Ketika Dua Anu Jatuh Cinta

Ketika Dua Anu Jatuh Cinta
Perhatian Mamak


__ADS_3

Panggilan tersambung namun belum kunjung mendapat jawaban sampai dua lelaki yang katanya tengah ke masjid itu pulang. Buru-buru Cintia akhiri panggilan yang tak di jawab itu. Ia juga buru-buru memberi kabar kalau tak jadi telepon begitu juga dengan alasan nya.


Bapak dan Keanu masuk, lalu duduk. Cintia dan Ibu Ranti turut duduk di sana.


"Ke Masjid mana, Nu?" Tanya Cintia.


"Ujung sana," ucap Keanu menunjuk arah luar.


"Enak, ya kontrakan mu Sin, di sini ramai." Ujar Bapak.


"Iya, Pak. Makanya begitu keterima kerja langsung ngontrak di sini," terang Cintia.


"Beruntung ya, Sin. Begitu selesai langsung dapat kerjaan." Kata Bu Ranti.


Mas Yuda yang tertidur di sana merasa terganggu dengan obrolan orang-orang, ia pun menggeliat dan duduk.


"Kenyang, Mas?" Tanya Keanu dengan senyum yang lebar.


"Soalnya ada temen juga, Bu. Jadi mudah untuk di terima di perusahaan itu," tutur Cintia.


"Kaya kamu, ya Yan. 'Kan langsung dapat kerja," ucap Cintia.


"Kalau aku, berkat Bapak. Bapak yang sudah tahu perhitungannya." Ujar Keanu.


Bapak tertawa di sebelahnya menepuk paha sang anak. "Itu, satu kardus besar, titipan dari Ninik Sin, buat kamu."


"Iya, Pak. Makasih ya udah di bawain. Oya, tadi Osin beli makanan, ayo kita makan dulu, sebelum ketabrak waktu magrib." Cintia lantas berdiri dan mengambil makanan juga minuman yang tadi ia beli.


"Jadi, ngerepotin Sin," Ibu Ranti menyusul.


"Cuma, makanan kayak gini bu, Osin nggak bisa bikin sendiri," ucap Cintia.


Di ruang tamu Mas Yuda beranjak dan pamit ke kamar mandi, tinggalah Keanu dan bapaknya saja. Wajah Keanu kembali sendu, mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik layar ponselnya.


"Kenapa, Yan?"


"Hape Mamak, malah nggak aktif Pak. Serius aneh banget, seharian nggak denger suaranya," ucapnya jujur.


"Besok 'kan kita balik, jadi jangan gundah seperti ini. Atau sebenernya, kamu kecewa karena Anugrah nggak ikut?"

__ADS_1


"Enggak tahu, Pak. Kean udah coba buat ikhlas, kalau memang Nugrah nggak bisa ke sini, tapi di tambah nggak kasih kabar rasanya kayak, aneh banget Pak."


Obrolan keduanya terhenti saat Ibu dan Cintia membawa makanan, dan Mas Yuda pun sudah selesai dari kamar mandi. Semuanya lanjut makan makanan yang di beli oleh Cintia.


***


Yuni dan Anugrah yang sudah segar tengah duduk di depan kamar Yuni, ada Reno juga di sana. Itulah yang menyebabkan Yuni tak membawa ponselnya, ia tengah asyik ngobrol dengan dua orang tersayang nya.


Apalagi Anugrah sudah segar, jadi sudah kembali seperti semula.


"Mosok ya ... ke Jakarta aja ma bok Ren, kan wagu." Kata Yuni.


"Maaf, kali ini aku bela Nugrah," Reno mengangkat kedua tangannya.


"Enggak papa ya, Nu. 'Kan setiap orang beda-beda, ya nggak Nu," ucap Reno lagi.


Anugrah langsung mengajak tos dan melet ke arah Yuni.


"Ih, nggak asik nih. Kayak nya Reno lagi takut nih, sama Anugrah, takut nanti di adu in ke Kean," ucap Yuni.


"Iya, memang. Haha Tahu aja sih." Reno tertawa.


Yuni bangun dari tempatnya dan masuk mengambil ponselnya, lalu keluar lagi sembari mengotak-atik ponselnya. Ia lalu duduk di tempat semula.


"Tadi, Osin telpon Nu, tapi nggak jadi ternyata." Jelas Yuni.


Anugrah menggeser duduknya dan melihat ponsel Yuni.


"Udah, telepon Mamak dulu aja." Perintah Anugrah.


"Baik, bos!" Jawab Yuni.


Reno jadi penonton di sana, melihat kedua wanita yang sama-sama sibuk melihat ponsel.


Tut ... tut ... tut.


"Halo," ucap Mamak di sebrang sana.


"Halo, Mak, ini Nu," ucap Anugrah.

__ADS_1


"Oh, ya wis butul koe?" (sudah sampai kamu?")


Suara mamak terdengar senang di sebrang sana.


"Sudah, Mak. Sudah lama tapi aku ma bok, Mak jadi pas sampai nggak bisa langsung kasih kabar," jelas Anugrah.


"Ya, Allah. Tapi sekarang sudah nggak papa 'kan? Kupat nya di makan nggak?" tanya Mamak.


"Boro-boro mikir buat makan, Mak. Di mobil pusing banget, mual banget, nggak kepengin makan." Kata Anugrah lagi.


Reno dan Yuni hanya tersenyum mendengarnya.


"Si Kean, telpon-telpon terus, Nu. Ya Allah baru kali ini ya anak muda aneh-aneh aja, wong tinggal bilang saja mau ke sana, pake acara bohong segala, jadi bikin Mamak bohong aja." Omel Mamak.


"Hehe, namanya surprise Mak," ucap Anugrah.


"Bapak Mana, Mak?" Tanya Anugrah, karena ia tak mendengar suara bapaknya.


"Embuh, kemana. Mamak nggak enak makan, Nu. Kamu nggak di rumah," ucap Mamak lagi.


"Makan saja, yang enak Mak. Nu baik-baik saja kok. Malah makanannya di sini enak-enak." Ujar Anugrah bohong. Pasalnya di hadapannya kini hanya ada beberapa cemilan dan ketupat yang ia bawa. Yang tengah di makan Reno.


"Ya syukurlah, kalau gitu. Jangan lama-lama ya di sana, kalau udah selesai ajak suamimu balik. Mamak nggak mau di tinggal kamu lama-lama." Ujar Mamak jujur.


"Iya, Mak. Salam ya buat Bapak, Assalamu'alaikum," pamit Anugrah.


"Iya, wa'alaikumsallam."


Panggilan pun di akhiri.


"So sweet," ucap Yuni. "Aku kalau telponan sama Mama ku cuma di tanya, kapan gajian Yun, nggak kirim-kirim, gitu." Ujar Yuni.


"Haha, derita mu." Anugrah memberikan ponsel Yuni padanya.


"Ayam goreng, mamak selalu enak ya, Nu." Kata Reno yang tengah sibuk makan ketupat dan Ayam goreng.


"Ya, silakan di makan lah," ucap Anugrah.


"Nanti, malam Cintia nggak jadi ke sini katanya, soalnya Bapak mertuamu sama Mas Yuda nginep nya di kosan Kean, Bu Ranti sendirian." Jelas Yuni setelah membaca pesan dari Cintia.

__ADS_1


"Iya, nggak papa." Kata Anugrah.


__ADS_2