
Anugrah mematut dirinya di depan cermin yang ada di lemari nya, tangah memasang peniti di jilbab tepat di bagian bawah dagu nya. Selesai.
Ia sudah rapi dengan kulot hitam, tunik warna cokelat muda dan pasmina warna cokelat senada dengan tunik yang ia kenakan.
Mengambil tas selempang kecil memasang nya di pundak dan keluar kamar. Hari ini ia akan berangkat ke balai pertemuan di samping Balai Desa, tempat di adakan nya musyawarah.
Dengan menaiki motor kesayangannya, ia sampai di balai pertemuan tersebut, memakirkan motornya di tempat parkir yang tersedia. Anugrah menaruh helm nya dan turun, berbaur dengan para ibu-ibu yang sudah hadir duluan.
Tak begitu lama, acara di mulai dengan pembukaan dan seterusnya. Hingga di acara musyawarah yang sesungguhnya, dengan pembicaranya yang tak lain adalah Kepala Desa setempat.
Anugrah dan orang-orang yang hadir begitu memperhatikan setiap apa yang di ucapkan Kepala Desa mereka itu. Dan semua menurut apa kata Pak Kelapa Desa, termasuk Anugrah yang sangat senang. Karena ternyata semua pedagang lapak di pindahkan tanpa ada biaya yang keluar.
Walaupun tempat pindah nya bukan kios, tapi tempat nya lebih aman. Karena sudah terpasang atap dan lantai, dan meja lapak yang kokoh.
Anugrah dan para pedagang lain sudah tidak lagi kebingungan kalau hujan turun di siang hari, karena dagangannya sudah pasti terlindungi.
Begitu selesai musyawarah satu persatu orang yang datang mulai keluar, dan pulang. Anugrah masih duduk di pojokan, ia menunggu lengang. Tidak mau berdesak-desakan hanya untuk keluar dari gedung lebar itu.
Ia juga sembari bertukar pesan dengan sang pujaan hati, yang pasti memberi tahu tentang musyawarah yang ia hadiri itu.
Begitu sudah mulai lengang, ia keluar. Karena terlalu sibuk pada ponsel nya ia bertubrukan dengan seseorang yang juga akan keluar.
Bruk!
Ponsel Anugrah jatuh, begitu juga Anugrah saking kerasnya senggolan dari seseorang itu "maaf, Mbak." ujar seseorang itu, yang lantas mengulurkan tangan pada Anugrah yang terjatuh.
"Iya, nggak papa, saya juga minta maaf. Nggak lihat-lihat tadi," ucap Anugrah sembari mengambil ponselnya yang jatuh tak jauh dari dirinya. Lantas berdiri.
"Anugrah," ucap si penabrak itu.
Anugrah menoleh, setelah berdiri. Melihat baik-baik orang itu.
"Siapa, ya?" Tanyanya yang memang tidak mengingat, siapa orang yang ada di depannya.
Pria yang tadi menabrak Anugrah itu tersenyum sembari geleng-geleng kepala, "bisa-bisanya kamu lupa, Nugrah, Nugrah... Ck ck ck."
"Eh, aku serius. Siapa sih?" Anugrah semakin penasaran dengan pria yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
"Duduk dulu di sana, yuk. Mau nggak?" Tawar si pria itu.
"Ayo," Anugrah pun menjawab dengan antusias, karena ia begitu penasaran.
Dan duduk lah mereka di teras balai pertemuan, tepat di pojokan. Anugrah masih penasaran dengan orang yang duduk di sampingnya itu, sampai melupakan Mamak yang ada di lapaknya. Padahal ia udah janji kalau sudah selesai langsung ke pasar. Ini malah tergoda dengan orang yang entah siapa.
"Masih, belum ingat juga?"
"Nggak, mau kasih tahu ya udah. Aku balik." Kesal Anugrah.
"Hehe, Anwar. Sudah ingat?"
"Ya, Allah. Mas Anwar? Pangling banget aku, kemana aja selama ini? Ngilang gitu aja."
Anwar adalah kakak kelas Anugrah dulu, dua tingkat di atasnya. Walaupun hanya bertemu setahun kurang tapi Anwar selalu dekat dengan Anugrah. Di tambah lagi dulu Anugrah tidak mau mendekati Keanu, jadilah Anwar sasarannya agar Keanu kesal, dan menjauhinya.
"Ada, kok. Kamu aja yang sombong." Kata Anwar.
