
Pagi ini begitu cerah, setelah hujan lebat kemarin sore. Anugrah tengah sibuk menjemur pakaian yang baru saja ia cuci.
Sibuk tangannya tak memperdulikan seseorang yang kini tengah tersenyum manis melihatnya.
Begitu selesai air yang masih tersisa di ember bekas pewangi ia buang sekuat tenaga ke arah belakang nya, di mana biasa nya ia menyiramnya ke jalan.
Byuuuurrrrr...
"Anuuuuuu!!!" Teriak Seorang itu.
"Astaghfirullah," ucap nya. Ia pun terkejut, langsung menjatuhkan ember nya lalu menutup mulutnya.
Selanjutnya ia malah tertawa puas melihat Keanu basah kuyup karena air yang tak sengaja ia siramkan.
"Hahaha, lagian kamu ngapain di situ..."
Keanu mengusap wajahnya yang basah, baju seragam nya kini basah tak tersisa.
"Hahaha, jadi wangi kan... Haha untung wangi loh. Nanti di sekolah jadi banyak yang nempel hahaha."
Bukan minta maaf atau merasa bersalah, Anugrah malah masuk ke dalam.
Keanu tersenyum melihat Anugrah tertawa lepas. Ia masih diam di sana. Tak lama Anugrah keluar dengan handuk punyanya yang baru ambil dari lemari.
"Nih," ucapnya sembari menyodorkan handuk tersebut. Tapi senyumnya masih tersungging manis di bibirnya.
__ADS_1
"Buat kamu aja ni," Keanu memasangkan handuk ke tubuh Anugrah.
"Kalau pake jilbab itu jangan setengah-setengah, masa cuma sampai siku doang. Mana pake nya kaos pendek lagi." Ujarnya panjang lebar.
"Ih apaan sih, ya kan habis nyuci jadi aku pake nya baju lengan pendek."
"Ya udah aku balik, mau ganti."
Anugrah memegangi handuk yang menutupi punggung sampai setengah lengannya. Matanya menatap kepergian Keanu yang semakin tak terlihat.
•••••••
Terkadang cinta memang aneh, apa lagi saat berhadapan dengan sebuah pilihan. Seperti Anugrah, saat dirinya memang mengakui perasaannya pada seseorang, ia di hadapkan dengan pilihan menghargai perasaan sahabatnya, di tambah lagi mungkin memang tidak boleh menyatu karena status sosial.
Menurut Anugrah, dari pada dirinya bahagia di atas patah hati sahabatnya. Mending dirinyalah yang mengalah.
Begitu habis, daunnya ia re mas lalu ia lempar ke tempat sampah. Tepat sasaran.
"Anuuuuugraaaahhh...."
Teriak seseorang yang langsung bisa ia tebak itu siapa.
Anugrah berdiri, tangannya ia rentangkan.
"Osiiiiinn..." Osin adalah panggilan akrab untuk Cintia.
__ADS_1
Sahabat yang sudah lama tak bertemu itu berpelukan layaknya Teletubbies.
"Ya Allah, kapan sampai kamu?" Tanya Anugrah begitu pelukan mereka terlepas.
"Aku sampe semalem, pas ujan baru reda."
"Duduk-duduk, Ya Allah makin glowing kamu."
"Bisa aja kamu,"
Cintia duduk di kursi Anugrah, Anugrah lalu duduk di depannya, duduk di lantai beralaskan sobekan kardus.
"Jadi gimana? Perkuliahan? Ada liburnya juga?" Tanya Anugrah basa-basi. Jauh dalam lubuk hatinya ia menyayangkan kepulangan Cintia yang ternyata begitu cepat.
"Ya adalah Nu, kangen Ya Allah. Yuni nggak ngider ke sini?"
"Nanti siang sih kayaknya."
Berdua larut dalam obrolan manis antara dua sahabat. Berbicara ngalor-ngidul kemana saja.
Sampai bercerita tentang satu orang pujaan, yang di puja dua orang yang sedang berhadapan itu.
Anugrah bercerita dengan tenang, dengan tertawa. Menyembunyikan perasaan sesak di dadanya. Menceritakan kelucuan sahabatnya yang masih tinggal di desa, dengan dirinya.
Bahkan menceritakan Keanu yang tadi pagi ia siram dengan air bekas cucian baju.
__ADS_1
Kadang cinta seindah ini, menceritakan dengan mengingatnya saja aku sudah bahagia. Apalagi kalau melihat dirinya bahagia. Aku yakin, aku akan lebih bahagia, walaupun nanti bahagianya bukan denganku. Batin Anugrah.
Bersambung