Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Mamak Sakit


__ADS_3

Tangan nya dengan terampil membentuk bulat adonan, dan memasukkan nya ke dalam panci yang airnya tengah mendidih. Temannya yang baru datang dengan sigap membantunya, membantu mendorong kayu bakar yang apinya sudah keluar dari lubang tungku.


Yunita Riani, teman Anugrah itu memang lah pengusaha. Pengusaha cilok keliling. Tapi semua orang suka, karena rasanya tidak berubah. Selalu enak dari pertama bikin, kata orang-orang, pelanggannya yang kebanyakan anak-anak kecil.


Selain harganya yang murah, kenapa Yuni memilih jadi penjual cilok. Kerena modalnya cukup dengan uang sedikit.


"Jare arep cerita?"


(Katanya mau cerita?) Tanya Yuni, sebenarnya ia kesal kalau Anugrah datang pagi-pagi begini. Pasalnya ia jadi tidak selesai-selesai membuat cilok nya, sedangkan nanti niatnya ia ingin jualan di sekolahan waktu istirahat pertama.


"Nggak jadi deh, nanti aja lah ya. Nanti ngider ke pasar kan?"


"Ora, aku pan ider ning sekolahan SD."


(Nggak, aku mau jualan di sekolah SD.)


Anugrah manyun seketika. "Ya sudah lah, nanti malam saja, sehabis dari Mushola ke Tamkot yah?"


"Ya deh rebess..."


Anugrah sungkan, kalau cerita ada orang tua. Pasalnya Mama nya Yuni lagi di rumah. Lagi libur, katanya tidak kerja. Biasanya Mamanya Yuni bekerja di rumah tetangga, yang membutuhkan tenaga nya.


Akhirnya Anugrah pun pamit, pergi ke pasar. Tak perduli masih pagi, yang penting ia bisa duduk termenung meratapi nasib.


Hingga malam tiba, kini dua gadis itu sudah duduk di Tamkot. Angin sepoi-sepoi menggerakkan ujung jilbab segi empat yang di pakai Anugrah. Sedangkan Yuni, ia hanya memakai jilbab serut ukuran standar. Jilbab kesayangan katanya.


"Kenangapa koe?"


(Kenapa kamu?)


Anugrah menghela nafas nya pelan.


"Koe ngerti Mas Aldi kan?"


"Mas Aldi sing ndi? Aldiyanto?" Tanya balik Yuni, dengan polosnya.


(Mas Aldi yang mana? Aldiyanto?)


"Aldiyanti!" Jawab Anugrah kesal.


"Emang ada?"


"Ada, pacarmu!" Jawab Anugrah kesal.


"Ish, malah guyon."

__ADS_1


"Intinya Yun... Aldi katanya suka sama Inyong, lanjut, Mamak sama Bapak kaya jodohin aku gitu sama dia. Mamak bilang mereka udah tua, gitu."


"Aldi yang mana? Aku aja masih bingung."


"Ya Allah, nasib punya temen lemot kek gini amat ya."


"Yang anake Mbok Rintu, yang kerja serabutan itu loh!'' Lanjut Anugrah.


"Oh, ya, ya. Paham. Tapi lumayan loh Nu."


"Apanya yang lumayan?"


"Wajahnya, hehe lumayan guanteng!"


Lagi-lagi Anugrah menghela nafas. Niatnya kan Anugrah mau cerita. Ini sama Yuni malah di ajak becanda.


"Lanjut-lanjut. Masalah nya gimana? Kamu nggak mau? Udah punya cowok kamu?" Tanya Yuni lagi.


"Mmm aku nggak mau, bukan karena aku udah ada cowok Yun. Cuma ya aku belum siap aja. Aku nggak ada niatan buat nikah muda." Ucap Anugrah.


"Ish, kok aku malah pengin ya? Biar nggak usah kerja, tapi ada yang kasih duit."


"Ya emang segampang itu, Yun?"


"Ya, uis. Gini saja, kamu bilang baik-baik sama Mamak, sama Bapak."


Padahal belum tentu kan, mamak sama Bapak mau membicarakan itu lagi. Toh juga dirinya sudah bilang terang-terangan enggak mau.


Tadi pun saat di Mushola ia tak melihat Mamak nya, hanya melihat Bapaknya saja. Mamak sudah mulai rewang di rumah tetangga yang akan hajatan. Dan biasanya Mamak akan rewang sampai satu minggu.