"Eh, kenapa jadi aku. Beneran loh, pangling aku, bisa keren gini." Kata Anugrah menelisik penampilan Anwar yang sudah berubah. Kini terlihat dewasa tapi keren. Dengan kulit dan wajah yang terawat. Sudah sebelas dua belas dengan Keanu. Dan tiba-tiba dia ingat Keanu juga.
Bisa bahaya kalau Keanu tahu dirinya tengah duduk dengan lelaki. Keanu memang jauh, tapi teman nya di sini banyak, jadi pasti akan mudah untuk Keanu tahu. Apa lagi kabar pemberian peningset waktu itu yang di upload oleh Bu Ranti jelas sudah di ketahui oleh masyarakat luas.
"Eh, ya sudah. Nu mau pamit ya Mas Anwar. Kasian Mamak di lapakku, kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi ya, kalau di kasih kesempatan." Kata Anugrah sembari berdiri.
Anwar pun ikut berdiri, "yah... Padahal masih pengin ngobrol, Nu."
"Assalamu'alaikum," ucap Anugrah pamit.
Anugrah membunyikan klakson motor nya, yang di jawab anggukan oleh Anwar.
Motor Anugrah sudah tak terlihat, tapi Anwar masih diam di sana memandangi jalan yang baru saja Anugrah lewati.
Senyum terukir di bibir Anwar, "makin cantik, kamu Nu."
*****
Anugrah sampai di lapak, Mamak terlihat duduk dengan bu Ranti, Fitri dan Siti. Entah apa yang mereka obrolkan mereka terlihat senang, dan tertawa.
__ADS_1
"Ngomongin aku, ya?" Ujar Anugrah setelah duduk di samping Mamak, tak lupa tadi dirinya salim dan mencium punggung tangan calon mertuanya.
"Ge-er," jawab Siti.
"Eh, kamu kenapa nggak berangkat?" Tanya Anugrah yang tadi memang dirinya tidak melihat Siti.
"Nggak ada yang jaga lapak, Nu. Semua orang sibuk," jawaban Siti membuat Anugrah menganggukkan kepalanya.
"Gimana, Nu?" Tanya Bu Ranti penasaran.
"Allhamdulillah Bu, kita di pindahkan dengan bahagia. Karena tidak di tarik biaya sedikitpun. Cuma ya, kayaknya pendapatan bakalan turun, karena di ujung sana kan tempat nya sepi, nggak kayak di sini, di sini kan tempat lalu lalang orang." Tutur Anugrah menjelaskan.
"Iya, ya Nu. Nggak mungkin kan orang sengaja mau beli dalam an harus ke sana, sedangkan di Toko sebelah sini juga banyak." Ujar Siti menambahkan.
"Ya, nggak papa Nu, Ti. Kan rezeki sudah ada yang ngatur. Jadi jangan khawatir." Ujar Mamak.
"Iya, Mamak bener banget. Apa lagi kalau sudah langganan Nu. Pasti bakalan di cari aja tuh si penjual kemana," kata Bu Ranti.
Sedang Fitri hanya diam tanpa membuka suaranya, ia hanya melihat ke arah mana mulut berbicara.
"Jadi kapan, kita pindahnya Nu?" Tanya Siti lagi.
"Minggu depan setelah semuanya siap, jadi yang pindah itu semua. Semua yang jualan di deretan sini," Anugrah menunjuk se-deret pedagang yang ada di pinggiran.
"Nanti di bagi, katanya. Penjual makanan jadi satu tempat, terus juga para penjual kayak kita ini." Terang Anugrah lagi.
"Oh, gitu. Ya lah nggak papa ya Nu."
"Ya, nggak papa, masa mama. Hehe, Eh Mbak Fitri kalem banget dirimu." Kata Anugrah yang menyadari dari tadi Fitri hanya diam.
"Tunggu, Nu. Aku pas tadi lihat kamu ke sini duduk kok heran banget, kamu sama Bu Ranti dateng-dateng salim cium tangan, lah sama Mamak kok enggak." Kata Fitri.
"Hahaha ketahuan durhakim nya kamu Nu," tawa Siti.
"Emang dasar, anak ini," Bu Ranti menepuk paha Anugrah.
"Pilih kasih ya Fit, belum apa-apa," ucap Mamak.
__ADS_1
"Hihi lupa, Mak, maap." Kata Anugrah sembari memeluk Mamak dari samping dan mencium pipi tirus yang sudah mengeriput.