
Sayup-sayup terdengar suara adzan. Dengan perlahan Keanu membuka matanya, hal yang pertama ia lihat adalah wajah cantik yang dua tahun ini menjadi istrinya. Senyumnya mengembang saat melihat istrinya tengah tidur di hadapannya, ia mencoba untuk mengusap pipi putih milik sang istri. Tapi seketika ....
Anugrah membalik badannya, memunggungi Keanu.
Keanu mengembuskan nafas kasar, istrinya masih marah. Dengan pelan Keanu memajukan badannya dan memeluk Anugrah dari belakang.
"Dek, kamu kenapa sih? Aku salah apa? Sampai kamu marah kayak gini?" Keanu benar-benar tidak tahu apa kesalahannya sampai istrinya mendiamkannya sampai sekarang.
"Ashar dulu, sudah Adzan!" Anugrah mengatakan hal lain, ia malah menyuruh suaminya untuk salat.
Tadi, setelah merasa enakan Anugrah memutuskan untuk pulang. Ia merasa ia butuh rebahan. Dan begitu sampai rumah ia malah mendapati suaminya yang tengah terlelap di kamar.
"Jawab dulu, kenapa? Baru aku bangun," ucap Keanu.
"Aku nggak kenapa-napa." Jawab Anugrah masih datar.
"Ya, terus kenapa sama aku dingin banget kayak gini? Aku nggak tahu apa salah aku sama kamu, sampai kamu diam dan seperti ini ke aku. Dek ... aku kangen banget sama kamu, aku nggak suka kamu yang dingin seperti ini. Sehari ini rasanya aku kayak hidup sendirian, tidak berarti apa-apa." Ujar Keanu.
Anugrah masih diam, ia masih membiarkan tangan suaminya di perutnya, masih membiarkan Wajah Keanu yang menempel di punggungnya. Jujur saja, apa yang Keanu rasakan itu juga yang di rasakan Anugrah. Tapi ... saat mengingat perasaannya rasa kesal itu kembali hadir.
"Kamu nggak ngerasa salah sama aku?" Tanya Anugrah. Bersamaan dengan itu air matanya menetes, ia merasakan sakit di hatinya. Apalagi jika sampai prasangka buruknya itu nyata.
"Aku, nggak ngerasa, Dek. Kamu bilang saja kalau memang menurut kamu aku salah, kamu kasih tahu aku salahnya apa?" Keanu pun meneteskan air mata, ia merasa ikut sakit saat mendengar suara Anugrah yang tertahan karena menangis.
"Siapa yang kamu telpon pagi tadi? Kenapa harus di luar sana?" Tanya Anugrah lagi.
Keanu yang tadinya membenamkan wajahnya di punggung istrinya seketika menjauhkan wajahnya, sedikit ke atas guna mensejajarkan kepalanya dengan kepala istrinya. Lalu memeluk erat kembali tubuh kecil istrinya.
__ADS_1
"Jadi, kamu kesal karena aku tadi pagi teleponan? Dek, tadi pagi aku telponan sama Zidan." Keanu malah gemas sekarang. Jika benar istrinya marah hanya gara-gara itu ia malah sangat bahagia, karena istrinya itu sudah cemburu.
Anugrah membalik badannya setelah melepaskan tangan suaminya dengan kasar.
"Kalau sama Zidan, kenapa harus di luar? Terus kemarin aku baca pesan di ponselmu, pesan yang menyebalkan menurutku, pesan yang kamu kirim ke nomor yang tidak kamu simpan!" Anugrah kesal sekarang.
Dan dari yang Anugrah lihat, Keanu terlihat kebingungan dan tengah berpikir untuk mencari jawaban.
"Oh, itu. Itu nomor temen, aku males 'kan kalau dia ngabarin terus, makannya aku suruh jangan hubungi aku kalau aku nggak hubungi dia duluan."
Anugrah masih belum percaya ia masih diam dengan wajah garang.
