Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Ternyata


__ADS_3

Makan sudah, nyuci piring sudah. Kini Anugrah tinggal membereskan barang-barang dagangannya yang baru datang. Sudah jadi biasa untuk di kirim ke rumah, jadi Anugrah tak ingin mengganti alamat pengiriman dengan alamat Toko nya.


Setiap barang ia cek satu persatu, ia cocokkan dengan pesanan nya. Dan setelah selesai ia bereskan kembali agar mudah untuk di bawa ke Pasar.


Jam sudah setengah delapan, tapi suaminya belum juga datang. Akhirnya setelah selesai membereskan dagangannya ia duduk di teras. Memperhatikan bapaknya yang tengah menyapu halaman. Bapak yang melihat putrinya duduk hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan kegiatannya kembali. Sedangkan Anugrah hanya tersenyum pada sang bapak.


"Ambilkan korek, Nduk!" Perintah Bapak pada Anugrah.


"Ok, boss!" Ujar Anugrah yang lantas berdiri dan masuk ke dalam. Tak lama setelahnya ia sudah dapatkan korek itu, ia memberikannya pada Bapak yang sudah mengumpulkan daun-daun kering jadi satu gunungan.


"Bau, Pak. Nanti cucian," ucap Anugrah.

__ADS_1


"Lah, dari pada halaman nya kotor," kata Bapak. Ia memulai membakar sampah daun kering tersebut.


"Ya, ya Pak. Dari pada halaman kotor, mending para cucian yang bau." Ujar Anugrah.


"Sudah, lagian nggak ada bajumu 'kan? Cuma baju bapak sama Mamak, aman." Kata Bapak santai.


Padahal di belakang merek ada Mamak yang tengah berkacak pinggang kesal. Karena ulah suami nya itu, baju yang baru ia jemur harus bau sangit karena asap dari bakar sampahnya.


Anugrah menyingkir ia tak mau kalau badannya juga ikut bau, karena ia sudah mandi dan sudah siap untuk ke Pasar. Ia mendekati Mamaknya yang tengah memasang muka garang di balik wajahnya yang sudah keriput.


Bapak pun mendekat, "halah. Nggak usah kesel-kesel lagian cuma baju dinas kebun, nggak ada baju pergi nya 'kan. Nggak ada masalah lah." Ujar Bapak dengan santai dan memberikan sapu lidi yang barusan ia pakai pada Istrinya.

__ADS_1


Mamak menarik nafas kesal sembari membawa masuk sapu lidinya.


Bapak mengajak Anugrah duduk di teras kembali, sembari menunggu suaminya datang.


"Mamak lagi, sensi perasaan." Ujar Anugrah lirih. Ia menoleh ke belakang takut-takut kalau ada Mamaknya di belakang.


"Kemarin, Mamak cerita." Kata Bapak.


Anugrah menggeser duduknya, agar lebih dekat pada sang Bapak. Ia mendongak sedikit agar bisa melihat wajah bapak nya yang sudah tua.


"Katanya, di arisan RT pada ngomongin kamu, karena sudah menikah dua tahun tapi belum di karuniai keturunan. Mereka pada ngomong karena keturunan. Mamak kayak ngerasa bersalah, Nduk." Ujar Bapak. Bapak melihat wajah putrinya yang tengah tersenyum masam menanggapi cerita nya.

__ADS_1


"Yang pada cerita nggak tahu, kalau Mamak ternyata sudah di dalam, soalnya Mamak ikut ngebantu masak di sana, dan pas mereka tahu kalau Mamak sudah ada di sana, mereka langsung diam. Mamak nangis Nduk malam-malam, sedih sekali Mamak. Sampai nggak mau Magrib an di Musala." Tutur bapak lagi.


Anugrah tetap diam, ia benar-benar mendengarkan apa yang Bapaknya ceritakan. Dan Anugrah merasakan sakitnya, sakit hatinya. Kenapa? kenapa hanya masalah belum memiliki anak saja sampai se-sakit ini rasanya. Sampai se-heboh ini, semua orang membicarakannya. Jujur saja, Anugrah tak tahu harus jawab apa, akhirnya ia hanya diam dan tersenyum juga menghapus titik bening yang keluar begitu saja dari matanya.


__ADS_2