Akhirnya Anugrah memutuskan untuk pulang, sedangkan Yuni ia mampir ke Indomei, ada yang mau di beli katanya.


Begitu sampai di depan rumahnya, ia memutuskan untuk duduk di teras rumahnya. Belum lama ia duduk, bapak keluar dan duduk di sebelahnya.


Anugrah menoleh, lalu tersenyum.


"Mau kopi pak?"


Bapak menggeleng kan kepalanya, "ora." Jawab bapak.


Anugrah mengambil tangan bapaknya, ia mengelus tangan yang kulitnya sudah mulai keriput itu. Menciumnya, dan menaruh nya di pipi kanannya.


Tak ada yang mereka bicarakan ataupun obrolkan, hanya sama-sama memandang jalanan.


Kepala Anugrah bersandar di bahu sang Ayah.

__ADS_1


Tubuh Bapak semakin kurus, kulitnya mulai keriput, di tambah lagi dengan rambut yang sudah mulai putih semua.


Mungkin keinginan bapak bukan hanya melihat anaknya menikah, tapi lebih tepatnya menikahkan anaknya, sebelum habis usianya.


•••••


seminggu berlalu ternyata obrolan tentang Aldi tidak lagi di bicarakan Mamak atupun Bapak. Mungkin karena Mamak sibuk rewang, atau memang mamak sudah melupakan. karena Anugrah tidak mau.


Selesai rewang, mungkin karena lelah juga Mamak jatuh sakit. Di ajak periksa sama Anugrah tidak mau, akhirnya Mamak hanya berbaring di kasur, minum obat warung saja.


Anugrah duduk di samping lapak, namun pikirannya dirumah, memikirkan Mamaknya. Hari ini Bapak kerja di kebun tetangga, jadi Mamak sendirian.


Hingga siang tiba, ia memutuskan untuk pulang. Dan menitipkan dagangannya kepada Siti seperti biasa.


Anugrah memakirkan motornya di depan rumahnya, ia lalu masuk tak lupa mengucap salam. Ia langsung masuk ke dalam kamar Mamak nya.


"Mak, sudah sembuh?" Anugrah duduk di pinggir ranjang.


Mamak masih berselimut dan berbaring miring, tubuh yang sudah dasarnya kurus semakin kurus begitu sakit.


"Mau makan?"


"Boleh deh, sedikit saja ya..."


Anugrah berdiri, lalu pergi ke meja makan. Mengambilkan nasi dan sayur bayam untuk mamak.


Menyuapi sang Mamak, juga memberikan obat, yang masih obat warung. Sesuai permintaan Mamak.


Perasaan Anugrah mendadak kacau, saat mengahadapi salah satu orangtuanya sakit, selalu merasakan ketakutan yang amat besar. Takut akan di tinggalkan.


Sampai sore tiba ia sudah waktunya menutup lapaknya. Ia tak begitu semangat, ia membereskan dagangan nya dengan pelan. Tiba-tiba ada tangan yang ikut membereskan dagangannya. Sontak Anugrah langsung menoleh.


"Tumben! Kalau mau bikin emosi, mending nggak usah bantu deh. Lagi nggak mood." Ucapnya pada seseorang yang sedang membantunya.


"Ihiiiiyyyyy dua Anu ce ilaaaah tumbeeen bangeet akur." Goda Kang Yono dari atas motor yang terparkir. Tepat di belakang lapak Anugrah.


"Nggak jadi deh." Ucap Keanu, yang tidak jadi membantu Anugrah. Malah berlalu menuju Kang Yono dan ngobrol.


Meninggalkan Anugrah yang melongo, melihatnya.


"Dasar wong edan! Niat bantu nggak sih." Kesalnya. Ia dengan asal memasukan barang dagangannya, tak memasukkan nya dengan rapi seperti biasanya.


Keanu memang sedang ngobrol dengan Kang Yono, tapi matanya tak lepas dari Anugrah. Ia tahunya Anugrah di jodohkan, seperti yang Yuni bilang lewat chat. Dan itu membuat Keanu bingung campur sedih juga. Ingin sekali ngobrol dan berbicara dengan Anu nya itu. Sayang nya ia bingung untuk memulainya.


•••••••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2