Keanu tersenyum, ia menghapus sisa air mata yang ada di pinggir mata istrinya sembari berkata, "Sayangku ... aku nggak akan macam-macam, untuk menyatukan perasaan kita saja butuh waktu yang sangat lama, jadi tidak mungkin aku menyia-nyiakan kamu begitu saja setelah mendapat kan kamu."
"Ya, sudah. Salat sana." Anugrah kembali memunggungi suaminya. Rasa percaya itu ternyata belum kembali utuh, ia masih ada rasa sedikit di bohongi.
Keanu akhirnya pasrah, ia bangun guna melaksanakan salat ashar.
Satu minggu berlalu, Anugrah masih kaku terhadap Keanu. Walaupun Keanu mencoba biasa-biasa saja tapi Anugrah masih dingin terhadap suaminya. Setiap pagi ia masih melayani suaminya dengan baik, menemani sarapan menyiapkan baju nya, tapi saat sudah ke Toko ia tak akan membalas pesan ataupun telpon dari suaminya.
Kedua Anu yang biasanya tertawa di depan mamak bapak pun sekarang sepi, keduanya hanya terlihat makan bersama tanpa senda gurau seperti biasanya.
Hari ini bahkan Anugrah tidak tahu kalau suaminya tidak berangkat ke sekolah, karena tengah tanggal merah. Anugrah tetap berangkat ke Pasar tanpa perduli pada suaminya yang masih di rumahnya.
Keanu berdiri di pintu yang terbuka, menatap perginya sang istri dengan motor kesayangannya.
"Yan?" Panggil bapak dari belakang Keanu.
__ADS_1
"Ya, Pak." Keanu membalik badannya dan duduk di samping Bapak, karena kini bapak sudah duduk di kursi.
"Si Nduk, kenapa? Bapak lihat-lihat kalian lagi aneh? Bukan bapak mau ikut campur Nu, hanya saja jika di perlukan 'kan Bapak bisa bantu." Ujar Bapak.
"Nggak ngerti aku, pak. Padahal kesalahpahaman sudah tak jelaskan. Tapi Anugrah masih kesal juga."
"Salah paham soal apa, memangnya?"
"Pesan yang aku kirim ke Mbak Nadia ternyata belum aku hapus semua pak, dan Nugrah baca. Di tambah lagi pas pagi-pagi aku bicara sama Mbak Nadia dia tahu, kayaknya. Aku sih sudah mencoba berkilah Pak, supaya Nugrah tidak tahu, tak bilangin kalau aku ngobrol sama Zidan, terus itu pesan dari temen. Tapi Nugrah kayaknya tetap nggak percaya." Keanu terlihat putus asa.
"Ya, sudah kamu jujur saja kalau gitu." Saran Bapak.
"Ya, nggak bisa gitu dong Pak. Sudah setengah jalan masa di gagalkan," ucap Keanu.
"Haha," bapak tertawa melihat tingkah menantunya yang terlihat menyedihkan karena di cuekin anaknya. "Dari pada, kamu tersiksa Yan," ucap Bapak lagi.
"Iya, Yan. Jujur saja lah, takutnya nanti si Nduk keburu marah besar, terus keluarlah kalimat yang tidak mengenakan. Kamu tahu sendiri Anugrah kalau sudah marah banget kayak gimana." Ujar Mamak yang keluar dan ikut duduk di ruang tamu bersama suami dan menantunya.
"Sebentar lagi, padahal Mak." Ujar Keanu lagi.
"Ya, terserah kamu kalau gitu. Siap menanggung resiko saja. Ya nggak Pak?"
Bapak mengangguk setuju.
Bapak lantas menepuk pundak menantunya itu, "makasih ya ... sudah begitu baik sama si Nduk."
Keanu mengangguk dan tersenyum, "makasih juga Pak, sudah mempercayakan Kean buat jadi suami Anugrah."
__ADS_1
"Ya, sudah lah. Kean tak ke 'sana ya Pak. Bapak mau ikut lagi?" Tawar Keanu.
"Ora, bapak mau ke kebun sama Mamak mu. Sudah panjang-panjang rumput nya, sudah kayak hutan saja." Kata Bapak.