
Menunggu memang membosankan, tapi mau bagaimana lagi itu sudah harus terjadi. Seperti Anugrah yang menunggu suaminya. Tidak mudah selama ini Anugrah menjaga dirinya, bukan menjaga dari lelaki penggoda. Tapi dari omongan para tetangga.
Selama dua tahun ini, beberapa kali memang Keanu pulang. Tapi selama dua tahun ini juga dirinya belum mengandung. Padahal Anugrah tidak masalah, Keanu pun seperti itu. Tapi entah kenapa orang lain yang harusnya memberi dukungan malah hanya memberi kata-kata yang membuat hati patah.
"Udah isi belum Nu? Lah, yo lama. Dulu Mamak saja Lama."
Kalimat seperti itu sering kali Anugrah dengar, baik secara terang-terangan, ataupun di belakangnya.
Sekali, dua kali Anugrah masih biasa-biasa saja tak terpengaruh sedikitpun. Tapi nyatanya lama-kelamaan ia jadi kepikiran akan itu. Bagaimana jika sampai tua ia baru di karuniai putra? Bagaimana kalau nanti keluarga suaminya marah padanya? Dan bagaimana-bagaimana yang lainnya.
Bukan tak pernah membicarakan ini, hanya saja Keanu tak suka jika yang di bahas adalah soal Anugrah yang belum hamil. Karena sebenarnya Keanu belum ingin, ia masih ingin berdua saja. Karena dari setelah menikah, sampai sekarang belum banyak waktu yang ia miliki untuk berdua dengan istrinya.
Duduk di Kursinya Anugrah terbengong. Kini, dirinya sudah tidak lagi dagang di lapak. Ia sudah bisa membeli kios di Pasar, dengan uang hasil kondangan dirinya dan Keanu, juga di tambah dari sedikit tabungannya serta tabungan Keanu. Yang jelas, Anugrah dan Keanu setengah-setengah.
Kini dirinya bukan hanya menjual da la man, tapi semua ia jual. Dari pakaian, sampai tas dan sepatu. Dan pembelinya lumayan banyak, karena dari yang awalnya langganan da la man, sekarang jadi langganan baju di Anugrah. Setiap hari tak pernah sepi, karena biasanya orang akan datang ke Toko karena sudah melihat daftar harga setiap barang-barang dagangan lewat postingan-postingan Anugrah.
Anugrah ditemani satu orang, ia tak pernah mau menyebut orang itu karyawannya. Namanya Mbak Ningsih, Ibu-ibu tiga puluh lima tahun yang anaknya sudah besar. Sudah Sekolah Menengah Ke Atas anaknya, dan yang kecil sudah SMP.
__ADS_1
"Nu, hape nya bunyi itu," kata Mbak Ningsih. Memberitahu Anugrah yang tengah terbengong menyangga dagu.
"Ah. Ya," ia sedikit terkejut.
Anugrah melihat sekeliling, ada sekitar empat orang yang tengah memilih-milih, dan suasananya lumayan ramai karena Pasar. Tapi entah karena bengong ia jadi merasa sepi.
Ponselnya berbunyi kembali, Anugrah segera menjawab panggilan yang ternyata dari Ibu Ranti, mertuanya.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa nya.
"Ibu, di mana?" Anugrah menegakkan duduknya.
"Di, Toko."
"Ya, Nu ke sana,"
Setelah ponsel di matikan, Anugrah pamit pada Mbak Ningsih. Ia berjalan dari Toko nya ke Toko mertuanya, yang sebenarnya adalah Toko suaminya.
__ADS_1
Tak begitu jauh dari Toko nya, karena masih dalam satu deretan, hanya saja punya Anugrah deretan ke dalam. Jadi bisa di bilang ada di belakang Toko Ibu mertuanya.
Sampai di sana Anugrah langsung masuk, terlihat Mbak Fitri tengah melipat pakaian dan memasukannya ke dalam wadah.
"Ibu, mana Mbak?" Tanya Anugrah langsung.
"Ya, Allah. Ngagetin aja sih Nu." Kesal Mbak Fitri.
"Lagian, wong jualan kok kagetan," Anugrah duduk di bawah di samping Mbak Fitri. Ia ikut membantu sembari menunggu ibu mertuanya.
"Ibu, lagi di panggil bu Hajjah sebentar, katanya kamu suruh nunggu." Terang Mbak Fitri.
"Mbak, kamu dulu setelah menikah, lama nggak ke hamil nya?" Tanya Anugrah pelan tanpa melihat wajah Mbak Fitri. Ia tetap fokus pada baju-baju yang ia lipat.
"Kenapa, kamu? Sudah jangan di tanggapi yang kayak gitu, santai saja Nu, nanti kalau sudah saatnya, ya di kasih." Mbak Fitri seolah tahu kemana pembicaraan Anugrah.
Anugrah menggaruk kepalanya, lalu menarik jilbabnya agar ke belakang sedikit.
__ADS_1