuni.


Kini mereka sedang duduk di bangku tamkot.(taman kota)


Setelah makan dan bayar, yang semuanya di bayar oleh Cintia. Mereka memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di Taman. Menikmati udara malam, sembari melihat lalu lalang kendaraan.


"Tahu dari mana kamu?" Tanya Keanu.


"Bisanya gitu Yan," jawab Yuni dengan polosnya.


"Sotoy!" Anugrah mendorong bahu Yuni.


Persahabatan memang susah untuk di jalin selama mungkin, apa lagi saat ada perasaan lain yang tumbuh di hati masing-masing.


Seperti membuat renggangnya hubungan. Padahal perasaan seperti cinta itu tidak bisa di paksa, apa lagi di suruh.


Seandainya di paksa untuk hilang pun akan lama sekali proses nya.


Anugrah menarik nafas, dan istighfar dalam hati. Membuka lebar-lebar mulutnya untuk tersenyum.


Ayo hati, semangat. Kita nggak boleh kayak gini. Bisik nya, menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2