Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Ada Apa Dengan Mamak?


__ADS_3

Sinar matahari belum terlihat, bahkan embun pagi pun masih ada, jalanan masih begitu sepi dan hawa dingin masih begitu terasa. Tapi Anugrah sudah jalan dari rumah mertuanya ke rumah Yuni-sahabatnya, ia akan memberikan uang yang Yuni pinjam untuk orangtuanya dan setelah itu ia akan ke rumah Mamak.


Keanu masih di rumahnya, ia tengah ngobrol dengan sang Bapak tadi saat Anugrah pamit. Begitupun ibu mertuanya yang tengah memasak sarapan. Anugrah tentu pamitan pada ibu mertuanya itu, dan meminta maaf karena tidak bisa membantu membuat sarapan. Bu Ranti-ibu-mertuanya jelas membolehkan dirinya untuk pergi, karena Ibu Ranti tidak masalah akan hal itu.


Setelah melewati jalan besar, Anugrah juga harus masuk ke gang kecil. Gang yang hanya cukup untuk dua motor saja. Ia terus saja berjalan sampai di depan rumah Yuni. Ia mengetuk pintu bagian samping, ia tahu kalau jam-jam segini pasti semua ibu-ibu tengah memasak untuk keluarga nya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam.


"Wa'alaikumsallam." Terdengar Mama Yuni menjawab dengan cepat.


Tak lama setelahnya pintu itu di buka dari dalam.


"Eh, koe, Nu." Kata Mama Yuni.


Anugrah tersenyum, "iya."

__ADS_1


"Sini, masuk, ada apa?" Tanya Mama Yuni. Mama Yuni tetap berdiri di tempatnya walaupun dirinya mempersilahkan Anugrah untuk masuk.


"Di, sini aja. Ini," Anugrah mengeluarkan uang dari saku celana nya. "Ada titipan dari, Yuni," ucapnya. Ia memberikan uang tersebut pada Mama Yuni.


"Oh, ya. Suwun ya, Nu," ucap Mama Yuni sembari mengambil uang dari tangan Anugrah.


Raut wajah Mama Yuni berubah cerah, mungkin pusing di kepalanya hilang karena obat nya sudah di kirim.


"Sama-sama, tak langsung pamit ya," ucap Anugrah. Mama Yuni pun mengangguk. Tak perlu lagi basa-basi menyuruh Anugrah untuk main dulu, karena Anugrah tidak mungkin mau. Karena selain tidak ada Yuni, di jam se-pagi itu Anugrah tidak mungkin main dengan percuma.


Akhirnya Anugrah kembali melanjutkan perjalannya menuju rumah Mamak. Sebenarnya tadi ia di suruh membawa motornya, tapi Anugrah ingin jalan kaki. Padahal sebenernya, Anugrah tak mau kalau nanti malah suaminya yang jalan kaki saat menyusulnya, jadi biarlah dirinya saja yang jalan kaki. Toh kalau masih pagi seperti ini, begitu menyenangkan dan menenangkan bukan jalan kaki. Bisa menghirup udara yang menyejukkan.


"Maaaaakkkk ...." Teriak Anugrah.


"Astaghfirullah, bocah ngagetin aja." Kesal Mamak.


Tadi Mamak tengah merenung di depan tungku, ia tengah memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya.

__ADS_1


"Hehe, maap. Lagian wong ada yang ucap salam ora di jawab." Anugrah lantas jongkok di samping Mamak, tangannya mendorong kayu bakar.


"Bapak, mana Mak?" Tanya Anugrah lagi, ia menoleh mencari-cari keberadaan Bapaknya.


"Belum balik dari Musala," jawab Mamak.


"Kenapa, sih Mak, kayak lagi nggak seneng. Anake pulang, malah di tekuk muka nya." Ujar Anugrah sembari menatap wajah sang Mamak.


"Ora. Eh, koe balik sendiri?" Tanya Mamak. Ia baru ingat kalau ternyata anaknya sendirian.


"Nanti, nyusul. Nu mau beresin barang-barang yang baru datang kemarin," ucap Anugrah. Mamak mengangguk.


"Mamak, masak apa?" Tanya Anugrah lagi, ia berdiri dan berjalan ke arah meja tempat menyimpan makanan yang sudah matang.


"Ngangetin sayur kemarin. Nggak ada kamu males masak, Nu," ucap Mamak. Mamak berdiri dan ikut berdiri di samping anaknya yang tengah membuka tudung saji dan melihat masakan yang sudah ia hangatkan.


"Wih, kalau yang di angetin sayur kulit melinjo sih tambah enak Mak," ucap Anugrah kegirangan. Karena tumis kulit melinjo adalah lauk kesukaan nya. Anugrah buru-buru mengambil piring dan membawanya ke depan tungku, ia tahu kalau di panci isinya adalah nasi yang tengah di hangatkan oleh Mamak.

__ADS_1


"Habisin, aja Nu, nanti Mamak masak lagi." Ujar Mamak. Wajah Mamak sedikit terlihat senang karena senyum terukir di wajah nya.


Anugrah membawa sepiring nasi dengan lauk tumis kulit melinjo ke ruang depan, ia makan di sana. Mamak datang dengan membawakan satu gelas besar teh hangat untuk putri tercintanya itu. Memperhatikan Anugrah makan dengan lahap, tak perduli pada dirinya yang tengah menatapnya sendu.


__ADS_2